Konten dari Pengguna

Sejarah Candi Arjuna yang Tertua di Kompleks Candi Dieng

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah wisatawan mengunjungi kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (23/11/2021). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah wisatawan mengunjungi kompleks Candi Arjuna di Dataran Tinggi Dieng, Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Selasa (23/11/2021). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Candi Arjuna terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Kuno ini masuk dalam kawasan wisata kompleks di dalamnya berdiri juga Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Simak sejarah Candi Arjuna selengkapnya di bawah ini.

1. Pembangunan Candi Arjuna yang Tertua di Kompleks Candi Dieng

Merujuk buku Mengenal Candi-Candi Nusantara susunan Thomas Wendoris, Candi Arjuna tergolong candi tertua di Indonesia karena dibangun oleh wangsa Syailendra di Kerajaan Mataram Kuno pada abad ke-8.

Bukti usia Candi Arjuna telah tua juga tampak dari arsitektur serta peninggalan prasasti. Berikut rinciannya:

  • Arsitektur: Tangga masuknya masih menempel pada kaki candi. Ini berarti Candi Arjuna memerhatikan fungsi kaki candi sebagai lantai bangunan. Sedangkan candi lain telah mengurangi peran kaki sebagai lantai.

  • Peninggalan Prasasti: Prasasti di Candi Arjuna menulis tahun 731 C atau 809 M. Sedangkan 12 prasasti lain yang pernah ditemukan di Kompleks Candi Dieng menunjukkan tahun yang lebih muda, bahkan ada yang tahun 1132 C atau 1210 M.

2. Candi Arjuna Tenggelam

Dikutip dari laman resmi Dieng Banjarnegara, Candi Arjuna pernah tenggelam karena luapan Telaga Balekambang. Kemudian, pada 1807, candi yang tenggelam ini ditemukan tentang Inggris saat sedang mengeksplorasi kawasan Pegunungan Kedu hingga dataran tinggi Dieng.

Dalam catatan resmi tentara Inggris tersebut, disebutkan tentang penemuan 40 kelompok percandian dalam waktu 3 minggu penelitian mereka di Dieng. Penemuan tersebut dilanjutkan oleh Y Van Kinsbergen. Ia pun berupaya mengeringkan kawasan candi tersebut pada tahun 1957.

Kini, percandian di Dieng dikelola oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Mereka juga bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Banjarnegara.

3. Arsitektur Candi Arjuna

Merujuk Studi Pemintakatan Situs Kompleks Percandian Dieng susunan Drs. Hari Untoro Dradjat, MA, dkk, denah Candi Arjuna berbentuk bujur sangkar berukuran 6 x 6 m.

Dinding candi dihias dengan 5 buah relung, 2 di samping kanan dan kiri pintu bilik, serta 3 relung pada masing masing sisi tembok candi. Setiap relung diperkirakan ditempati arca, yakni:

  • Dua relung pertama ditempati arca Mahakala dan Nandiswara.

  • Relung sebelah selatan ditempati arca Durgamahisasuramardhini.

  • Relung pada tembok belakang ditempati arca Ganesya.

  • Relung tembok utara ditempati arca Agastya.

Namun, saat ini arca-arca tersebut tidak ditemukan lagi. Di bawah relung tembok sebelah utara pun terdapat cerat berbentuk kepala makara yang berfungsi sebagai Jaladwara (saluran pembuangan air).

Jaladwara terhubung ke dalam bilik candi. Hal inilah yang menjadi salah satu keistimewaan Candi Arjuna.

Saluran air itu berguna untuk membuang air bekas upacara yang diselenggarakan dalam bilik. Sebab, salah satu bagian dari ritus itu adalah melakukan siraman air pada lingga-yoni. Pada bilik candi sekarang hanya tinggal yoni, tapi ceratnya telah patah dan tanpa lingga.

Baca Juga: 4 Ciri-Ciri Relief Candi Kecil yang Tersebar di Jawa Timur, Unik dan Penuh Makna