Konten dari Pengguna

Sejarah Penemuan Fosil Pithecanthropus Erectus di Trinil

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sejarah penemuan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sejarah penemuan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil. Foto: Unsplash

Sejarah penemuan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil, Jawa Timur merupakan salah satu temuan paling berharga dalam dunia paleoantropologi. Adapun Pithecanthropus erectus sendiri berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Penemuan tersebut dilakukan oleh Eugene Dubois pada tahun 1891. Bagian fosil yang ditemukan meliputi tulang rahang, gigi geraham, bagian atas tengkorak, dan tulang paha. Artikel ini akan menguraikan asam mula penemuan dan ciri-ciri penting dari fosil tersebut secara lebih lengkap.

Daftar isi

1. Asal Mula Penemuan Fosil di Trinil

Seorang dokter militer asal Belanda bernama Eugène Dubois memiliki ketertarikan besar terhadap sejarah evolusi manusia. Ia datang ke Hindia Belanda (Indonesia) dengan tujuan menemukan fosil yang menjadi bukti peralihan antara manusia dan kera.

Setelah melakukan penggalian di beberapa lokasi di Sumatra dan Jawa, Dubois akhirnya memusatkan penelitiannya di daerah Trinil, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, pada tahun 1891. Desa Trinil terletak di tepi Sungai Bengawan Solo, sebuah kawasan yang kaya akan endapan fosil purba.

Menurut buku Sejarah Itu Asyik Jilid: Buku Pendamping Sejarah Indonesia karya Ahmad Muhli Junaidi, Dubois melakukan penggalian pada lapisan endapan aluvial, yaitu tanah liat halus yang mampu menampung air hujan. Dari lapisan inilah ditemukan gigi geraham, atap tengkorak, serta beberapa tulang paha kiri yang menunjukkan bahwa pemiliknya sudah mampu berjalan tegak.

Setelah fosil tersebut direkonstruksi, terbentuklah kerangka manusia dengan ciri-ciri yang masih menyerupai kera. Karena itulah, Dubois menamainya Pithecanthropus erectus, yang berarti manusia kera yang berjalan tegak.

2. Mendapat Perdebatan di Kalangan Ilmuan

Meskipun penemuan di Trinil dianggap luar biasa, fosil Pithecanthropus erectus sempat memicu perdebatan panjang di kalangan ilmuwan tentang kedudukannya dalam klasifikasi evolusi manusia. Menurut buku Paleoantropologi karya Sarlan Adijaya dkk, para ahli akhirnya sepakat untuk mengelompokkan fosil manusia purba tersebut ke dalam genus Homo, dengan nama baru Homo erectus. Penetapan ini menandai salah satu tahapan penting dalam sejarah evolusi manusia, sekaligus membuktikan bahwa proses evolusi tidak hanya terjadi di Afrika, tetapi juga di Asia.

3. Ciri-Ciri Pitchecantropus erectus

Istilah Pithecanthropus erectus berasal dari bahasa Yunani: pithekos berarti “kera”, anthropos berarti “manusia”, dan erectus berarti “tegak”. Jadi, secara harfiah berarti “manusia kera yang berjalan tegak”.

Mengacu pada buku Sejarah Nasional Indonesia: Zaman Prasejarah di Indonesia karya Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, Pithecanthropus erectus memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut:

  • Memiliki hidung lebar dengan tulang pipi dan tulang kening yang menonjol, menandakan bahwa otaknya belum berkembang sempurna.

  • Bentuk tengkorak pendek namun memanjang ke belakang, dengan volume otak sekitar 750–1.000 cc.

  • Tinggi badan dewasa diperkirakan 165–180 cm, menunjukkan bahwa ia sudah mampu berjalan tegak.

  • Berat badan diperkirakan sekitar 80–100 kg.

  • Memiliki alat pengunyah yang kuat.

  • Diduga hidup pada zaman Pleistosen Tengah, sekitar 500 ribu hingga 1 juta tahun yang lalu.

Baca Juga: Tradisi Ma’nene di Toraja: Asal Usul, Waktu Pelaksanaan, Prosesi, dan Maknanya

(SA)