Konten dari Pengguna

Sejarah Penemuan Candi Muaro Jambi di Sumatera

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Candi Muaro Jambi. Foto: Pemprov Jambi
zoom-in-whitePerbesar
Candi Muaro Jambi. Foto: Pemprov Jambi

Candi Muaro Jambi adalah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara yang menyimpan jejak kejayaan peradaban masa lampau. Terletak di tepi Sungai Batanghari, sekitar 26 kilometer dari Kota Jambi, kompleks seluas 3.981 hektare ini membentang sepanjang 7,5 kilometer mengikuti aliran sungai terpanjang di Sumatera. Penemuan situs megah ini pada abad ke-19 membuka tabir sejarah tentang pusat pendidikan Buddha internasional yang pernah menjadi tempat berkumpulnya pelajar dari India, Tiongkok, hingga Tibet untuk mendalami ilmu pengetahuan dan ajaran agama. Artikel ini akan menguraikan lebih lanjut informasi seputar sejarah penemuan Candi Muaro Jambi di Sumatera.

Daftar isi

Penemuan Awal oleh Letnan Inggris

Merujuk buku 50 Best Of Sumatera karya Endah Kurnia Wirawati, kompleks Candi Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1824 oleh seorang letnan Inggris bernama S.C. Crooke.

Pada masa itu, Crooke sedang melakukan pemetaan daerah aliran Sungai Batanghari untuk kepentingan militer kolonial Inggris. Dalam ekspedisinya, ia menemukan reruntuhan bangunan bata kuno yang tersebar di sepanjang tepian sungai.

Penemuan Crooke ini menjadi catatan resmi pertama tentang keberadaan kompleks percandian tersebut, meskipun masyarakat lokal sebenarnya telah lama mengetahui keberadaan situs ini. Namun, setelah laporan awal tersebut, kompleks candi ini tidak mendapat perhatian serius dari dunia arkeologi selama lebih dari satu abad.

Penggalian Arkeologis oleh F.M. Schnitger

Pada tahun 1935-1936, seorang arkeolog Belanda bernama F.M. Schnitger melakukan penggalian arkeologis di situs Candi Muaro Jambi. Schnitger adalah peneliti yang tertarik dengan peninggalan Hindu-Buddha di Sumatera dan melakukan berbagai ekspedisi untuk mendokumentasikan situs-situs bersejarah di pulau tersebut.

Penggalian yang dilakukan Schnitger mengungkapkan berbagai struktur bangunan candi yang terbuat dari bata, serta artefak-artefak penting yang menunjukkan bahwa kompleks ini memiliki fungsi religius dan pendidikan yang sangat penting pada masanya. Sejak penelitian Schnitger inilah, kompleks candi ini mulai dikenal oleh masyarakat luas dan kalangan akademisi.

Pemugaran Serius Era Indonesia Merdeka

Dalam jurnal yang ditulis S. Pamungkas dan N. Agustiningsih berjudul Candi Muaro Jambi: Kajian Cerita Rakyat, Arkeologi, Dan Pariwisata disebutkan bahwa pemugaran serius baru dimulai pada tahun 1975 di bawah pimpinan R. Soekmono, seorang arkeolog terkemuka Indonesia. Pemugaran ini merupakan upaya pemerintah Indonesia untuk melestarikan warisan budaya yang sangat berharga.

Berdasarkan penelitian terhadap aksara Jawa Kuno pada beberapa lempeng yang ditemukan, pakar epigrafi Boechari menyimpulkan bahwa peninggalan ini berasal dari abad ke-7 hingga ke-12 Masehi. Kesimpulan ini memperkuat dugaan bahwa kompleks ini merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu yang pernah berjaya menguasai jalur perdagangan maritim di Nusantara.

Temuan Arkeologis yang Mengagumkan

Kompleks Candi Muaro Jambi tidak hanya terdiri dari bangunan candi, tetapi juga berbagai struktur pendukung seperti parit atau kanal kuno buatan manusia, kolam penampungan air, serta gundukan tanah yang menyimpan struktur bata kuno. Hingga kini, telah teridentifikasi 110 bangunan candi dan 85 menapo atau gundukan tanah yang tersebar di delapan desa.

Berbagai artefak berharga ditemukan di situs ini, termasuk arca Prajnaparamita, Dwarapala, Gajahsimha, umpak batu, lumpang batu, gong perunggu dengan tulisan Tiongkok, mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Tiongkok, manik-manik, serta fragmen besi dan perunggu.

Keberagaman artefak ini menunjukkan bahwa kawasan ini dahulu merupakan pemukiman padat yang menjadi titik temu berbagai kebudayaan besar dari Persia, Tiongkok, dan India.

Status Cagar Budaya dan Upaya Pelestarian

Kesembilan candi yang telah berhasil dipugar antara lain Candi Koto Mahligai, Kedaton, Gedong Satu, Gedong Dua, Gumpung, Tinggi, Telago Rajo, Kembar Batu, dan Candi Astano. Semua candi tersebut menunjukkan corak Buddhisme Mahayana Tantrayana yang kuat.

Sejak tahun 2009, kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia, mengakui pentingnya kompleks ini dalam sejarah peradaban Asia Tenggara.

Baca juga: Asal Usul Candi Muara Takus di Riau, Keunikan, dan Fungsinya

(NDA)