Konten dari Pengguna

Sejarah Ogoh-Ogoh Bali, Patung Raksasa Ikon Perayaan Pangrapukan

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah penari dan pemuda mengarak ogoh-ogoh saat parade budaya ogoh-ogoh di kawasan Sumerta, Denpasar, Bali, Minggu (10/3/2024). Foto: Fikri Yusuf/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penari dan pemuda mengarak ogoh-ogoh saat parade budaya ogoh-ogoh di kawasan Sumerta, Denpasar, Bali, Minggu (10/3/2024). Foto: Fikri Yusuf/Antara Foto

Ogoh-ogoh Bali adalah patung raksasa berbentuk bhuta kala yang menjadi ikon utama perayaan Pangrupukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Sejarah ogoh-ogoh Bali menunjukkan evolusi dari boneka jerami sederhana untuk ritual mecaru hingga menjadi karya seni raksasa yang diperebutkan di lomba banjar. Tradisi ini bukan hanya hiburan, tapi simbol pembersihan energi negatif yang menguatkan identitas Hindu Bali di tengah modernisasi. Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai ogoh-ogoh Bali.

Daftar isi

Akar Tradisi Lelakut dan Ngaben Kerajaan

Tradisi ogoh-ogoh berasal dari lelakut, boneka jerami raksasa yang dibuat untuk mengusir hama padi dan energi negatif berdasarkan lontar kuno Bali. Buku Ogoh-Ogoh: A Journey Through Bali's Sacred Tradition oleh Ocean Earth Travels menjelaskan bahwa lelakut digunakan dalam upacara ngaben kerajaan untuk mewakili roh orang mati, dibakar setelah prosesi.

Ritual ngusaba ndong-nding di Desa Selat, Karangasem juga menjadi akar penting, di mana patung bhuta kala dibuat untuk mengusir roh jahat. Jurnal Development of the Ogoh-Ogoh Parade di OJS Journey menyebutkan bahwa lelakut dan Barong Landung (patung raja dan ratu) berkontribusi pada bentuk ogoh-ogoh yang bergoyang saat dipapah, menciptakan ilusi hidup.

Munculnya Ogoh-Ogoh Bali di Era 1950-an

Ogoh-ogoh modern pertama kali muncul sekitar 1950-an di Puri Kesiman, Denpasar melalui Sanggar Gases Sesetan milik Wayan Candra. Patung ini disebut onggok-onggok atau "diangkat berulang" karena gerakan goyangnya, baru dinamai ogoh-ogoh pada 1984.

Pada tahun 1990, ogoh-ogoh mulai diikutsertakan dalam ajang Pekan Kesenian Bali (PKB) XII sebagai lomba antar kabupaten dan kota. Hal ini membuat tradisi ogoh-ogoh cepat dikenal dan menyebar ke seluruh Bali.

Menurut FinnsBeachClub.com, keterlibatan para seka teruna-teruni (pemuda di banjar) menjadikan kegiatan ini semakin bergengsi. Bahkan, biaya pembuatan satu ogoh-ogoh bisa mencapai puluhan juta rupiah karena bentuknya yang besar dan detailnya yang rumit.

Transformasi Ritual Menjadi Atraksi Wisata Global

Karena waktunya berdekatan dengan Hari Raya Nyepi, ogoh-ogoh menjadi salah satu tontonan yang menarik bagi para turis. Meski tidak disebut dalam kitab lontar Hindu yang suci, tradisi ini tetap diterima sebagai bagian dari perkembangan budaya masyarakat Bali.

Dalam buku Ogoh-Ogoh Bali: The Art, Culture, and Rituals Behind Bali's Silent Day karya Rimbun Canggu dijelaskan bahwa parade ogoh-ogoh biasanya dimulai pukul 19.00 pada malam Pangrupukan. Setelah diarak, ogoh-ogoh akan dibakar di perempatan jalan sebagai simbol membersihkan energi negatif atau bhuta kala.

Saat ini ada banyak perlombaan ogoh-ogoh, mulai dari tingkat banjar hingga provinsi. Hal ini membuat para pembuat ogoh-ogoh semakin kreatif, mulai dari membuat tokoh-tokoh mitologi seperti Rangda hingga ogoh-ogoh bertema kritik sosial modern seperti isu korupsi.

Inovasi Desain dan Nilai Pendidikan Kearifan Lokal

Patung ogoh-ogoh biasanya memiliki tinggi 3–5 meter dan dibuat dari bahan sederhana seperti bambu, styrofoam, serta kertas daur ulang. Patung ini kemudian dihias dengan lampu LED dan diberi mekanisme agar bisa bergerak.

Menurut jurnal TRADISI OGOH-OGOH MASYARAKAT BALI SEBAGAI MEDIA EDUKASI karya Triwikrama, ogoh-ogoh tidak hanya untuk parade, tetapi juga menjadi sarana belajar tentang gotong royong, toleransi, dan introspeksi diri. Banyak tema ogoh-ogoh menggambarkan masalah sosial, misalnya kerusakan lingkungan atau kritik terhadap perilaku Gen Z. Anak-anak muda juga memanfaatkan TikTok untuk membuat parade ogoh-ogoh menjadi viral, sehingga tradisi ini tetap hidup di era digital.

Di Pasraman Widya Dharma, ogoh-ogoh digunakan sebagai media pembelajaran tentang kearifan lokal Tri Hita Karana, yaitu ajaran tentang menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Jurnal Balinese Actions and Solidarity Regarding Ogoh-Ogoh di IJHSRS juga menekankan bagaimana kebersamaan warga banjar Untal-Untal dalam membuat ogoh-ogoh membantu memperkuat identitas dan solidaritas masyarakat Hindu Bali.

Baca juga: Perbedaan Topeng Cirebon dengan Topeng Bali yang Paling Mencolok

(NDA)