Konten dari Pengguna

Sejarah Batik Yogyakarta, Kerajinan Populer Sejak Zaman Kasultanan Yogyakarta

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kain batik. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kain batik. Foto: Shutter Stock

Asal muasal batik Yogyakarta bisa ditelusuri ke tahun 1755, ketika masa Kasultanan Yogyakarta. Kasultanan ini lahir dari Perjanjian Giyanti yang membagi Kerajaan Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Hal inilah yang membuat motif batik Yogyakarta punya cukup banyak kesamaan dengan Surakarta. Simak sejarah batik Yogyakarta selengkapnya di bawah ini.

1. Batik Diperdagangkan pada Era Keraton

Dalam jurnal bertajuk Dinamika Industri Batik di Kota Yogyakarta 1901 – 1942 susunan Kurniyati dkk, dijelaskan bahwa sejak berdirinya Kasultanan atau Keraton Yogyakarta, kain batik menjadi salah satu barang yang diperdagangkan sampai Pantai Utara Jawa.

Hal ini menunjukkan bahwa batik sebagai kerajinan tidak hanya eksklusif bagi keluarga keraton saja, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan pasar.

Bahkan, Gusti Kanjeng Ratu Ageng (1735-1803) terlibat aktif dalam perdagangan batik dan beras di masa itu. Meski demikian, tak dapat dimungkiri bahwa batik memang komoditas yang sangat identik dengan kalangan bangsawan.

2. Batik Menyebar Luas di Masyarakat

Seiring berjalannya waktu, kesenian membatik akhirnya meluas di masyarakat. Terdapat dua faktor yang membuat kesenian ini dikenal luas, yakni:

  • Abdi dalem (pembantu sultan) yang membawa pekerjaan membatik ke rumah, sehingga orang-orang melihatnya.

  • Banyak orang yang menunjukkan minat pada batik sehingga permintaannya tinggi.

3. Beberapa Motif Batik Dilarang untuk Rakyat

Meskipun batik semakin populer, tapi motif batik untuk rakyat tetap dibedakan dengan bangsawan. Mengutip jurnal Motif Batik Keraton Yogyakarta sebagai Sumber Inovasi Perhiasan Kotagede oleh Pandansari Kusumo dkk, ada dua jenis motif keraton:

  • Geometrik: Motif yang dibuat berdasarkan bentuk-bentuk dalam ilmu pengukuran, seperti persegi, segitiga, garis, lingkaran, dan lain-lain.

  • Non geometrik: Motif yang lebih bebas dan tidak terikat kaidah-kaidah ilmu ukur, contohnya seperti bentuk flora dan fauna.

Selain itu, keraton melarang rakyat untuk menggunakan motif batik parang. Berikut ini daftar batik larangan untuk rakyat:

  • Parang Rusak Barong

  • Parang Rusak Gendher

  • Parang Rusak Klitik

  • Semen Gede Swat Gruda

  • Semen Gede Swat Lat

  • Udan Riris

  • Rujak Sente

  • Parang-parangan

Walau begitu, lambat laun masyarakat akhirnya melupakan aturan batik larangan ini. Sebab kesenian batik semakin merakyat, dan siapa pun bisa membuat serta memakai motif yang disukai.

4. Industri Batik di Yogyakarta Memasuki Babak Baru

Pada pertengahan abad ke-19, industri batik di Yogyakarta memasuki babak baru. Hal tersebut karena dua faktor:

  • Penemuan metode batik cap. Metode ini dibawa oleh pedagang batik dari Kauman, Semarang. Dampaknya, terjadi peningkatan produksi batik sesuai permintaan masyarakat yang tinggi.

  • Perkembangan transportasi kereta api di daerah Vorstenlanden (wilayah penerus Kerajaan Mataram). Hal ini memungkinkan distribusi batik ke luar Yogyakarta jadi semakin cepat.

Industri batik cap di Yogyakarta semakin meningkat pesat setelah Perang Dunia I pada 1920-an. Pada masa ini, banyak juragan batik di kota yang bekerja sama dengan pengrajin di desa untuk membuat batik cap dengan sistem borongan. Sejak saat itu, batik Yogyakarta terus berkembang dan akhirnya dikenal luas seperti sekarang.

Baca Juga: Sejarah Batik Parang, Motif untuk Raja dan Para Bangsawan