Konten dari Pengguna

Sejarah ASEAN: Ini Pendiri dan Tujuan Pembangunannya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi ASEAN. Foto: PAPALAH/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ASEAN. Foto: PAPALAH/Shutterstock

ASEAN (The Association of South East Asian Nations) adalah organisasi regional di kawasan Asia Tenggara. Organisasi ini dibentuk pada 8 Agustus 1967 oleh lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand.

Seiring berjalannya waktu, anggota ASEAN terus bertambah. Brunei bergabung pada tahun 1984, diikuti oleh Vietnam pada 1995, Laos dan Myanmar pada 1997, dan Kamboja pada 1999.

Sementara itu, Timor Leste diberikan status pengamat dan akan menjadi anggota penuh pada akhir tahun 2025. Agar lebih memahami seperti apa organisasi ini, simak sejarah ASEAN berikut ini.

1. Asal Usul ASEAN

Dikutip dari laman Britannica, sejarah ASEAN dimulai dari terbentuknya Southeast Asia Treaty Organization (SEATO) pada 1954, dan Association of Southeast Asia (ASA) pada 1961. Keduanya adalah organisasi yang dibentuk untuk menyatukan negara-negara di Asia Tenggara.

Namun, upaya lewat dua organisasi tersebut ternyata tak berjalan lancar. Hingga akhirnya pada 8 Agustus 1967, Menteri Luar Negeri Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand duduk bersama di aula Departemen Luar Negeri di Bangkok, Thailand.

Mereka berdiskusi dan menandatangani dokumen yang menandai berdirinya ASEAN. Dokumen itu akhirnya dikenal sebagai Deklarasi ASEAN.

2. Isi Deklarasi ASEAN

Merujuk pada laman resmi ASEAN, dokumen yang disepakati kelima negara di Bangkok berisi deklarasi untuk membentuk asosiasi kerja sama regional yang mencakup negara-negara di Asia Tenggara.

Kerja sama yang dimaksud meliputi bidang ekonomi, sosial, budaya, teknis, pendidikan dan lainnya. Tujuannya untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas regional melalui penghormatan terhadap supremasi hukum.

Dokumen tersebut pun menetapkan bahwa asosiasi ini akan terbuka untuk anggota baru dari kawasan Asia Tenggara. Dengan catatan, negara tersebut berkomitmen pada tujuan, prinsip, dan maksud asiasosi.

Di dalam dokumen itu juga dinyatakan bahwa ASEAN merupakan representasi dari "keinginan kolektif bangsa-bangsa Asia Tenggara untuk mengikat diri bersama dalam persahabatan dan kerja sama melalui upaya dan pengorbanan bersama, menciptakan keamanan bagi rakyat mereka serta generasi mendatang berkat perdamaian, kebebasan, dan kemakmuran."

3. Penandatanganan Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama

Meskipun dibentuk pada 1967, tapi ASEAN baru mencapai kohesi atau hubungan yang benar-benar erat pada pertengahan 1970-an, tepatnya setelah Perang Vietnam.

Pada 1976, seluruh anggota ASEAN mengadakan pertemuan di Bali. Hasilnya, mereka menandatangani Perjanjian Persahabatan dan Kerja Sama. Tujuan perjanjian ini untuk mewujudkan aturan yang mengikat secara hukum terkait hubungan antarnegara di kawasan Asia Tenggara dan negara luar.

4. ASEAN Menambah Anggotanya

Setelah Perang Dingin berakhir pada 1991, pembangunan dan stabilitas regional di kawasan Asia Tenggara meningkat. Hal ini mendorong ASEAN untuk memperluas cakupan keanggotaannya.

Negara tetangga akhirnya menggabungkan diri dalam ASEAN. Dimulai dari Brunei, Vietnam, Laos, Myanmar, hingga Kamboja pada akhir 1990-an.

Baca Juga: Di ASEAN, Indonesia Peringkat Dua Negara Tingkat Overstay Tertinggi di AS