Konten dari Pengguna

Reproduksi Aseksual pada Hewan: Pengertian, Ciri, dan Jenisnya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi hewan dengan reporduksi aseksual. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hewan dengan reporduksi aseksual. Foto: Unsplash

Reproduksi merupakan salah satu ciri utama makhluk hidup untuk mempertahankan keberlangsungan spesiesnya. Pada umumnya, kita mengenal dua jenis cara berkembang biak pada hewan, yaitu secara seksual (melibatkan jantan dan betina) dan aseksual (tanpa peleburan sel kelamin). Dalam artikel ini, kita akan membahas secara lengkap tentang reproduksi aseksual pada hewan, mulai dari pengertian, jenis-jenisnya, hingga contoh spesies yang melakukannya di alam.

Daftar isi

Pengertian Reproduksi Aseksual pada Hewan

Reproduksi aseksual adalah proses perkembangbiakan yang terjadi tanpa adanya peleburan antara sel jantan (sperma) dan sel betina (ovum). Artinya, keturunan yang dihasilkan berasal dari satu induk saja dan secara genetik identik dengan induknya.

Menurut National Center for Biotechnology Information (NCBI), reproduksi aseksual sering ditemukan pada hewan tingkat rendah seperti spons, ubur-ubur, dan cacing pipih. Namun, beberapa hewan tingkat tinggi juga dapat melakukannya dalam kondisi tertentu, seperti kadal atau lebah.

Ciri-Ciri Reproduksi Aseksual pada Hewan

Hewan yang berkembang biak secara aseksual memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya dari reproduksi seksual. Berikut di antaranya:

  • Hanya melibatkan satu individu sebagai induk.

  • Tidak terjadi proses fertilisasi (pembuahan).

  • Keturunan memiliki susunan genetik yang sama dengan induk.

  • Prosesnya berlangsung lebih cepat dibandingkan reproduksi seksual.

  • Biasanya terjadi pada hewan tak bertulang belakang (invertebrata).

Proses ini sangat menguntungkan di lingkungan yang stabil, karena memungkinkan spesies memperbanyak diri dengan cepat tanpa harus mencari pasangan.

Jenis-Jenis Reproduksi Aseksual pada Hewan

Reproduksi aseksual pada hewan memiliki berbagai mekanisme, tergantung pada jenis dan struktur tubuh hewan tersebut. Berikut beberapa bentuk utamanya:

1. Tunas (Budding)

Pada metode ini, individu baru tumbuh dari tunas atau tonjolan kecil di tubuh induk. Setelah tumbuh sempurna, tunas tersebut bisa melepaskan diri dan menjadi individu baru. Contohnya, Hydra dan ubur-ubur (Obelia).

Menurut University of California Museum of Paleontology, proses pembentukan tunas pada hewan air dapat terjadi berulang kali dalam waktu singkat, menghasilkan koloni besar.

2. Fragmentasi (Fragmentation)

Fragmentasi terjadi ketika tubuh hewan terpotong menjadi beberapa bagian, dan masing-masing potongan mampu tumbuh menjadi individu baru. Contohnya, cacing pipih (Planaria), bintang laut, dan beberapa jenis teripang.

Proses ini sangat efisien karena satu hewan bisa menghasilkan banyak keturunan hanya dari bagian tubuhnya. Namun, tidak semua hewan bisa melakukannya, hanya yang memiliki kemampuan regenerasi tinggi.

3. Partenogenesis (Parthenogenesis)

Partenogenesis adalah bentuk reproduksi aseksual di mana telur yang tidak dibuahi dapat berkembang menjadi individu baru. Contohnya ada lebah, semut, kutu daun, komodo, dan beberapa jenis kadal.

Menurut penelitian dari Smithsonian Institution, partenogenesis pada komodo terjadi ketika populasi betina tidak memiliki jantan di sekitarnya. Dalam kondisi ini, betina bisa menghasilkan keturunan yang seluruhnya berjenis kelamin jantan, sehingga memungkinkan regenerasi populasi.

4. Pembelahan Biner (Binary Fission)

Jenis ini umum terjadi pada hewan bersel satu seperti protozoa (Amoeba, Paramecium, dan Euglena). Dalam prosesnya, sel induk membelah diri menjadi dua sel anak yang identik secara genetik.

Menurut ScienceDirect Journal of Cell Biology, pembelahan biner berlangsung sangat cepat (hanya dalam waktu beberapa jam) dan populasi dapat berlipat ganda. Inilah sebabnya mengapa protozoa sering berkembang pesat di lingkungan lembap dan kaya nutrisi.

Baca juga: Cara Cacing Tanah Berkembang Biak dari Awal hingga Menetas

(NDA)