Sejarah Rendang, Makanan Asal Minangkabau yang Mendunia

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa sangka rendang yang awalnya dibuat sebagai bekal perjalanan jauh para pedagang Minangkabau kini dinobatkan sebagai makanan terlezat di dunia? Sejarah rendang dimulai dari dataran tinggi Sumatera Barat pada ratusan tahun lalu, berkembang melalui perjalanan panjang pengaruh budaya India, Islam, dan tradisi lokal Minangkabau. Untuk mengetahui sejarah lengkap seputar rendang selengkapnya, simak uraian di bawah ini hingga tuntas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Akar Sejarah dari Abad ke-16
Sejarah rendang yang paling awal tercatat dalam sumber tertulis dapat ditelusuri hingga abad ke-16. Menurut penelitian Fadly Rahman dalam Journal of Ethnic Foods, naskah Melayu Hikayat Amir Hamzah dari awal abad ke-16 merupakan catatan tertua yang menyebut tentang rendang.
Berdasarkan artikel yang sama, sejarawan Muhammad Nur mengasumsikan bahwa makanan daging seperti rendang telah disebutkan dalam sejarah lisan sejak abad-abad kuno antara abad ke-4 hingga ke-10.
Sementara itu, sejarawan Nurmatias menganggap rendang sebagai bagian dari gerakan dakwah Islam di Sumatera Barat oleh Syekh Burhanuddin pada abad ke-17. Menurut pandangan ini, sebelum masuknya Islam mungkin ada makanan serupa rendang yang terbuat dari daging yang tidak halal, dan setelah Islam masuk terjadi gerakan konsumsi daging halal.
Pengaruh Kuliner India dan Perdagangan Rempah
Sejarah rendang tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kuliner India yang masuk melalui jalur perdagangan rempah. Dalam penelitian berjudul Rendang: The Treasure of Minangkabau oleh Nurhayati dkk yang dipublikasikan di Journal of Applied Sciences, dijelaskan bahwa hingga saat ini dipercaya rendang berasal dari India karena kemiripannya dengan kari India.
Hubungan India dengan Sumatera sendiri telah terjalin sejak abad ke-6 melalui aktivitas politik dan perdagangan rempah yang menyebabkan pertukaran budaya termasuk aspek kuliner.
Adapun proses memasak rendang yang panjang memiliki filosofi tersendiri tentang kesabaran, kebijaksanaan, dan ketulusan. Masakan yang pada awalnya terinspirasi dari kari masaman India kemudian dimasak ulang menjadi kalio dengan saus yang lebih kental, lalu dimasak lebih lanjut hingga warnanya menjadi lebih gelap dan daging menyerap bumbu sepenuhnya.
Budaya Merantau dan Penyebaran Rendang
Sejarah rendang berkembang pesat seiring dengan tradisi merantau masyarakat Minangkabau. Berdasarkan penelitian Fadly Rahman dalam Journal of Ethnic Foods, sejarawan Gusti Asnan mengacu pada laporan Residen Padang H.J.J.L. Ridder de Stuers pada tahun 1827 yang melaporkan tentang bekal daging hitam kering yang dibawa oleh pedagang Minangkabau saat berdagang ke Singapura dan Malaysia.
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Journal of Ethnic Foods oleh Siti Fatimah dkk dengan judul Rendang Lokan: History, Symbol of Cultural Identity, and Food Adaptation of Minangkabau Tribe, dijelaskan bahwa keberadaan variasi rendang adalah hasil dari proses mobilitas dan kemampuan masyarakat Minangkabau beradaptasi dengan lingkungan.
Sejak akhir abad ke-19, banyak lapau atau warung nasi bermunculan di kota-kota Hindia Belanda seiring dengan meningkatnya jumlah perantau Minangkabau, membawa rendang menyebar ke berbagai daerah.
Makanan Tahan Lama dan Pengakuan Global
Salah satu keunikan dalam sejarah rendang adalah kemampuannya bertahan dalam waktu lama tanpa bahan pengawet. Menurut penelitian Nurhayati dkk dalam Journal of Applied Sciences, pada masa lalu masyarakat Minangkabau menyiapkan rendang sedemikian rupa sehingga memiliki umur simpan yang panjang dan dapat disimpan selama perjalanan jauh.
Proses memasak yang lama dengan penggunaan rempah-rempah seperti cabai, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, lengkuas, dan serai tidak hanya menghasilkan cita rasa yang kaya tetapi juga berfungsi sebagai pengawet alami.
Berdasarkan penelitian Fadly Rahman dalam Journal of Ethnic Foods, puncak dari sejarah rendang adalah pengakuan internasional yang diterimanya di abad ke-21. Berdasarkan pemungutan suara global, rendang juga pernah menduduki peringkat pertama sebagai hidangan kelapa terbaik di dunia oleh TasteAtlas.
Baca juga: Mengapa Rendang Minangkabau Diakui Sebagai Salah Satu Makanan Terenak di Dunia?
(NDA)
