Konten dari Pengguna

Sejarah Jong Java yang Menyatukan Organisasi Kedaerahan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bendera merah putih berkibar saat terjadinya Halo Matahari di Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi, Jumat (28/8/2020). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Bendera merah putih berkibar saat terjadinya Halo Matahari di Kayu Aro Barat, Kerinci, Jambi, Jumat (28/8/2020). Foto: Wahdi Septiawan/ANTARA FOTO

Jong Java merupakan organisasi kedaerahan yang menghimpun para pelajar dari Pulau Jawa dan Madura. Pada awalnya, organisasi ini hanya bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan kebudayaan.

Namun, seiring perkembangannya, Jong Java akhirnya terjun dalam urusan politik, dan bahkan menjadi pelopor pemersatu bangsa dengan merangkul organisasi pemuda kedaerahan lainnya.

Mereka bekerjasama dalam menggalang persatuan di antara para pemuda untuk melakukan perlawanan terhadap Belanda. Simak sejarah Jong Java selengkapnya di bawah ini.

Awal Mula Pendirian Jong Java

Menurut buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta yang merupakan proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, pendirian Jong Java tak lepas dari pengaruh sejumlah organisasi pemuda sebelumnya.

Salah satu yang paling berpengaruh adalah organisasi Budi Utomo. Organisasi ini didirikan pelajar STOVIA pada 20 Mei 1908. Namun dalam perkembangannya, organisasi pemuda ini tidak lagi bisa mempertahankan semangat pemudanya.

Ditambah lagi, sejak kongres Budi Utomo di Yogyakarta pada 5 Oktober 1908, sebagian besar anggotanya berasal dari golongan bangsawan. Para pemimpinnya pun didominasi orang tua. Akhirnya, banyak golongan pemuda yang merasa tidak tidak puas terhadap Budi Utomo.

Berdirinya Tri Koro Darmo

Pemuda yang tidak puas dengan Budi Utomo akhirnya mendirikan organisasi baru, yaitu Tri Koro Darmo pada 7 Maret 1915 di Jakarta. Beberapa pemuda yang tergabung dalam organisasi ini adalah Dr. R. Satiman Wiryosandjoyo, Kadarman, Sumardi, dan lain-lain.

Asas dan tujuan organisasi Tri Koro Darmo tercantum dalam anggaran dasarnya, yaitu:

  • Menimbulkan pertalian antara murid-murid Bumiputra pada sekolah menengah dan kursus VAK keguruan.

  • Menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggotanya.

  • Membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Indonesia.

Lahirnya Jong Java

Tri Koro Darmo berkembang dalam waktu singkat dan punya cabang di berbagai kota. Mulai dari Yogyakarta, Surabaya, Jakarta dan berbagai kota besar di wilayah Jawa lainnya.

Saat kongres di Solo pada 12 Juni 1918, organisasi ini mengubah namanya menjadi Jong Java atau Pemuda Jawa. Pada hakikatnya, Jong Java hanya bergerak di bidang kebudayaan, pendidikan, dan olahraga.

Hal tersebut selaras dengan ketetapan kongres pada Mei 1922 yang enggan mencampuri urusan politik. Organisasi ini juga tidak memperkenankan anggotanya mengambil bagian aktif dalam politik.

Namun, seiring dengan masifnya rakyat memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, Jong Java akhirnya ikut bergerak dalam bidang politik. Hal ini terlihat dalam pidato-pidatonya yang bersifat politik di berbagai kongres.

Pembubaran Jong Java

Pada kongres 25-31 Desember 1928, Jong Java menyadari bahwa organisasi pemuda di seluruh Indonesia harus disatukan. Dengan begitu, mereka bisa melakukan perlawanan yang lebih besar kepada Belanda.

Berangkat dari kesadaran itu, akhirnya pada 27 Desember 1929, Jong Java dengan resmi membubarkan diri. Seluruh bagian dan cabang-cabangnya diserahkan kepada Komisi Besar Indonesia Muda.

Baca Juga: Tokoh Jong Java yang Berperan dalam Kelahiran Sumpah Pemuda