Konten dari Pengguna
Sejarah Alat Komunikasi Tradisional Kentongan di Indonesia
24 Oktober 2025 10:46 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Sejarah Alat Komunikasi Tradisional Kentongan di Indonesia
Cari tahu informasi tentang sejarah alat komunikasi tradisional kentongan di Indonesia dalam uraian ini. Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Kentongan merupakan salah satu alat komunikasi tradisional paling ikonik di Indonesia yang telah digunakan sejak zaman kerajaan-kerajaan Nusantara. Alat sederhana berbentuk tabung kayu atau bambu berongga ini memiliki peran vital dalam sistem komunikasi masyarakat sebelum hadirnya teknologi modern seperti telepon dan internet. Bunyi nyaring yang dihasilkan dari pukulan kentongan mampu menjangkau jarak cukup jauh, menjadikannya media komunikasi massal yang efektif untuk menyampaikan berbagai informasi penting kepada warga dalam satu wilayah. Artikel ini akan membahas sejarah alat komunikasi tradisional kentongan di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Asal Usul Kentongan dalam Legenda Cheng Ho
Dalam buku Dunia Komunikasi dan Gadget karya Syerif Nurhakim, dijelaskan bahwa sejarah kentongan telah ada dalam legenda Laksamana Cheng Ho dari China yang mengembara dengan misi keagamaan pada tahun 1405-1433 M.
Dikisahkan bahwa Cheng Ho menemukan kentongan sebagai alat komunikasi ritual keagamaan selama perjalanannya. Di Indonesia sendiri, kentongan ditemukan ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah di Nusa Tenggara Barat berkuasa sekitar abad XIX, di mana ia menggunakannya untuk mengumpulkan massa dalam berbagai keperluan pemerintahan.
Kentongan di Era Kerajaan Jawa
Kentungan telah dipakai sejak zaman kerajaan Demak, Mataram, Surakarta, dan Yogyakarta. Di Yogyakarta ketika masa kerajaan Majapahit, kentongan Kyai Gorobangsa sering digunakan sebagai pengumpul warga.
ADVERTISEMENT
Budayawan Putut Nugraha menjelaskan bahwa pada masa peradaban Majapahit di abad ke-13 hingga ke-16 Masehi, alat komunikasi yang digunakan masyarakat masih sederhana namun efektif.
Kentongan, bende, atau lesung menjadi media komunikasi broadcast yang menjangkau umum, di mana bunyi-bunyian yang dihasilkan membuat masyarakat berkumpul untuk mendengar pengumuman penting.
Bentuk dan Karakteristik Kentongan
Dalam e-jurnal Alat Komunikasi Tradisional Kampung Naga Sebagai Inspirasi yang diterbitkan dalam Jurnal Desain, dijelaskan bahwa kentungan terbuat dari kayu jati atau batang bambu dengan pahatan pada bagian dalam bambu sehingga kosong dan memberikan ruang untuk mengeluarkan bunyi saat dipukul.
Ukuran kentungan bervariasi, sekitar 40 cm hingga tinggi 1,5-2 meter. Tekstur kentongan yang keras karena terbuat dari kayu menjadi ciri khas yang membedakannya dengan alat musik lain. Suara yang dihasilkan cukup keras dan nyaring dengan jangkauan lumayan luas, menjadikannya alat komunikasi tradisional yang bersifat massal.
ADVERTISEMENT
Sistem Kode dalam Komunikasi Kentongan
Keunikan kentongan terletak pada sistem kode atau irama pukulan yang memiliki makna berbeda-beda. Dalam buku Sejarah Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi karya Hery Nuryanto, dijelaskan bahwa kentongan menyampaikan informasi suara bukan menggunakan bahasa sehari-hari, melainkan menggunakan sandi atau kode tertentu yang telah disepakati maksud atau artinya.
Irama pukulan tertentu akan diartikan sebagai bentuk panggilan masyarakat, sementara irama pukulan lainnya dapat diartikan sebagai informasi kondisi keamanan di lingkungan desa setempat. Keberagaman irama pukulan yang dihasilkan tidak menjadikan fungsi kentongan saling bertolak belakang, melainkan saling terkait dan melengkapi.
Fungsi Kentongan dalam Kehidupan Masyarakat
Kentongan memiliki beragam fungsi penting dalam kehidupan masyarakat tradisional Indonesia. Alat ini digunakan untuk mengumpulkan massa, mengumumkan tanda bahaya seperti kebakaran atau bencana alam, memberikan tanda waktu, dan sebagai media komunikasi antar masyarakat.
ADVERTISEMENT
Pada masa kerajaan, alat ini dipakai untuk menyampaikan perintah raja kepada rakyatnya. Di pedesaan, kentongan berkembang dan digunakan di masjid-masjid kecil sebagai pemanggil masyarakat bila jam salat telah tiba.
Dalam skripsi Bentuk Komunikasi Kelompok pada Grup Kentongan Karaban Purbalingga yang tersimpan di repository UIN Saifuddin Zuhri, dijelaskan bahwa kentongan dalam perkembangannya telah bertransformasi menjadi media ekspresi seni dan sarana interaksi sosial.
Kentongan di Era Modern dan Simbolismenya
Meskipun teknologi komunikasi telah berkembang pesat, kentongan masih digunakan di berbagai desa sebagai sarana komunikasi. Di berbagai komunitas adat, kentongan memiliki makna lebih dari sekadar alat komunikasi, ia menjadi simbol kebersamaan dan kerukunan masyarakat.
Sejak awal, kentongan merupakan alat pendamping ronda atau patroli menjaga keamanan. Seiring berkembangnya zaman, kentongan tak hanya dijadikan alat komunikasi saja, melainkan sebuah tradisi yang dilakukan rutin. Misalnya pada bulan Ramadan, kentongan digunakan untuk membangunkan orang sahur.
ADVERTISEMENT
Di sejumlah wilayah, kentongan diiringi tabuhan lain sebagai tradisi membangunkan sahur. Kentongan tetap menjadi warisan budaya yang perlu dilestarikan sebagai bukti kreativitas masyarakat Indonesia dalam berkomunikasi sebelum era digital, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi di tengah kemajuan zaman.
(NDA)

