Konten dari Pengguna

Sejarah Awal Industri Keris di Pulau Jawa dari Zaman Majapahit hingga Masa Kini

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi industri keris di Pulau Jawa. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi industri keris di Pulau Jawa. Foto: Pexels

Keris bukan sekadar senjata tradisional, melainkan simbol budaya dan spiritualitas masyarakat Jawa yang telah ada sejak ribuan tahun lalu. Sejarah awal industri keris di Pulau Jawa bermula dari pengaruh perdagangan maritim dan perkembangan metalurgi Hindu-Buddha, menjadikannya pusaka berharga bagi raja dan prajurit. Proses pembuatannya yang rumit melibatkan empu atau pandai besi sakti yang menggabungkan besi dan nikel untuk menciptakan bilah berpola pamor unik. Merujuk informasi dari UNESCO Intangible Cultural Heritage, keris pertama kali tercatat dalam prasasti Jawa kuno sejak abad ke-9, menandai awal industri kerajinan logam yang canggih di pulau ini. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut seputar sejarah keris di Pulau Jawa.

Daftar isi

Asal Usul Keris dari Prasasti Jawa Kuno

Bukti tertua tentang keris ditemukan dalam prasasti-prasasti Hindu-Buddha dari Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah. Prasasti Humanding (875 M), Jurungan, dan Haliwangbang (876 M), serta Taji (901 M) menyebut kata "kris" sebagai senjata ritual dan upacara keagamaan.

Keris pada masa itu digunakan dalam persembahan dewa, bukan hanya alat perang, menunjukkan nilai sakralnya sejak awal. Relief Candi Borobudur (825 M) dan Prambanan (850 M) juga menggambarkan sosok dengan keris di pinggang, membuktikan bahwa industri keris sudah berkembang luas di kalangan elit masyarakat.

Pengaruh India melalui jalur perdagangan membawa teknik pemahatan dan metalurgi, tapi bentuk khas keris Jawa (dengan bilah bergelombang) kemungkinan lahir dari inovasi lokal.

Buku The Javanese Kris karya Brute de Forge menjelaskan bahwa meteorit besi dari Prambanan (jatuh 1784, tapi digunakan sebelumnya) sering dicampur untuk pamor khusus, menambah nilai mistis.

Perkembangan di Era Majapahit dan Empu Legendaris

Pada masa Kerajaan Majapahit (abad ke-13 hingga 15), pembuatan keris mencapai masa kejayaannya di Jawa Timur. Hal ini terlihat dari relief di Candi Sukuh (abad ke-15) yang menggambarkan para empu sedang bekerja membuat keris.

Cerita terkenal seperti legenda Empu Gandring dan Empu Ketewan juga menggambarkan betapa pentingnya proses pembuatan keris pada masa Ken Arok.

Dalam buku Weapons History 101: The Javanese Kris karya Brute de Forge dijelaskan bahwa sekitar tahun 1361 M bentuk keris modern mulai muncul di Majapahit. Bilah keris yang awalnya lurus kemudian berkembang menjadi bentuk bergelombang, yang dipercaya melambangkan ular naga.

Legenda menyebutkan bahwa Empu Gandring tewas dibunuh Ken Arok menggunakan keris buatannya sendiri, sehingga muncul kepercayaan bahwa keris memiliki "roh" atau kekuatan pusaka.

Menurut jurnal Keris and Discourse of Javanese Identity dari Atlantis Press, keris kemudian menyebar ke berbagai wilayah Nusantara lewat hubungan diplomatik Majapahit, bahkan sampai ke Filipina, Malaysia, dan Thailand.

Pembuatan keris secara besar-besaran untuk para prajurit dan bangsawan juga membantu menggerakkan ekonomi kerajinan logam di daerah Surabaya dan Tuban.

Teknik Pembuatan Keris dan Pusaka Kerajaan

Pembuatan keris dilakukan melalui proses penempaan besi berkali-kali. Empu (pembuat keris) menggabungkan besi yang lunak dan keras secara berlapis, bisa sampai 13 kali lipatan. Dari proses ini muncul pola khas yang disebut pamor, misalnya pamor “Ular Angin Sejati” atau “Brojol”.

Menurut UNESCO, para empu biasanya melakukan ritual selamatan, doa, dan mantra sebelum mulai menempa, karena keris dianggap memiliki “spirit” atau “kehidupan”.

Beberapa keris bahkan dibuat dari bahan meteorit yang mengandung campuran nikel dan besi, salah satunya berasal dari daerah Prambanan. Bahan ini membuat keris menjadi lebih kuat dan menghasilkan pola pamor yang berbeda.

Dalam jurnal Meteoritic Iron in Javanese Kris Daggers dari USRA diberitahukan bahwa pada masa kerajaan Majapahit hingga Mataram Islam, keris pusaka menjadi simbol penting kekuasaan. Contohnya Keris Kyai Setan Kober dari era Demak abad ke-16 dan Keris Pangeran Jimat.

Penyebaran dan Evolusi Pasca-Majapahit

Dari Jawa, keris kemudian menyebar ke Bali, Madura, dan Sulawesi. Penyebaran ini terjadi karena para empu (pembuat keris) dari masa Majapahit berpindah ke berbagai daerah tersebut.

Dalam legenda Melayu tentang Hang Tuah, disebutkan bahwa keris terkenalnya, yaitu Taming Sari, berasal dari Jawa. Jurnal The Origin of Indonesian Pamor di JSTOR juga menjelaskan bahwa pola pamor pada keris awalnya sederhana, lalu berkembang menjadi lebih rumit seiring majunya teknologi pengerjaan besi.

UNESCO menetapkan keris sebagai warisan budaya dunia pada tahun 2005. Dalam catatan Raffles di buku The History of Java disebutkan bahwa di Jawa saja terdapat sekitar 52 jenis bentuk keris (disebut dhapur).

Meski keris pernah dilarang sebagai senjata setelah Perang Diponegoro pada 1830, kerajinan ini tetap bertahan. Keris kemudian berubah fungsi, dari senjata menjadi benda pusaka untuk upacara dan karya seni.

Baca juga: Sejarah Keris yang Berkembang Pesat di Wilayah Jawa

(NDA)