Konten dari Pengguna

Sejarah Hari Santri Nasional dan Peran Pesantren dalam Perjuangan Bangsa

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock

Hari Santri Nasional menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia yang dirayakan setiap 22 Oktober. Perayaan ini merupakan sebuah penghargaan nyata bagi para santri atau pelajar di pesantren, karena memiliki peran vital dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Berikut sejarah Hari Santri Nasional berdasarkan informasi dari laman resmi Kanwil Kemenag Sumut.

Latar Belakang Perjuangan Santri

Sejak abad ke-19, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga pusat perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Para kyai dan santri secara aktif memimpin berbagai pertempuran untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, salah satunya Perang Jawa Diponegoro.

Beberapa kyai yang menjadi pionir dalam jaringan perlawanan santri antara lain:

  • Kyai Abdullah Salam dari Jombang

  • Kyai Umar dari Semarang

  • Kyai Abdurrauf dari Magelang

  • Kyai Yusuf dari Purwakarta

  • Kyai Mutaad dari Cirebon

  • Kyai Hasan Basyari dari Ponorogo

Mereka berhasil membentuk jaringan ulama-santri yang tersebar luas, baik di tingkat lokal maupun antarwilayah.

Di akhir abad ke-19, Syekh Nawawi Banten meneruskan perjuangan Syekh Yusuf Al Makassari. Ini menegaskan bahwa semangat perlawanan santri berlangsung secara kontinu dan berkesinambungan dari generasi ke generasi.

Peran Santri dalam Revolusi dan Pertempuran

Selain sebagai pusat pendidikan, santri juga berperan langsung dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Beberapa catatan penting peran santri selama revolusi di antaranya:

  • Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, santri menghadapi ancaman pasukan AFNEI Inggris dan NICA Belanda.

  • Laskar Hizbullah yang dibentuk oleh santri bersinergi dengan struktur Nahdlatul Ulama (NU) dan Masyumi hingga ke perdesaan.

  • Santri menyediakan markas persembunyian dan menjadi garda terdepan perlawanan.

  • Surabaya menjadi medan pertempuran utama, di mana santri dari berbagai daerah bersatu menghadapi pasukan kolonial.

Resolusi Jihad: Semangat Pertahanan NKRI

Resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi titik penting dalam sejarah perjuangan santri. Fatwa ini menyerukan seluruh umat Islam untuk membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Semangat dari Resolusi Jihad memuncak pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945, di mana para santri menjadi garda terdepan menghadapi gempuran pasukan Inggris dan NICA.

Kiprah Santri dalam Politik dan Bangsa

Selain di medan perang, santri juga memiliki peran signifikan dalam politik dan penguatan bangsa. Berikut beberapa peran penting santri dalam ranah politik:

  • 1945: Menyetujui penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan bangsa.

  • 1953: Memberi gelar Waliyyul Amri kepada Presiden Soekarno sebagai bentuk pengakuan kepemimpinan yang sah.

  • 1965: Berperan aktif menghadapi rongrongan ideologi komunisme.

  • 1983/1984: Memelopori penerimaan Pancasila sebagai asas tunggal dan menegaskan NKRI sebagai konsensus nasional.

Penetapan Hari Santri sebagai Hari Nasional

Pada tahun 2015, Presiden Republik Indonesia menetapkan Hari Santri sebagai Hari Nasional melalui Keputusan Presiden No. 22 Tahun 2015. Penetapan ini merupakan pengakuan resmi atas jasa dan peran santri dalam sejarah perjuangan bangsa.

Ada tiga alasan utama di balik penetapannya, yaitu:

  • Pengakuan terhadap peran ulama dan santri dalam perjuangan kemerdekaan.

  • Pendidikan nilai perjuangan dan teladan bagi generasi muda.

  • Peringatan Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 sebagai tonggak perjuangan santri membela NKRI.

Kini, perayaan Hari Santri meliputi pengajian, pembacaan kitab, seminar, dan pemberian penghargaan bagi santri berprestasi. Perayaan ini juga menjadi simbol persatuan, keragaman budaya, dan nilai keagamaan yang melekat dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Baca Juga: Kisah Pertempuran Surabaya 10 November 1945