Konten dari Pengguna

Sejarah Pembuatan Garam Tradisional di Bali dan Madura

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pembuatan garam tradisional di Bali dan Madura. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembuatan garam tradisional di Bali dan Madura. Foto: Unsplash

Pembuatan garam tradisional di Bali dan Madura menunjukkan bahwa masyarakat pesisir sangat memanfaatkan alam dengan cara sederhana namun cermat. Matahari, air laut, tanah, bambu, dan kelapa menjadi alat utama pembuatan garam tanpa mesin pabrik. Di Tejakula, Bali, dan Pamekasan, Madura, teknik ini diwariskan turun-temurun sejak abad ke-16. Buku Pengelolaan Sumber Daya dan Ekosistem Pesisir karya Untari, dkk menjelaskan bahwa proses alami tersebut menghasilkan garam dengan kandungan mineral khas. Karena nilai sejarah dan budayanya, garam Bali dan Madura kini dikenal sebagai warisan budaya takbenda Indonesia. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut mengenai sejarah pembuatan garam tradisional di Bali dan Madura.

Daftar isi

Teknik Pembuatan Garam Tradisional Madura: Garam Tengiri

Di Madura, petambak membuat garam tengiri dengan menjemur air laut di lahan tanah liat khusus. Air laut disiram dan dijemur selama dua sampai tiga hari, tergantung cuaca. Jurnal Ethnical Barriers Tenaga Kerja Lokal Tambak Garam mencatat proses penyiraman dilakukan hingga tiga kali sebelum kristal garam dipanen.

Merujuk jurnal Kajian Ilmiah Proses Produksi Garam di Madura menjelaskan bahwa tanah liat mampu menyerap zat pahit. Hasilnya adalah garam krosok berwarna putih dengan kadar NaCl sekitar 92 hingga 96%.

Meskipun teknologi geomembrane modern dapat meningkatkan produksi, metode tanah liat tradisional tetap dipertahankan sebagai identitas budaya Madura.

Pembuatan Garam Palungan Bali dengan Teknologi Bambu dan Kelapa

Di Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, masyarakat memproduksi garam palungan menggunakan batang kelapa dan bambu. Pasir pantai terlebih dahulu dijemur, lalu disiram air laut. Cairan asin tersebut kemudian disaring melalui palungan bambu hingga menetes perlahan.

Portal Ceraken Baliprov.go.id menjelaskan bahwa kristal garam akan jatuh ke wadah daun kelapa. Buku Pengelolaan Sumber Daya dan Ekosistem Pesisir menyebut bambu dan kelapa membantu menyerap rasa pahit. Garam Bali yang dihasilkan terasa lebih jernih dan kaya mineral. Tahapan lokal seperti nabuh, tulud, dan beliung masih dijalankan sejak masa Kerajaan Klungkung pada 1578 Masehi.

Perbandingan Garam Bali dan Madura

Secara umum, garam Madura berbentuk krosok kasar dan banyak digunakan untuk pengawetan ikan. Garam Bali bertekstur lebih halus sehingga cocok untuk konsumsi harian.

Menurut jurnal Analisis Status Keberlanjutan Pengusaha Garam di Tiga Wilayah Pulau Madura karya Maghfiroh Andriani Astutik, dkk., Madura memiliki volume produksi garam yang tinggi, meskipun hasilnya sangat bergantung musim.

Sebaliknya, produksi garam Bali lebih kecil namun konsisten dalam kualitas premium. Kendati begitu, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendorong inovasi agar produksi garam Bali meningkat, sehingga garam Madura bisa diarahkan untuk memperkuat pasar ekspor. Data nasional sendiri menunjukkan Madura menyumbang sekitar 60% produksi garam Indonesia.

Pelestarian dan Tantangan Garam Tradisional

Pelestarian garam tradisional dilakukan melalui festival budaya dan edukasi kepada generasi muda. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual dan Kementerian Perdagangan bahkan melindungi garam Tejakula sebagai produk Indikasi Geografis.

Tantangan utama petambak adalah perubahan cuaca dan persaingan dengan garam industri. Meski demikian, banyak petambak tetap bertahan menggunakan cara leluhur karena dipercaya lebih sehat dan ramah lingkungan. Keberlanjutan teknik ini tidak hanya menjaga rasa garam, tetapi juga mempertahankan identitas budaya pesisir Bali dan Madura.

Selain itu, keterlibatan komunitas lokal dan wisata edukasi garam mulai dikembangkan untuk menambah nilai ekonomi. Pengunjung dapat melihat langsung proses produksi, memahami filosofi kerja petambak, dan menghargai hubungan manusia dengan alam yang seimbang.

Pendekatan ini diharapkan membuat generasi muda tertarik melanjutkan usaha garam tradisional tanpa meninggalkan kearifan lokal yang telah terbukti bertahan ratusan tahun. Upaya bersama diperlukan agar warisan ini tetap hidup berkelanjutan nasional.

Baca juga: Sejarah Bubur Pedas Melayu, Hidangan yang Jadi Identitas Masyarakat Sambas

(NDA)