Konten dari Pengguna

Sejarah Lawar Bali: Kuliner Daging Khas Pulau Dewata Sejak Masa Majapahit

Hendro Ari Gunawan
Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
8 Januari 2026 13:12 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Sejarah Lawar Bali: Kuliner Daging Khas Pulau Dewata Sejak Masa Majapahit
Cari tahu sejarah lawar Bali, kuliner daging khas Pulau Dewata yang telah ada sejak masa Majapahit, di sini!
Hendro Ari Gunawan
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi lawar Bali. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lawar Bali. Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
Sejarah lawar Bali tidak dapat dipisahkan dari tradisi upacara Hindu yang kental di pulau Dewata. Dalam hal ini, lawar Bali menjadi hidangan wajib dalam persembahan yadnya. Daging cincang, parutan kelapa muda, bumbu genep, dan darah segar dalam lawar mencerminkannya sebagai kreativitas kuliner Bali sejak masa Majapahit. Dalam buku Kumpulan Resep Masakan Tradisional dari 34 Provinsi Indonesia karya Badiatul Muchlisin Asti dan Laela Nurisysyafaah disebutkan bahwa lawar sebagai kuliner ikonik Bali yang lahir dari pengaruh sekte Bairawa abad 14, membentuk filosofi harmoni sekala-niskala. Untuk mengetahui lebih lanjut seputar lawar Bali, simak terus uraian ini hingga tuntas.
ADVERTISEMENT

Asal Usul Lawar Bali dari Sekte Bairawa

Lawar Bali merupakan salah satu kuliner tradisional yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah dan kepercayaan masyarakat Hindu Bali. Makanan ini diyakini berasal dari pengaruh sekte Bairawa, sebuah aliran spiritual yang berkembang dalam ajaran Siwa Sidhanta.
Sekte ini dikenal memiliki praktik ritual yang menekankan keseimbangan antara unsur kehidupan dan kematian. Dalam konteks inilah lawar muncul sebagai simbol perpaduan unsur alam dan manusia.
Menurut Jurnal Journey Pariwisata karya I Gusti Bagus Rai Utama, lawar dianggap sebagai peninggalan budaya sekte Bairawa. Lawar dibuat dari campuran parutan kelapa, daging, bumbu, serta darah segar yang berfungsi sebagai pewarna alami sekaligus unsur sakral.
Penggunaan darah bukan sekadar bahan makanan, melainkan lambang energi kehidupan yang dipercaya menjaga keseimbangan kosmis. Hal ini menunjukkan bahwa lawar sejak awal bukan hanya hidangan, tetapi juga bagian dari praktik spiritual.
ADVERTISEMENT

Bahan dan Teknik Pembuatan Lawar Bali

Secara umum, bahan utama lawar terdiri dari parutan kelapa muda dan daging cincang, seperti babi atau ayam. Pada masa lalu, daging penyu juga digunakan, meskipun kini sudah ditinggalkan karena aturan konservasi.
Bumbu yang digunakan dikenal sebagai basa genep, yaitu campuran bawang merah, bawang putih, cabai, serai, kencur, dan rempah lainnya. Darah segar ditambahkan untuk menghasilkan warna dan rasa khas.
Proses pembuatannya melibatkan beberapa teknik, seperti menyangrai kelapa, merebus atau mengukus daging, lalu mencampurnya dengan bumbu dan darah.
Berdasarkan bahan yang digunakan, lawar dikenal dalam beberapa jenis, seperti lawar merah, lawar putih, dan lawar hijau. Penyajiannya biasanya menggunakan alas daun pisang atau janur di atas piring tanah liat.
ADVERTISEMENT

Peran Lawar dalam Upacara Adat Bali

Lawar memiliki peran penting dalam pelaksanaan upacara yadnya umat Hindu Bali. Jurnal bertajuk Lawar Kuliner Bairawa Menuju Kuliner Pariwisata Khas Bali karya Esther Lia Margaretha dan Anastasia Sulistyawati menyebutkan bahwa lawar melambangkan keharmonisan hidup manusia dengan alam dan Tuhan.
Catatan serupa juga ditemukan dalam repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berjudul Adat Istiadat Daerah Bali. Dalam sumber tersebut dijelaskan bahwa lawar merupakan makanan wajib dalam berbagai upacara adat Bali. Kehadiran lawar dipercaya mampu menyempurnakan rangkaian ritual keagamaan.
Selain itu, buku Jajanan Kaki Lima Khas Bali karangan Linda Carolina Brotodjojo menyebutkan bahwa lawar mulai dikenal luas sejak masa Kerajaan Majapahit. Lawar dianggap sebagai simbol keseimbangan hidup antara baik dan buruk, sekala dan niskala, yang hingga kini masih dijunjung oleh masyarakat Bali.
ADVERTISEMENT
(NDA)