Sejarah Bubur Manado: Makanan Khas Sulawesi Utara yang Bergizi

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah bubur Manado atau tinutuan selalu mengingatkan pada ketangguhan masyarakat Sulawesi Utara menghadapi masa paceklik. Bubur ini lahir dari campuran beras, sayuran segar seperti bayam, kangkung, labu kuning, jagung, dan ubi, dimasak hingga kental sebagai makanan bergizi lengkap. Menurut jurnal Tinutuan Manado Antologi Esai Bengkel Sastra 2019 karya Supriyanto Widodo dalam Repositori Kemendikbud, hidangan ini menjadi simbol keragaman budaya Manado seperti isinya yang beraneka. Artikel ini akan menguraikan informasi lebih lanjut seputar sejarah dari bubur Manado.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Asal Usul Bubur Manado
Repositori Kemendikdasmen berjudul Bubur Nusantara karya Paskalina menjelaskan bahwa bubur Manado, atau yang dikenal juga sebagai tinutuan, lahir pada masa penjajahan Belanda ketika rakyat Minahasa mengalami kesulitan pangan.
Saat itu, kebijakan tanam paksa membuat harga bahan makanan mahal dan daging maupun tahu sulit diperoleh. Untuk tetap bisa makan, masyarakat memanfaatkan berbagai sayuran yang tumbuh di sekitar rumah, lalu mencampurnya dengan beras menjadi bubur.
Ttinutuan awalnya adalah makanan sederhana untuk bertahan hidup. Nama tinutuan berasal dari kata Minahasa “tu’tu” yang maknanya adalah nasi. Hal ini menunjukkan bahwa bubur ini dulu berfungsi sebagai makanan pokok darurat, sebelum akhirnya dikenal luas dan menjadi menu sarapan khas Manado hingga sekarang.
Bahan dan Cara Memasak Bubur Manado
Cara memasak bubur Manado tergolong sederhana dan tidak rumit. Beras dicuci bersih, lalu direbus dengan air hingga mulai lunak. Setelah itu, berbagai bahan seperti labu kuning, ubi, dan jagung manis dimasukkan ke dalam panci. Sayuran hijau seperti bayam, daun singkong muda, dan kemangi ditambahkan belakangan agar tetap segar.
Bubur dimasak dengan api kecil sambil terus diaduk supaya tidak gosong atau lengket di dasar panci. Proses memasak ini dilakukan sampai semua bahan menyatu dan bubur menjadi kental.
Dalam buku Makanan Tradisional oleh Muhammad Assagaf, dkk dijelaskan bahwa rasa lezat tinutuan berasal dari manis alami umbi-umbian, tanpa perlu banyak bumbu tambahan.
Pelengkap Khas Bubur Manado
Bubur Manado biasanya disajikan bersama pelengkap yang sederhana namun menggugah selera. Beberapa pendamping yang paling umum adalah ikan asin goreng yang renyah, sambal roa berbahan ikan asap khas Sulawesi Utara, serta telur rebus. Di Manado, tinutuan sering disantap pada pagi hari, ditemani pisang goreng atau taburan bawang goreng.
Menurut buku Budaya Makan dalam Perspektif Kesehatan karya Toto Sudargo, dkk., kehadiran lauk pelengkap tersebut membuat tinutuan menjadi makanan yang lebih bergizi dan seimbang. Karbohidrat dari beras dan umbi, serat dari sayuran, serta protein dari ikan atau telur menjadikan bubur ini cocok dikonsumsi oleh seluruh anggota keluarga.
Perkembangan Bubur Manado di Era Modern
Seiring waktu, Bubur Manado semakin dikenal luas. Sejak tahun 1970-an, banyak pedagang keliling yang menjajakan tinutuan di pagi hari di berbagai sudut Kota Manado. Dari sana, popularitasnya menyebar ke daerah lain di Sulawesi Utara hingga ke kota-kota besar di Indonesia.
Saat ini, Bubur Manado mengalami berbagai variasi, seperti penambahan ayam suwir atau ikan, meskipun versi aslinya tetap dikenal sebagai bubur tanpa daging.
Pembuatannya yang mudah, dapat divariasikan, serta bergizi membuat Bubur Manado tetap lestari sebagai bagian penting dari budaya kuliner Indonesia.
Baca juga: Makanan yang Membantu Mengurangi Risiko Hipertensi Secara Alami
(NDA)
