Sejarah Budi Utomo, Pelopor Organisasi Pergerakan Nasional

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Budi Utomo merupakan organisasi yang dipandang sebagai pelopor pergerakan nasional. Hal tersebut karena organisasi pemuda ini menjadi yang pertama mengumandangkan makna nasionalisme bagi bangsa Indonesia.
Karena itu pula, hari berdirinya Budi Utomo diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia. Simak sejarah Budi Utomo selengkapnya di bawah ini.
1. Lahirnya Budi Utomo
Dikutip dari buku Sejarah 2 SMP Kelas VIII susunan Drs. Anwar Kurnia dan Drs. H. Moh. Suryana, organisasi Budi Utomo berdiri di Jakarta pada 20 Mei 1908. Pendiri sekaligus ketuanya adalah dr. Soetomo, seorang pelajar STOVIA (Sekolah Pendidikan Kedokteran Pribumi).
Tokoh pergerakan yang mengilhami berdirinya Budi Utomo adalah dr. Wahidin Sudirohusodo. Pada tahun 1906-1907, ia pernah mengadakan perjalanan kampanye ke beberapa daerah di Pulau Jawa.
Wahidin berusaha menggugah pikiran kaum priyayi untuk meningkatkan derajat bangsa melalui pendidikan. Namun, kurang mendapat tanggapan dari kalangan priyayi tua yang konservatif.
Gagasannya justru memeroleh sambutan dari kalangan muda, terutama para pelajar STOVIA, termasuk Sutomo. Akhirnya, Sutomo bersama teman-temannya mewujudkan dan mengembangkan cita-cita Wahidin dengan mendirikan organisasi Budi Utomo.
2. Makna Nama Budi Utomo
Merujuk buku Sejarah Pergerakan Nasional: Melacak Akar Historis Perjuangan Bangsa Indonesia dan Kiprah Kaum Santri dalam Lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Wahyu Iryana, nama Budi Utomo diambil dari bahasa Sansekerta, yakni:
Budhi atau bodhi, berarti keterbukaan jiwa, pikiran, kesadaran, akal, atau pengadilan. Kata ini juga berarti daya untuk membentuk dan menjunjung konsepsi serta ide-ide umum.
Uttama, berarti tingkat pertama atau sangat baik.
3. Kongres Pertama Budi Utomo
Budi Utomo menyelenggarakan kongres pertama di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908. Kongres ini dihadiri anggota dari cabang Jakarta, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Probolinggo.
Kongres pertama berhasil mengeluarkan keputusan sebagai berikut:
Budi Utomo tidak akan mengadakan kegiatan politik.
Kegiatan organisasi bergerak dalam bidang pendidikan dan budaya.
Ruang gerak Budi Utomo terbatas hanya di daerah Jawa dan Madura.
Karena Budi Utomo menyatakan tidak akan terlibat dalam kegiatan politik, pemerintah kolonial Belanda menilainya tidak membahayakan. Kemudian akhirnya mengesahkan organisasi tersebut pada tahun 1908.
4. Kongres Kedua Budi Utomo
Dikutip dari buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta terbitan Kemdikbud, kongres kedua Budi Utomo diselenggarakan pada 11-12 Oktober 1909 di Yogyakarta.
Dalam kongres ini, Dr. Tjipto Mangunkusumo, R. Soetomo, dan M. Goenawan ikut hadir, tetapi tidak ikut menjadi pembicara utama. Pembicaranya adalah Dwidjosewojo, Mohammad Tohir, Sastrowidjono. Topik pembahasan adalah:
Laporan pertanggungjawaban masalah keuangan dan organisasi.
Mengulas bidang pendidikan dengan membuat suatu kesimpulan bahwa bantuan keuangan kepada pemuda lebih baik jika digunakan untuk belajar ke Belanda.
Mengambil tema, ‘Bagaimana membina bangsa Jawa’.
5. Kemunduran Budi Utomo
Setelah Budi Utomo berbadan hukum, para anggota mengharapkan aktivitas organisasi akan berjalan lebih lancar dan berkembang. Akan tetapi, gerakan Budi Utomo menjadi lamban disebabkan hal-hal berikut ini:
Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan untuk kalangan priyayi daripada penduduk pada umumnya.
Ketua Budi Utomo yang berkedudukan bupati lebih mementingkan pemerintah kolonial Belanda daripada kepentingan rakyat Indonesia.
Menonjolnya kaum priyayi yang mengutamakan jabatan, menyebabkan kalangan pelajar yang nasionalis menjadi tersisih dalam organisasi.
6. Runtuhnya Budi Utomo
Seusai Perang Dunia I (1914-1918), pemerintah kolonial mulai menekan Budi Utomo karena organisasi ini berusaha merambah ke ranah politik. Akibatnya, timbul perpecahan di antara golongan moderat dan radikal di dalam tubuh Budi Utomo.
Perpecahan Budi Utomo baru dapat diakhiri setelah organisasi tersebut melakukan fusi dengan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Maka, berdirilah organisasi baru dengan nama Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tahun 1935.
Baca Juga: 4 Ciri-Ciri Organisasi Budi Utomo yang Jadi Pergerakan Nasional Pertama
