Sejarah Pattimura: Pahlawan Maluku yang Berani Melawan Monopoli Belanda

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Thomas Matulessy atau yang dikenal dengan sebutan Kapitan Pattimura adalah simbol perlawanan rakyat Maluku terhadap tirani kolonial Belanda di abad ke-19. Nama Pattimura sendiri bukan sekadar julukan biasa, melainkan gelar kehormatan yang menunjukkan kebesaran jiwa seorang pemimpin. Lahir pada 8 Juni 1783 di Saparua, Maluku, sosok pahlawan ini menggoreskan tinta emas dalam sejarah perjuangan Indonesia dengan kecerdikan strategi dan pengorbanan totalnya demi membebaskan rakyatnya dari belenggu penjajahan yang menindas. Artikel ini akan mengulas secara lengkap sejarah Pattimura, mulai dari latar belakang hingga penghargaan yang diberikan negara untuknya.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Masa Muda dan Latar Belakang Keluarga
Pattimura terlahir dengan nama Thomas Matulessy dari pasangan Frans Matulessia dan Fransina Tilahoi. Ia memiliki seorang adik bernama Yohanis. Keluarga Matulessia beragama Kristen Protestan dan merupakan keluarga terhormat di Saparua.
Dalam jurnal yang ditulis Mus Huliselan dengan judul Perang Pattimura untuk Maluku dan Indonesia disebutkan bahwa sejak usia 13 tahun, Pattimura telah terlibat dalam berbagai diskusi dengan orang dewasa tentang penjajahan Belanda terhadap rakyat Maluku.
Pada 1810, ketika Kepulauan Maluku dikuasai Inggris, Pattimura bergabung dengan pasukan militer mereka dan mencapai pangkat sersan mayor. Setelah penandatanganan Perjanjian Anglo-Belanda pada 13 Agustus 1814, Maluku dikembalikan kepada Belanda pada 1816.
Pattimura menghadiri upacara penyerahan tersebut, namun ia dan rekan-rekan prajuritnya justru diberhentikan secara paksa, melanggar isi perjanjian yang seharusnya memberikan pilihan kepada mereka.
Pemicu Perlawanan Rakyat Maluku
Kembalinya Belanda membawa malapetaka bagi rakyat Maluku. Kebijakan kolonial yang diterapkan sangat menindas, mulai dari sistem monopoli perdagangan rempah-rempah, kerja paksa, penyerahan wajib hasil bumi seperti cengkih dan pala, hingga pembatasan aktivitas keagamaan.
Menurut penelitian Nesti Lauri yang dipublikasikan dalam jurnal Krinok berjudul Analisis Kepemimpinan Pattimura dalam Perlawanan Terhadap Belanda di Maluku, Residen Saparua Johannes Rudolph van den Berg sangat sewenang-wenang dalam menerapkan kerja paksa dan pajak yang memberatkan rakyat.
Rakyat Maluku yang sebelumnya sempat merasakan perlakuan lebih baik dari Inggris, kini harus kembali menderita. Guru-guru agama diberhentikan, sekolah ditutup, jumlah pendeta dikurangi, dan bahkan rencana penggantian uang logam menjadi uang kertas membuat rakyat khawatir tidak bisa memberikan persembahan di gereja untuk membantu orang miskin. Kondisi ini memicu kemarahan dan perlawanan yang terorganisir.
Pengangkatan Pattimura sebagai Pemimpin
Pada pertemuan 14 Mei 1817, rakyat Maluku sepakat mengangkat Thomas Matulessy sebagai pemimpin perlawanan dengan gelar Kapiten Pattimura.
Setelah dilantik, ia memilih beberapa tokoh untuk membantunya, antara lain Anthony Rhebok, Philips Latumahina, Lucas Selano, Arong Lisapafy, Melchior Kesaulya, Sarassa Sanaki, serta Christina Martha Tiahahu dan ayahnya Paulus Tiahahu. Pada 15 Mei 1817, operasi penyerangan dimulai dengan membakar kapal-kapal Belanda di pelabuhan dan menyerang Benteng Duurstede.
Perlawanan tersebut berhasil gemilang. Benteng Duurstede jatuh ke tangan pasukan Pattimura, dan Residen Van den Berg beserta keluarganya tewas dalam pertempuran. Pada 20 Mei 1817, diadakan rapat raksasa di Haria yang menghasilkan Proklamasi Haria, sebuah pernyataan kebulatan tekad untuk terus melawan Belanda hingga titik darah penghabisan.
Perlawanan Meluas dan Balasan Belanda
Kemenangan di Saparua membakar semangat perlawanan di wilayah lain. Belanda mengirim Mayor Beetjes dengan 300 pasukan untuk merebut kembali benteng, namun upaya ini justru berakhir dengan kematian Mayor Beetjes beserta hampir 200 tentaranya. Hanya 30 orang yang selamat dari serangan balasan pasukan Pattimura.
Belanda kemudian mengerahkan pasukan besar-besaran dari Jawa dan memblokir akses masuk ke Maluku, menyebabkan rakyat kekurangan makanan. Pada bulan Juli 1817, benteng yang sempat dikuasai Pattimura berhasil direbut kembali oleh Belanda dengan bantuan kapal perang dan meriam. Pattimura kemudian melanjutkan perjuangan dengan strategi perang gerilya.
Penangkapan dan Akhir Perjuangan
Belanda menggunakan cara licik dengan menyogok Raja Booi yang kemudian mengkhianati Pattimura. Pada 11 November 1817, Pattimura dan pasukannya dikepung dan ditangkap di Hutan Booi. Selama dalam tahanan, ia diinterogasi namun menutup rapat mulutnya sehingga tidak banyak informasi yang didapat Belanda. Pada 16 Desember 1817, Kapitan Pattimura bersama Anthony Rhebok, Philip Latumahina, dan Said Parintah dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan di depan Benteng Victoria, Ambon.
Warisan dan Penghargaan
Perjuangan Pattimura tidak pernah dilupakan. Pada 6 November 1973, melalui SK Presiden No. 087/TK/1973, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama beliau diabadikan melalui Universitas Pattimura di Ambon, KRI Pattimura, berbagai nama jalan, dan bahkan pernah dicetak di uang kertas seribu rupiah.
Monumen Pattimura di Taman Pattimura Ambon menjadi simbol keberanian dan kecintaannya terhadap tanah air, menginspirasi generasi muda untuk terus menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan pengorbanan luar biasa.
Baca juga: Ciri-Ciri Ras Melanesoid di Indonesia Wilayah Papua dan Maluku Bagian Timur
(NDA)
