Sejarah Jembatan Ampera, Ternyata Dulunya Bernama Jembatan Bung Karno

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jembatan Ampera merupakan ikon kota Palembang yang menjadi penghubung daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Jembatan ini terbentang di atas Sungai Musi dengan panjang 1.117 m.
Nama Ampera sendiri merupakan singkatan dari Amanat Penderitaan Rakyat. Sebelumnya, jembatan ini diberi nama Jembatan Bung Karno.
Simak sejarah Jembatan Ampera yang dirangkum dari jurnal Sejarah Jembatan Ampera sebagai Ikon Kota Palembang susunan Nike Aryanti skk di bawah ini.
Kota Palembang Sebelum Ada Jembatan Ampera
Sungai Musi memegang peranan penting dalam sistem ekonomi Palembang pada zaman dahulu. Sungai ini menjadi tempat pertemuan berbagai macam perahu yang ingin ke ibu kota, baik dari hulu maupun hilir.
Karena menjadi pusat lalu lintas, akhirnya muncul komunitas sewa perahu di Sungai Musi. Sebagian besar anggotanya adalah pedagang dari daerah pedalaman (hulu).
Pedagang tersebut menyusuri sungai-sungai kecil yang bermuara pada Sungai Musi dengan membawa sayuran dan buah-buahan untuk dijual.
Akhirnya, terbentuk semacam perkampungan para pedagang dari hulu dan dinamakan wilayah Ulu. Di sisi lain juga terdapat perkampungan Ilir yang dianggap lebih maju, karena menyerap banyak budaya luar.
Ide Membangun Jembatan
Ide untuk membangun jembatan penghubung wilayah Ulu dan Ilir muncul dari tahun 1906. Namun, ide tersebut tidak terealisasi dan akhirnya redup.
Pada 1924, ide untuk membangun jembatan kembali muncul. Walikota Palembang pada masa itu, Le Cocq de Ville, ingin memiliki sarana transportasi darat untuk memudahkan mobilisasi dari Ulu ke Ilir.
Namun, sampai masa kepemimpinannya berakhir, dan bahkan hingga Belanda pergi dari Indonesia, agenda ini masih belum juga terlaksana.
Pembangunan Jembatan
Rencana pembangunan jembatan kembali muncul pada 1945. Bahkan, di tahun ini, diadakan rapat untuk membicarakan tentang rancangan pembangunan jembatan di Sungai Musi.
Namun, pembentukan panitia untuk membangun jembatan baru dilakukan pada 1957. Anggotanya terdiri dari Direktorat Perang Kodim IV/Sriwijaya Harun Sohar, Gubernur Sumatera Selatan HA Bastari, Walikota Palembang M. Ali Amin dan Indra Caya.
Terdapat 3 lokasi yang diusulkan untuk pembangunan jembatan. Pertama, di bendungan 16 Ilir yang melintasi Sungai Musi ke kawasan Ulu Terminal 7. Opsi kedua, di kawasan laut Tangga Takat, Plaju. Opsi ketiga, di dekat desa 4 Ulu Laut, tepat di seberang kawasan pasar Sekarnak.
Dari tiga lokasi itu, Soekarno memilih opsi pertama atau lokasi Jembatan Ampera saat ini. Pada April 1962, pembangunan dimulai dengan menggunakan dana pampasan dari Perang Jepang.
Jembatan tersebut diberi nama Jembatan Bung Karno untuk menunjukkan rasa terima kasih kepada Presiden Soekarno atas pembangunan jembatan yang sudah lama dinantikan masyarakat Palembang.
Berubah Nama Jadi Jembatan Ampera
Pada masa Orde Baru, Jembatan Bung Karno diganti namanya menjadi Jembatan Ampera. Sebab, kedua sisi jembatan sering jadi tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa yang bergabung dalam gerakan anti-Soekarno.
Alhasil, nama jembatan diubah menjadi Ampera yang merupakan akronim dari Amanat Penderitaan Rakyat. Perubahan ini disetujui oleh pemerintah Orde Baru dan masyarakat Sumatera Selatan.
Baca Juga: 3 Wisata Palembang dekat Jembatan Ampera yang Bisa Dikunjungi
