Sejarah Kerajaan Sriwijaya, dari Awal Terbentuk hingga Keruntuhannya

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera memiliki pengaruh besar dalam sejarah Nusantara. Nama Sriwijaya diambil dari bahasa Sansekerta, yakni ‘sri’ yang berarti bercahaya, dan ‘wijaya’ yang artinya kemenangan.
Wilayah kekuasaan kerajaan Sriwijaya sangat luas, meliputi Indonesia bagian barat, Siam bagian selatan, semenanjung Malaya, sebagian Filipina, dan Brunei Darussalam. Simak sejarah kerajaan Sriwijaya selengkapnya di bawah ini.
1. Awal Terbentuknya Kerajaan Sriwijaya
Dikutip dari buku Sejarah untuk SMA/MA Kelas XI IPA susunan A. Ferry T. Indratno dkk., Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang berkembang pada abad ke-7 M di Sumatera. Ditinjau dari wilayah pengaruhnya, kerajaan ini dikembangkan dari kerajaan-kerajaan kecil di Sumatera Selatan.
Buktinya bisa dilihat dari Prasasti Kedukan Bukit yang merupakan sumber sejarah penting Kerajaan Sriwijaya. Disebutkan bahwa tokoh yang membangun kerajaan Melayu kuno itu adalah Dapunta Hyang.
Ada juga kalimat "Dapunta Hyang berangkat dari Minanga Tangwan dengan membawa bala tentara dalam dua kelompok, yaitu 200 orang dengan jalan air (naik perahu) dan 1312 dengan jalan darat" dalam prasasti tersebut.
Dari pernyataan itu, terlihat bahwa sebelum membangun Sriwijaya, Dapunta Hyang telah memiliki angkatan perang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa pendiri Sriwijaya telah mengenal organisasi semacam kerajaan, meski pemahamannya masih sederhana.
2. Kehidupan Sosial Kerajaan Sriwijaya
Merujuk pada buku Sejarah SMA/MA Kelas XI IPS susunan Ignaz Kingkin Teja Angkasa dkk., diperkirakan sejak abad ke-7 M, kerajaan Sriwijaya telah dikenal sebagai pusat pengajaran agama Buddha Mahayana di Asia Tenggara dan Asia Timur.
Seorang musafir yang pernah tinggal di Sriwijaya selama 6 bulan bernama I’Tsing mengatakan bahwa pendeta-pendeta China datang ke Sriwijaya untuk belajar bahasa Sansekerta, dan menyalin kitab-kitab agama Buddha. Guru yang sangat tersohor pada zaman itu adalah Sakyakitri yang mengarang kitab Hastadandasastra.
Sriwijaya juga kedatangan pendeta dari Tibet bernama Attisa pada periode tahun 1011-1023. Ia belajar agama Buddha pada guru masyhur bernama Darmakitri. Ini membuktikan bahwa Sriwijaya merupakan pusat perkembangan agama Buddha.
3. Kehidupan Politik
Sriwijaya mempertahankan dan memperluas kekuasaannya dengan cara ekspansi militer. Sejumlah prasasti menunjukkan bahwa pemerintahan Sriwijaya melaksanakan berbagai aturan untuk menjamin ketenangan di dalam negeri.
Tak hanya itu, prasasti tersebut juga mencatat pelaksanaan keputusan raja, lengkap dengan perincian sanksi bagi yang melanggar, serta hadiah jika menaati aturan. Prasasti zaman Sriwijaya juga mengandung ancaman dan kutukan yang ditujukan untuk kekuasaan di daerah.
Semua itu menjadi bukti bahwa raja Sriwijaya memerintah dengan tangan besi. Penguasa daerah tidak diberi keleluasaan memerintah. Raja Sriwijaya juga tidak menolerir pembangkangan dan menuntut kesetiaan dari rakyatnya.
4. Kehidupan Ekonomi
Sriwijaya merupakan kerajaan maritim yang menguasai jalur perdagangan di selat Malaka. Letak yang strategis ini memberi peluang Sriwijaya untuk memajukan sektor perdagangan.
Barang dagangan Sriwijaya meliputi emas, perak, gading gajah, penyu, kemenyan, kapulaga, kapur barus, pinang, kayu gaharu, cendana, kayu hitam, lada, dan damar. Para pedagang asing dapat menukarkannya dengan aneka porselin, tembikar, kain katun, dan kain sutra.
Untuk mempertahankan kepentingan dagangnya, Sriwijaya tidak keberatan memberi upeti kepada China melalui jalur diplomatik. Tujuannya agar monopoli perdagangan di Asia Tenggara tetap bisa dikuasai Sriwijaya
5. Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya
Mengutip buku Sejarah Indonesia untuk SMK Kelas X Semester Ganjil oleh Fatayat Ridlo Mintarsih, ada beberapa faktor penyebab mundurnya Kerajaan Sriwijaya, yaitu:
Terjadi perubahan letak kerajaan karena lumpur Sungai Musi yang mengendap, sehingga pedagang internasional tidak lagi tertarik ke wilayah Sriwijaya.
Lemahnya kontrol pemerintahan pusat, sehingga banyak daerah yang melepaskan diri dari kerajaan.
Sriwijaya mendapat serangan Raja Rajendracola dari Colamandala pada tahun 1017 dan 1025.
Kerajaan Sriwijaya akhirnya benar-benar runtuh saat armada laut Majapahit menyerang pada tahun 1377.
Baca Juga: 10 Peninggalan Prasasti Kerajaan Sriwijaya sesuai Fakta Sejarah
