Sejarah Kemunculan Pasar Tradisional di Indonesia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Historis munculnya pasar tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan manusia yang semakin beragam. Pada masa awal, bentuk pasar masih sangat sederhana dibandingkan pasar di era modern. Pertumbuhannya dimulai dari tanah lapang tanpa bangunan, lalu berkembang menjadi area dengan kios-kios yang lebih tertata. Artikel ini menguraikan perjalanan sejarah kemunculan pasar tradisional di Indonesia dari masa kuno hingga masa setelah kemerdekaan.
1. Pasar Tradisional pada Zaman Kuno
Keberadaan pasar tradisional diperkirakan sudah ada sejak abad ke-4 pada masa Kerajaan Kutai Kartanegara. Mengacu pada buku Rumah Ekonomi, Rumah Budaya: Membaca Kebijakan Perdagangan Indonesia karya M. Chatib Basri, wilayah pesisir Nusantara sejak lama menjadi jalur perdagangan antara China dan India. Karena itu, kehidupan ekonomi masyarakat Kutai sangat erat kaitannya dengan aktivitas jual beli dan pertukaran barang.
Pada periode awal kehidupan masyarakat Nusantara, sistem ekonomi berjalan melalui barter. Orang yang membutuhkan suatu barang akan menukarnya dengan barang lain milik orang lain. Barang yang dipertukarkan biasanya berupa hasil bumi, tangkapan laut, atau peralatan rumah tangga sederhana. Aktivitas barter ini berlangsung di tempat terbuka yang mudah dijangkau, seperti dekat sungai atau jalur utama.
Sementara itu, bagi masyarakat Jawa kuno, pasar umumnya bergilir mengikuti hari pasaran. Mereka mengenal sistem pasaran lima hari, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage. Pasar yang beroperasi berdasarkan siklus lima harian inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sistem pasar tradisional di Indonesia.
2. Pasar Tradisional pada Masa Kolonial
Masuknya pedagang asing dari Arab, India, Melayu, Tiongkok, hingga Eropa ke kota pelabuhan di Indonesia membawa pengaruh besar bagi pasar lokal. Jenis barang yang diperdagangkan semakin beragam dan interaksi dagang semakin dinamis.
Dalam buku Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan Indonesia karya Purnawan Basundoro, disebutkan bahwa perkembangan kota-kota di era kolonial turut mendorong perkembangan pasar. Pasar diposisikan sebagai elemen penting kota karena menjadi pusat ekonomi sekaligus tempat pengumpulan modal. Saking pentingnya, pada masa kolonial sebagian penyelenggaraan pasar kemudian diambil alih oleh pemerintah Hindia Belanda.
Selain menyediakan ruang untuk berdagang, pemerintah kolonial juga menjadikan pasar sebagai sumber pemasukan dengan cara menarik bea atau cukai dari para pedagang. Demi mengoptimalkan pemasukan tersebut, sejak abad ke-19 pasar-pasar tradisional di perkotaan mulai dikelola secara lebih serius. Banyak pasar yang diperbaiki agar lebih memenuhi standar, bahkan pasar baru didirikan di berbagai wilayah.
3. Pasar Tradisional pada Masa Penjajagan Jepang
Pergantian kekuasaan dari penjajah Belanda kepada penjajah Jepang membawa dampak besar, terutama pada kondisi ekonomi. Jaringan perdagangan internasional lumpuh karena perang, sementara jalur perdagangan diambil alih Jepang.
Masih merujuk buku Pengantar Kajian Sejarah Ekonomi Perkotaan Indonesia, Jepang melakukan penguasaan penuh terhadap bahan-bahan mentah di Indonesia. Mereka juga menerapkan kebijakan pengendalian barang kebutuhan pokok dengan pengawasan sangat ketat. Situasi ini membuat banyak barang hilang dari pasaran. Untuk bertahan hidup, masyarakat menjadi kreatif dengan membuat barang-barang kebutuhan harian menggunakan pengetahuan yang dimiliki.
4. Pasar Tradisional di Masa Kemerdekaan
Kesulitan ekonomi akibat pendudukan Jepang masih terasa pada awal masa kemerdekaan. Namun, pasar tradisional terus berkembang seiring kebutuhan masyarakat. Pemerintah memposisikan pasar sebagai sarana penting untuk menunjang kesejahteraan rakyat di negara yang baru merdeka.
Di beberapa kota, kapasitas pasar tradisional mulai ditingkatkan dengan memperluas area dan memperbanyak jenis barang yang diperjualbelikan. Salah satu perkembangan penting adalah kemunculan pasar induk di wilayah perkotaan. Pasar induk mampu menampung pedagang dalam jumlah besar dan melayani penjualan mulai dari eceran hingga grosir.
Baca Juga: Sejarah Industri Batu Bara Indonesia dari Era Kolonial hingga Jadi Energi Dunia
(SA)
