Konten dari Pengguna

Sejarah Bali Sejak Zaman Prasejarah hingga Pasca Kemerdekaan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Bali. Foto: Tatiana Popova/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bali. Foto: Tatiana Popova/Shutterstock

Provinsi Bali yang kini jadi primadona turis mancanegara rupanya sudah dihuni sejak zaman prasejarah. Ada banyak peninggalan purba yang ditemukan di sana, salah satunya alat-alat batu di dekat Desa Cekik. Bukti lainnya juga bisa dilihat pada nekara yang kini ditempatkan di Desa Pejeng, Gianyar.

Penasaran dengan sejarah Bali? Simak informasi selengkapnya di bawah ini.

1. Penghuni Awal Pulau Bali

Dikutip dari jurnal Perkembangan Konsep Keyakinan Dari Masa Bali Purba Sampai Kini susunan Ni Wayan Silawati, Bali telah memiliki penghuni sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Penghuninya adalah bangsa Austronesia yang datang dari Taiwan melalui Maritime Asia Tenggara

2. Masa Munculnya Kerajaan di Bali

Menurut buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Bali yang disusun Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah, Bali memasuki era kerajaan pada tahun 800-an Saka. Sebagai informasi, Saka adalah sistem penanggalan Hindu yang terpaut 78 tahun lebih dulu dibandingkan Masehi.

Berikut ini daftar raja kerajaan Bali pada zaman dahulu berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan:

  • Sri Kesari Warmadewa (835 Saka)

  • Sang Ratu Sri Ugrasena (837 Saka)

  • Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa dan Sang Ratu Luhur Sri Subhadrika Dharmadewi (877-889 Saka)

  • Jayasingha Warmadewa (882 Saka)

  • Janasadhu Warmadewa (897 Saka)

  • dan seterusnya

3. Kondisi Bali di Periode 1500-1800an

Pada periode tahun 1500-1800 Masehi, Bali tidak lagi terdiri dari satu kerajaan, tetapi terpecah menjadi beberapa kerajaan. Sistem kerajaan di Bali berlangsung sampai akhir abad ke-19, saat di mana pemerintahan kolonial Belanda masuk ke Indonesia.

Merujuk pada buku Sejarah Daerah Bali susunan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, kondisi kerajaan tradisional di Bali sekitar tahun 1800-an seperti berikut ini:

  • Kerajaan Buleleng sebelum periode tahun 1800 diperintah oleh raja-raja Keturunan Panji Sakti. Kemudian sejak tahun 1804, mereka diperintah oleh keturunan raja-raja Karangasem.

  • Kerajaan Jemarana pada tahun 1950 ada di bawah kerajaan Buleleng.

  • Kerajaan Tabanan tidak lagi berdiri sendiri. Sebagian wilayahnya berada di bawah Kerajaan Badung, dan sebagian lainnya di bawah Kerajaan Buleleng serta Karangasem.

  • Kerajaan Bandung yang didirikan oleh Gusti Ngurah Made Pemecutan menyatakan melepaskan diri dari kerajaan Mengwi pada tahun 1800.

  • Pada tahun 1800, Kerajaan Klungkung berhasil mengalahkan Bangli. Tetapi pada tahun 1805, Bangli berhasil membebaskan diri atas bantuan Karangasem.

  • Gianyar ada di bawah pemerintahan Klungkung.

  • Kerajaan Karangasem menjadi kerajaan yang berhegemoni di pulau Bali dan Lombok.

Di tengah situasi banyaknya kerajaan di Bali, perlawanan terhadap Belanda terus dilancarkan dan memicu sejumlah perang, yaitu:

  • Perang Buleleng (tahun 1846)

  • Perang Jagaraga dan Perang Kusamba (1849)

  • Perang Banjar (1868)

  • Puputan Badung (1906)

  • Puputan Klungkung (1908)

Namun, saat Kerajaan Klungkung kalah dalam Puputan Klungkung, seluruh Bali takluk di bawah kekuasaan Belanda.

4. Kondisi Bali Setelah Kemerdekaan Indonesia

Pada tahun 1945, saat Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya, Bali termasuk dalam Provinsi Sunda Kecil yang ibu kotanya di Singaraja. Namun, Belanda membonceng tentara Sekutu untuk menguasai Bali kembali.

Di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai, rakyat Bali melawan lewat Perang Puputan. Kemudian pada tahun 1958, Bali ditetapkan menjadi provinsi tersendiri. Waktu itu, ibu kotanya tetap di Singaraja, tapi dipindahkan ke Denpasar pada tahun 1960.

Baca Juga: Kisah Pertempuran Margarana di Bali, Heroik Meski Berakhir Tragis