Konten dari Pengguna

Sejarah Candi Borobudur, Monumen Buddha Terbesar di Dunia

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Borobudur. Foto: Perfect Lazybones/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Candi Borobudur. Foto: Perfect Lazybones/Shutterstock

Candi Borobudur merupakan salah satu warisan budaya dunia yang telah terkenal hingga ke mancanegara. Sebagai monumen Buddha terbesar di dunia, candi ini tidak hanya memukau dari sisi arsitektur, tetapi juga menyimpan sejarah yang kaya dan panjang. Untuk memahami kisah di balik kemegahan tersebut, mari simak sejarah Candi Borobudur berikut ini.

Masa Dinasti Syailendra

Mengutip buku Kearifan Lokal Jawa Tengah: Tak Lekang oleh Waktu susunan Rr. M.I. Retno Susilorini, pembangunan Candi Borobudur dimulai pada masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.

Pembangunan Candi Borobudur memakan waktu hampir 100 tahun dan selesai sekitar tahun 824 Masehi. Candi ini dibuat sebagai tempat pemujaan Buddha sekaligus pusat ziarah yang mencerminkan puncak peradaban Buddha di Jawa pada masa itu.

Penemuan oleh Stamford Raffles

Pada tahun 1814, Candi Borobudur kembali ditemukan oleh pasukan Inggris di bawah pimpinan Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris kala itu.

Raffles menugaskan seorang insinyur untuk melakukan penyelidikan, dibantu sekitar 200 orang yang menebangi pohon, membersihkan semak, dan menggali tanah yang menutupi candi.

Pemugaran Candi Borobudur

Saat ditemukan, Candi Borobudur berada dalam kondisi rusak dan rawan runtuh. Untuk melestarikan nilai sejarah dan budaya peninggalan bangsa, pemugaran besar-besaran pun dilakukan pada 1907 oleh insinyur Belanda, Theodoor van Erp.

Mengutip buku Borobudur 1973-1982 susunan Panitia Nasional Peresmian Berakhirnya Pemugaran Candi Borobudur, pemugaran ini selesai pada 1911 dan berhasil mengembalikan sebagian besar struktur candi.

Namun, kerusakan kembali terjadi karena faktor alam. UNESCO dan lembaga terkait kemudian melaksanakan pemugaran kedua antara 1973-1983, yang diresmikan Presiden Soeharto pada 23 Februari 1983. Pemugaran kedua mencakup:

  • Pembongkaran lima tingkat Rupadhatu di atas kaki candi.

  • Pembersihan dan pengawetan batu-batu satu per satu.

  • Pemasangan fondasi beton bertulang dan saluran air di tiap tingkat.

  • Menyusun kembali batu-batu yang telah dibersihkan dari lumut, jamur, dan mikroorganisme ke posisi semula.

Zona Bangunan Candi Borobudur

Berdasarkan laman resmi Taman Wisata Borobudur, candi ini memiliki tiga zona utama yang menggambarkan tahapan kehidupan manusia menuju pencerahan. Apa saja?

1. Zona Kamadhatu

Kamadhatu memiliki 160 relief yang menjelaskan Karmawibhangga Sutra, tentang hukum sebab-akibat. Relief ini menggambarkan sifat dan nafsu manusia, seperti mencuri, membunuh, memperkosa, menyiksa, dan menyebar fitnah.

Bagian dasar candi kini dibuka secara permanen agar pengunjung dapat melihat relief tersembunyi. Seluruh koleksi foto relief dapat dilihat di Museum Candi Borobudur di Borobudur Archaeological Park.

2. Zona Rupadhatu

Rupadhatu berisi galeri ukiran relief batu dan patung Buddha. Terdapat 328 patung Buddha dengan hiasan relief pada setiap ukirannya.

Zona ini memiliki sekitar 1.300 relief, termasuk Gandhawyuha, Lalitavistara, Jataka, dan Avadana. Relief-relief ini membentang sepanjang 2,5 km dengan total 1.212 panel.

3. Zona Arupadhatu

Arupadhatu terdiri dari tiga serambi lingkaran mengarah ke stupa pusat yang melambangkan kebangkitan dari dunia. Serambi pada zona ini berisi 72 stupa berlubang dengan bentuk lonceng terbalik, masing-masing berisi patung Buddha yang menghadap ke luar candi.

Keunikan Arsitektur Candi Borobudur

Salah satu keunikan Candi Borobudur adalah bangunannya terdiri dari sekitar 2 juta batu yang berasal dari sungai di sekitar Borobudur. Batu-batu tersebut disusun tanpa semen atau perekat, melainkan dengan sistem saling mengunci dan pasak.

Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia

Pada tahun 1991, UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia. Pengakuan ini diperoleh berkat nilai universalnya sebagai monumen budaya yang tak ternilai sekaligus saksi penting dalam sejarah peradaban umat manusia.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Pramuka Dunia, Begini Asal-Usulnya