Konten dari Pengguna

Sejarah Tritura: Gerakan Mahasiswa yang Mengubah Arah Politik Indonesia

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi demonstran. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi demonstran. Foto: Pexels

Tri Tuntutan Rakyat atau yang disingkat Tritura adalah salah satu gerakan mahasiswa paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Ketika ribuan mahasiswa turun ke jalan pada 10 Januari 1966 menyerukan tiga tuntutan kepada pemerintah, mereka tidak hanya menyuarakan kekecewaan terhadap rezim, tetapi juga memulai babak baru yang mengakhiri era Orde Lama dan melahirkan Orde Baru. Gerakan ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan pemuda dan mahasiswa mampu mengubah arah politik bangsa ketika mereka bersatu dalam tujuan yang sama. Simak sejarah Tritura selengkapnya dalam uraian di bawah ini.

Daftar isi

Latar Belakang Krisis Politik dan Ekonomi

Pada periode 1963-1965, Indonesia mengalami krisis multidimensi yang sangat serius. Menurut St. Purnomo Sidi dalam jurnal berjudul Gerakan Mahasiswa 1966 dan Perubahan Politik di Indonesia yang dipublikasikan Universitas Gadjah Mada, sikap anti-neokolonialisme Presiden Soekarno menyebabkan Indonesia kehilangan dukungan politik dan ekonomi luar negeri. Kebijakan konfrontasi dengan Malaysia dan upaya merebut Irian Barat menguras energi dan anggaran negara.

Situasi semakin memburuk setelah tragedi Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan tujuh jenderal TNI. PKI dituding sebagai dalang di balik peristiwa berdarah tersebut, namun pemerintah Orde Lama dinilai lambat dalam mengambil tindakan tegas. Krisis ekonomi memuncak dengan inflasi yang mencapai ratusan persen, membuat harga kebutuhan pokok melonjak drastis dan rakyat menderita kelaparan.

Lahirnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia

Setelah peristiwa G30S, mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam berbagai organisasi mulai gelisah dengan kondisi bangsa. Organisasi Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia yang dibentuk tahun 1947 mulai terpecah dalam pandangan politik. Sebagian aktivis seperti Soe Hok Gie dan Arif Budiman mengkritik keras pemerintahan Soekarno dan menuntut pembubaran PKI.

Pada 25 Oktober 1965, atas saran Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Sjarif Thajeb, diadakan pertemuan antarhimpunan mahasiswa. Pertemuan ini melahirkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia atau KAMI yang secara tegas menuntut pembubaran PKI dan perbaikan kondisi ekonomi. KAMI kemudian bergabung dengan berbagai kesatuan aksi lainnya seperti KAPI, KAPPI, KABI, KASI, KAWI, dan KAGI dalam satu front bersama.

Rumusan dan Isi Tritura

Pada 9 Januari 1966, Presidium KAMI Pusat mengadakan rapat di Jalan Sam Ratulangi No. 1 dan memutuskan untuk menyelenggarakan demonstrasi besar-besaran.

Dalam buku repositori Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang Gerakan Mahasiswa 1966 dan 1998 dijelaskan bahwa tiga orang wakil KAMI Pusat yaitu Ismid Hadad, Saverinus Suwardi, dan Nazaruddin Nasution merumuskan tiga tuntutan bersejarah tanpa campur tangan pihak lain, yakni:

  1. Bubarkan Partai Komunis Indonesia karena dianggap terlibat dalam G30S dan mengancam ideologi Pancasila.

  2. Rombak Kabinet Dwikora yang dinilai gagal mengendalikan stabilitas politik dan ekonomi serta diisi oleh simpatisan PKI.

  3. Turunkan harga kebutuhan pokok yang sudah sangat memberatkan rakyat akibat kebijakan ekonomi yang tidak tepat.

Demonstrasi Bersejarah 10 Januari 1966

Pada tanggal 10 Januari 1966, di halaman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, untuk pertama kalinya Tritura dikumandangkan. Kolonel Sarwo Edhi yang ketika itu menjabat sebagai Komandan Pasukan Elite RPKAD turut hadir dalam momen bersejarah tersebut. Ribuan mahasiswa kemudian bergerak menuju Gedung Sekretariat Negara untuk menyampaikan tuntutan mereka langsung kepada pemerintah.

Pemerintah menyambut demonstrasi dengan panser, bayonet, dan semburan gas air mata. Pejabat yang ingin ditemui, yakni Wakil Perdana Menteri III Chaerul Saleh, tidak berada di tempat. Demonstrasi terus berlangsung hingga 13 Januari 1966, dan desakan Tritura akhirnya sampai ke telinga Presiden Soekarno.

Respons Pemerintah dan Gugurnya Arif Rahman Hakim

Pada 12 Januari 1966, dua hari setelah Tritura dikumandangkan, wakil mahasiswa diundang Presiden Soekarno di Istana Bogor. Soekarno menjanjikan penurunan harga minyak sebesar 50 persen, namun kemudian menuduh gerakan mahasiswa dimanipulasi oleh kekuatan neokolonialisme dan imperialisme.

Pada 21 Februari 1966, Soekarno mengumumkan perombakan kabinet, tetapi masih mengikutsertakan para simpatisan PKI. Kenyataan ini menyulut kembali gelombang demonstrasi pada 24 Februari 1966.

Dalam bentrokan dengan Resimen Cakrabirawa, pasukan pengawal presiden, seorang mahasiswa Universitas Indonesia bernama Arif Rahman Hakim tertembak dan gugur. Peristiwa tragis ini semakin mempertegas tekad mahasiswa untuk terus memperjuangkan Tritura.

Lahirnya Supersemar dan Orde Baru

Rentetan demonstrasi yang menyuarakan Tritura akhirnya memaksa Presiden Soekarno mengeluarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar.

Surat ini memberikan wewenang kepada Mayor Jenderal Soeharto untuk mengambil segala tindakan yang perlu guna memulihkan keamanan dan ketertiban. Supersemar menjadi awal dari peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru yang berlangsung selama 32 tahun.

Dalam jurnal karya Terra Erlina tentang Peranan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia dalam Proses Peralihan Kepemimpinan Nasional Tahun 1965-1968 disebutkan, Tritura berhasil memobilisasi kekuatan mahasiswa se-Indonesia dan membawa perubahan besar dalam peta politik bangsa.

Baca juga: Penyebab Bom Bali 2002: Motif dan Proses Hukum yang Dilakukan

(NDA)