Konten dari Pengguna

Sejarah Keris yang Berkembang Pesat di Wilayah Jawa

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi keris Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi keris Foto: ANTARA FOTO/Maulana Surya

Keris merupakan salah satu senjata tradisional Indonesia yang memiliki sejarah panjang. Nama keris diduga dari kata 'kres' yang mengacu pada onomatope (konsep peniruan suara) senjata tikam ketika digunakan untuk menusuk.

Dikutip dari buku Materi Muatan Lokal Bidang Kebudayaan: Keris susunan Unggul Sudrajat dan Dony Satryo Wibowo, senjata keris dikenal luas di Pulau Jawa lalu tersebar di hampir seluruh kawasan Asia Tenggara pada era Majapahit. Simak sejarah keris selengkapnya di bawah ini.

1. Prototipe Awal Keris

Sejarah keris bermula dari tradisi penggunaan senjata tikam pada zaman batu (megalitikum). Kemudian, pada zaman logam (perundagian), terciptalah prototipe keris yang terbuat dari logam.

Pada mulanya, senjata tajam ini bersifat sangat fungsional alias hanya digunakan untuk kebutuhan dan tuntutan dinamika zaman. Lambat laun, keris mulai semakin kompleks, baik dari segi desain hingga simbol-simbol yang dikandungnya.

2. Perkembangan Keris

Perkembangan keris berlangsung secara bertahap. Berikut ini tahapannya secara umum:

  • Zaman megalitikum: Ada banyak senjata dari batu yang digunakan untuk menikam.

  • Zaman perundagian: Senjata tikam di zaman megalitikum menginspirasi lahirnya belati-belati logam yang menjadi prototipe awal keris.

  • Era teknologi penempa logam dikenal: Setelah peradaban mengenal pengecoran dan penempaan logam, keris semakin berkembang pesat.

  • Zaman transisi awal Mataram Hindu-Buddha: Keris makin berkembang dan desainnya mulai rumit, cukup mirip dengan keris yang dikenal saat ini.

  • Zaman Majapahit: Penggunaan keris semakin terkenal berkat Kerajaan Majapahit yang menguasai hampir seluruh wilayah Asia Tenggara.

Setelah keris populer, senjata tajam ini mengalami stilasi (dibuat lebih dekoratif sambil mempertahankan ciri aslinya) lokal di tiap daerah. Alhasil, keris jadi punya gaya yang berbeda-beda. Kekhasan keris di sebuah daerah atau zaman disebut dengan istilah tangguh.

3. Keris Bagi Masyarakat Jawa

Perkembangan keris sangat pesat di tengah masyarakat Jawa. Hal ini didorong budaya Jawa zaman dahulu yang menekankan bahwa seorang laki-laki baru bisa disebut lengkap jika memiliki hal-hal berikut:

  • Wisma: rumah

  • Wanita: istri

  • Turangga: kuda atau kendaraan

  • Kukila: burung, artinya bisa menikmati keindahan atau rekreasi

  • Curiga: keris, untuk membela diri dan negara

Keris Jawa yang lengkap terdiri dari sejumlah bagian, yakni sebagai berikut:

  • Ukiran: hulu keris

  • Mendhak: hiasan di bawah ukiran

  • Wilah(an): bilah keris

  • Warangka: sarung keris

  • Pendhok: pembungkus warangka.

Bagi orang Jawa, keris juga bukan sekadar senjata tikam. Benda ini bisa diinterpretasikan sebagai kecerdasan, kebijaksanaan, ketajaman perasaan, intuisi, dan ilmu pengetahuan.

4. Keris Jadi Lambang Perjuangan

Dalam perkembangannya, keris juga dipandang sebagai lambang perjuangan. Itu karena banyak pahlawan nasional yang terlihat membawa keris di pinggangnya, seperti Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman.

Akhirnya, keris dianggap melambangkan kejujuran, sifat ksatria, menepati janji, pantang menyerah, dan lain sebagainya. Keris pun pernah menjadi sumber inspirasi bagi orang Jawa untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.

Baca Juga: Cara Mengenali Perbedaan Keris Pusaka Asli dan Tiruan, Perhatikan 6 Hal Ini!