Sejarah Wayang Golek yang Diciptakan Wali Songo

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Wayang golek merupakan kesenian wayang yang terbuat dari boneka atau kayu berbentuk tiga dimensi, terdiri dari badan, kepala, dan tangan. Jenis wayang ini juga bisa digerakkan, yang membuatnya disebut “golek”.
Dalam Buku Ajar Sejarah Seni Rupa Indonesia susunan Drs. Dwi Budi Harto, M. Sn., kata golek dikaitkan dengan “gilik, golik, golak, gulak-gulik” yang artinya bergerak mencari sesuatu dengan cara berkeliling. Lalu, seperti apa sejarah wayang golek? Simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
1. Asal Mula Wayang Golek
Merujuk pada Sejarah Kesusastraan Melayu Kelasik susunan Dr. Liaw Yock Fang, kehadiran wayang golek tidak dapat dipisahkan dari keberadaan wayang kulit. Jadi, untuk menelusuri sejarah wayang golek, harus memahami penyebaran wayang kulit terlebih dahulu.
Penyebaran wayang di Jawa Barat terjadi pada masa pemerintahan Raden Patah dari Kerajaan Demak. Kemudian semakin disebarluaskan oleh para Wali Songo, yakni para intelektual yang menyebarkan peradaban Islam di pulau Jawa, yaitu:
Maulana Malik Ibrahim
Sunan Ampel
Sunan Giri
Sunan Bonang
Sunan Dradjad
Sunan Kalijaga
Sunan Kudus
Sunan Muria
Sunan Gunung Jati
Pada 1568, ketika Sunan Gunung Jati memegang kendali pemerintahan di Kesultanan Cirebon, wayang semakin populer. Sebab, ia memanfaatkan pagelaran wayang kulit sebagai media dakwah untuk memperluas penyebaran agama Islam.
2. Wayang Golek Lahir
Seiring dengan meningkatnya popularitas wayang kulit, mulai muncul inovasi dalam kesenian ini. Hingga sekitar tahun 1584, salah satu Wali Songo, yakni Sunan Kudus, menciptakan Wayang Golek untuk pertama kali.
Merujuk makalah Wayang Golek yang disusun mahasiswa Universitas Indonesia Muhammad Rafiy Aulia (2018), Sunan Kudus membuat 70 wayang dari kayu. Berikut ciri-cirinya:
Wayang golek laki-laki: berbentuk panjang, bulat, memakai jubah, serban, dan sepatu.
Wayang golek perempuan: memakai kebaya dan tampak seperti miniatur manusia.
Wayang tersebut dipertontonkan kepada masyarakat pada siang hari. Ceritanya bersumber dari kisah lokal atau imajinasi dalang, dan tentunya sarat dengan pesan ajaran Islam.
3. Penyebaran Wayang Golek
Pertunjukkan wayang golek menarik hati ulama hingga santri Cirebon yang sedang berkunjung atau berguru ke wilayah Sunan Kudus. Akhirnya, ide wayang golek itu dibawa ke Cirebon.
Pementasan wayang golek di Cirebon dimulai sejak Kesultanan Cirebon berada di tangan Panembahan Ratu (1540-1650). Jenis wayang yang ditampilkan saat itu adalah wayang golek papak atau cepak.
Wayang golek memang ada banyak jenisnya. Berikut beberapa di antaranya dikutip dari jurnal Mengenal Sejarah Singkat Wayang Golek oleh Arya Surendy Devankha dkk:
Wayang golek papak atau cepak: Wayang berkepala datar yang menceritakan tentang legenda Cirebon dan sejarah Jawa dengan muatan ajaran agama Islam.
Wayang golek purwa: Menceritakan kisah Ramayana dan Mahabharata, sering dipentaskan di wilayah Sunda.
Wayang golek menak: Mengangkat kisah masa perjuangan Nabi Muhammad SAW yang menyebarkan agama Islam.
Wayang golek Sunda: Berbentuk boneka-boneka kecil dengan semacam cempurit untuk pegangan tangan dalang. Ceritanya bersumber dari serial Ramayana dan Mahabarata.
Baca Juga: Sejarah Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya Indonesia yang Penuh Nilai Tradisi
