Konten dari Pengguna

Cara Membedakan Perahu Tradisional Pinisi Asli Bugis-Makassar

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kapal pinisi Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kapal pinisi Foto: Shutter Stock

Kapal pinisi adalah salah satu ikon maritim Indonesia yang mendunia. Berasal dari tanah Bugis-Makassar, kapal ini telah melintasi samudera sejak berabad-abad lalu dan menjadi bukti keahlian nenek moyang Nusantara dalam membuat kapal. Namun, seiring berkembangnya pariwisata bahari, banyak kapal modern yang didesain menyerupai pinisi. Untuk itu, berikut cara membedakan perahu tradisional pinisi asli Bugis- Makassar.

Material Utama Kapal Tradisional Pinisi

Perahu pinisi sejatinya dibangun dari kayu pilihan. Jenis kayu yang digunakan antara lain kayu jati, kayu bitti, kayu besi, dan kayu kandole atau punaga.

Menurut jurnal Bentuk dan Makna dalam Ritual Pembuatan Kapal Pinisi di Kabupaten Bulukumba susunan Yusuf dkk., kayu dipilih dengan teliti dan biasanya berasal dari pohon yang telah berusia puluhan tahun.

Keunikan lainnya adalah cara penyambungan. Pinisi asli tidak menggunakan paku besi atau lem, melainkan pasak kayu yang dibuat dari potongan sisa kayu lainnya.

Sistem ini bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga membuat kapal terlihat kokoh tanpa sambungan logam. Dominasi material kayu inilah yang menjadi ciri kuat perahu pinisi tradisional.

Dua Tiang Utama

Salah satu ciri mencolok pinisi adalah keberadaan dua tiang utama. Menurut Arif Fadillah dalam jurnal Desain Kapal Wisata Jenis Pinisi di Perairan Indonesia Timur, tiang kembar ini berfungsi menahan layar besar sekaligus menjaga keseimbangan kapal di tengah gelombang.

Tiang biasanya dibuat dari batang kayu panjang tanpa sambungan. Bentuknya yang tegak menjulang menambah kesan megah pinisi. Keberadaan dua tiang ini adalah penanda keaslian, sebab kapal modern kadang hanya menggunakan satu tiang atau menggantinya dengan bahan logam.

Layar Kapal Tradisional Pinisi

Ciri lain yang tak kalah penting adalah jumlah layar. Mengutip buku Perubahan dan Keberlanjutan dalam Studi Komunikasi dan Manajemen oleh Ratna Puspita dkk., pinisi tradisional memiliki tujuh hingga delapan layar yang dipasang pada dua tiang utama.

Layar utama yang disebut sombala ukurannya bisa mencapai 200 meter persegi. Ada pula tanpasree, layar segitiga kecil pada tiap tiang, serta tarengke di bagian belakang. Kombinasi layar inilah yang membedakan pinisi dari kapal layar lainnya.

Ukiran dan Simbol di Badan Kapal

Selain konstruksi kayu dan layar, pinisi tradisional juga dihiasi ukiran khas. Dikutip dari jurnal Bentuk dan Makna dalam Ritual Pembuatan Kapal Pinisi di Kabupaten Bukukumba karya Yusuf dkk., tukang kayu sering menambahkan ornamen seperti kepala naga atau burung jalak pada bagian haluan. Ukiran ini diyakini melambangkan keberanian, perlindungan, serta doa keselamatan saat berlayar.

Replika pinisi modern kerap mengabaikan detail ukiran ini dan lebih fokus pada fungsi wisata. Padahal, hiasan tradisional adalah bagian penting dari identitas pinisi asli.

Ritual dalam Proses Pembuatan

Pinisi bukan hanya kapal, tetapi juga karya budaya yang lahir dari ritual adat. Terdapat tiga tahap utama dalam proses pembuatan kapal ini.

Di antaranya adalah pencarian kayu yang dilakukan dengan menentukan hari baik, perakitan lambung kapal yang bisa berlangsung berbulan-bulan, hingga peluncuran kapal ke laut yang ditandai dengan upacara maccera lopi (penyucian kapal) dan annyorong lopi (peluncuran).

Ritual-ritual ini menegaskan bahwa pembuatan pinisi tidak sekadar teknis, melainkan sarat nilai spiritual dan filosofi. Kapal yang dibuat tanpa melalui prosesi ini lebih tepat disebut tiruan, bukan pinisi asli.

Fungsi Kapal Pinisi

Awalnya, pinisi digunakan untuk mengangkut barang dagangan antar pulau. Namun kini, banyak pinisi difungsikan sebagai kapal wisata, terutama di kawasan Labuan Bajo dan Raja Ampat.

Namun, desain kapal wisata jenis pinisi tetap mempertahankan bentuk tradisional agar tidak kehilangan identitasnya. Perubahan fungsi ini menunjukkan adaptasi pinisi terhadap zaman, tetapi ciri-ciri tradisionalnya tetap menjadi pembeda utama.

Baca Juga: Ciri-Ciri Ornamen Batak di Artefak Kuno, Ini Motif dan Maknanya