Ciri-Ciri Ornamen Batak di Artefak Kuno, Ini Motif dan Maknanya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ornamen Batak pada artefak kuno, khususnya ukiran gorga merupakan elemen penting dalam budaya Batak. Melalui motif-motif tertentu, masyarakat Batak menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan harapan mereka. Untuk lebih memahami kekayaan budaya ini, berikut beberapa motif dan ciri-ciri ornamen gorga pada artefak kuno yang perlu diketahui.
Ipon-Ipon Gorga
Ipon dalam bahasa Batak berarti gigi, adalah salah satu jenis ukiran Batak dengan filosofi yang erat kaitannya dengan manusia. Bentuk geometris gigi ipon-ipon menyerupai segitiga sama kaki, yang melambangkan hubungan harmonis dan keteraturan dalam kehidupan.
Selain itu, motif ini juga melambangkan kemajuan. Dari sisi pewarnaan, gigi ipon-ipon umumnya menampilkan kombinasi khas merah, putih, dan hitam.
Boraspati
Dikutip dari jurnal Gorga Boraspati dalam Kebudayaan Batak Toba sebagai Ide Penciptaan Karya Seni Lukis susunan Dotnery Sianturi, motif Boraspati menggambarkan seekor tokek yang dipercaya oleh masyarakat Batak sebagai pelindung dari bahaya.
Pada artefak kuno, motif ini sering ditemukan pada ukiran gorga, terutama di bagian bawah rumah atau perabot yang berfungsi sebagai simbol perlindungan dan keselamatan bagi penghuninya.
Simata ni Ari
Simata ni Ari, yang berarti "matahari", adalah motif yang menggambarkan sinar matahari. Motif ini melambangkan sumber kehidupan dan energi. Penempatannya pada artefak kuno menunjukkan pentingnya matahari dalam kehidupan masyarakat Batak sebagai sumber kehidupan dan pemberi energi.
Desa Nu Ualu
Mengutip jurnal Bentuk Visual dan Makna Simbolik Gorga Batak Toba karya Tulus Pranto Siburian, motif Desa Na Ualu sering digunakan sebagai hiasan dan melambangkan mata angin delapan arah penjuru dunia.
Selain sebagai hiasan, gorga Desa Na Ualu berfungsi sebagai simbol perbintangan, yang menunjukkan momen-momen tepat bagi manusia dalam menjalankan kegiatan, seperti musim yang sesuai untuk bertani, menangkap ikan, dan aktivitas lainnya.
Sitagan
Gorga Sitagan berbentuk kotak kecil yang biasanya terbuat dari perak atau emas. Kotak ini digunakan untuk menyimpan daun sirih, tembakau, gambir, kapur, atau barang-barang kecil lainnya. Bentuknya yang jelas dan tertutup membuat gorga ini dikategorikan sebagai ikon dalam seni ukiran Batak.
Singa-Singa
Sesuai namanya, gorga Singa-Singa terinspirasi dari sosok singa, yang melambangkan kewibawaan dan kharisma khas raja hutan. Motif ini ditandai dengan wajah manusia yang lidahnya menjulur hingga dagu, serta hiasan kain yang diikat menggunakan tiga bolit. Dalam kepercayaan Batak, gorga Singa-Singa melambangkan keberanian dan kekuatan.
Warna Sitiga Bolit
Mengutip laman Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, warna merah, hitam, dan putih yang digunakan dalam ukiran gorga dikenal sebagai sitiga bolit. Warna merah melambangkan dunia manusia (banua tonga), hitam melambangkan dunia bawah (banua toru), dan putih melambangkan dunia atas (banua ginjang). Penggunaan warna ini menunjukkan pandangan masyarakat Batak yang melihat kehidupan sebagai kesatuan tiga alam.
Teknik Pembuatan
Proses pembuatan ukiran gorga memerlukan keterampilan dan kesabaran tinggi. Ukiran ini dibuat dengan teknik pahat menggunakan pisau tajam dan palu, serta pewarnaan menggunakan bahan alami. Proses ini mencerminkan dedikasi dan rasa hormat masyarakat Batak terhadap seni dan budaya mereka.
Baca Juga: Cara Mengenali Artefak Peninggalan Kerajaan Majapahit
(ANB)
