Sejarah Kapal Pinisi sebagai Warisan Budaya Maritim Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kapal pinisi merupakan warisan budaya Sulawesi Selatan yang lahir dari kearifan masyarakat Bugis dan Makassar. Untuk memahami peran strategis kapal ini dalam perjalanan maritim Nusantara, simak sejarah kapal pinisi yang merujuk pada jurnal Upaya Indonesia Mendaftarkan Seni Pembuatan Kapal Pinisi ke dalam Intangible Cultural Heritage UNESCO karya Ruth Octavia Mairering dkk..
Awal Mula Kapal Pinisi
Asal-usul kapal pinisi tidak bisa dilepaskan dari kisah epik dalam naskah La Galigo. Diceritakan bahwa Sawerigading, Putra Mahkota Kerajaan Luwu, pada abad ke-14 membuat kapal dari pohon Welengreng untuk berlayar ke Tiongkok demi meminang We Cudai.
Namun, saat pulang ke kampung halaman, badai besar membuat kapalnya pecah menjadi tiga bagian dan terdampar di Ara, Tanah Beru, dan Lemo-Lemo.
Ara menjadi tempat perakitan badan kapal
Tanah Beru pusat pembuatan layar
Lemo-Lemo tempat penyempurnaan konstruksi kapal
Masyarakat setempat kemudian menyatukan kembali pecahan kapal tersebut menjadi kapal megah yang dikenal hingga kini sebagai pinisi.
Proses Pembuatan Kapal Pinisi
Pembuatan kapal pinisi mengandung nilai budaya dan filosofi yang kuat. Prosesnya terbagi dalam tiga tahapan utama, yaitu:
1. Menentukan Hari Baik dan Pemilihan Kayu
Langkah pertama adalah menentukan hari baik untuk mulai mencari bahan baku. Masyarakat Bugis percaya bahwa keberhasilan kapal sangat ditentukan oleh awal pengerjaannya.
Hari ke-5 melambangkan naparilimai dalle’na atau rezeki yang sudah di tangan.
Hari ke-7 melambangkan natujuangngi dalle’na atau rezeki yang terus mengalir.
Kayu yang digunakan pun dipilih dengan cermat. Jenis yang umum adalah kayu besi, bitti, kandole (punaga), dan jati, yang terkenal kuat dan tahan terhadap air laut.
2. Perakitan Kapal
Setelah bahan tersedia, tahap selanjutnya adalah menebang, mengeringkan, dan merakit kayu menjadi badan kapal. Proses ini mencakup pemasangan lunas, papan, serta tiang layar.
Peletakan lunas adalah tahap paling sakral. Arah lunas selalu menghadap timur laut, yang diyakini membawa keberuntungan.
Sebelum dipotong, balok diberi tanda dengan pahat, lalu dipotong dalam satu tarikan oleh tukang kayu berpengalaman. Proses ini dapat berlangsung berbulan-bulan hingga struktur kapal sempurna.
3. Peluncuran Kapal dan Upacara Maccera Lopi
Tahap terakhir adalah peluncuran kapal ke laut. Sebelum dilepaskan, masyarakat menggelar upacara adat maccera lopi, yaitu penyucian kapal dengan penyembelihan hewan kurban sebagai bentuk doa dan harapan.
Jika berat kapal di bawah 100 ton, hewannya adalah kambing
Jika berat kapal di atas 100 ton, hewannya adalah sapi
Ritual ini melambangkan penghormatan terhadap laut, sekaligus memohon keselamatan dan keberuntungan bagi kapal serta awaknya.
UNESCO: Pengakuan Dunia atas Pinisi
Pada 7 Desember 2017, kapal pinisi resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage of Humanity) oleh UNESCO. Penetapan ini dilakukan dalam Sidang ke-12 Komite Warisan Budaya Takbenda di Pulau Jeju, Korea Selatan.
Pengakuan tersebut menjadi bukti bahwa pinisi bukan sekadar kapal tradisional, melainkan warisan berharga yang mencerminkan kejayaan maritim Indonesia.
Baca Juga: Cara Membedakan Perahu Tradisional Pinisi Asli Bugis-Makassar
