Konten dari Pengguna

Tips Mengurangi Risiko Tersambar Petir di Rumah agar Tetap Aman

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tips mengurangi risiko tersambar petir di rumah. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tips mengurangi risiko tersambar petir di rumah. Foto: Pexels

Meskipun rumah dianggap sebagai tempat paling aman saat terjadi badai petir, risikonya masih tetap ada. Petir dapat masuk ke dalam ruangan melalui material penghantar listrik seperti kabel, pipa, atau logam. Untuk mengurangi bahaya, penting untuk mengetahui tips mengurangi risiko tersambar petir di rumah. Simak langkah-langkah yang perlu dilakukan berdasarkan panduan dari laman National Weather Service dan Centers for Disease Control and Prevention (CDC).

Daftar isi

1. Hindari Bersentuhan dengan Air

Jangan melakukan kontak dengan air mengalir selama badai petir karena petir dapat merambat melalui pipa bangunan. Meski risikonya lebih kecil pada pipa plastik dibandingkan pipa logam, tetap lebih aman untuk menghindari penggunaan air.

2. Jangan Sentuh Peralatan Elektronik

Petir bisa merambat melalui kabel. Jika mengenai sistem kelistrikan, peralatan yang terhubung berisiko rusak atau hancur. Bahkan, menyentuh atau menggunakan peralatan saat sambaran terjadi juga dapat menyebabkan sengatan listrik.

3. Cabut Peralatan Elektronik

Kecuali memasang pelindung lonjakan arus (surge protector) di rumah, sebaiknya cabut peralatan elektronik saat badai. Perangkat dengan papan sirkuit sangat sensitif terhadap sambaran petir. Untuk itu, prioritaskan mencabut perangkat elektronik seperti:

  • Komputer

  • Laptop

  • Kulkas

  • Televisi

  • Mesin cuci

  • Konsol gim

4. Hindari Lantai dan Dinding Beton

Beton bisa menjadi penghantar listrik karena didalamnya diperkuat tulangan logam. Oleh karena itu, saat badai petir jangan berbaring di lantai beton atau bersandar di dinding yang mungkin mengandung tulangan tersebut.

5. Jangan Gunakan Telepon Kabel

Telepon kabel berisiko tinggi saat badai petir karena dapat menghantarkan listrik. Sebaiknya gunakan telepon nirkabel atau ponsel yang lebih aman.

6. Jauhi Jendela dan Pintu

Petir bisa masuk melalui jendela atau pintu yang terbuka. Tutup rapat semua akses tersebut selama badai untuk mengurangi risiko bahaya.

7. Tetap Waspada Setelah Badai

Meski hujan sudah reda, petir masih bisa menyambar. Cara sederhana untuk menilainya adalah dengan menghitung jeda antara kilat dan guntur. Jika jaraknya kurang dari 30 detik, artinya petir cukup dekat untuk menyambar. Dalam situasi seperti ini, tetaplah di dalam ruangan. Tunggu setidaknya 30 menit setelah badai benar-benar berakhir sebelum keluar.

8. Gejala Orang yang Tersambar Petir

Orang yang tersambar petir bisa kehilangan kesadaran, jantung berhenti berdetak, atau mengalami syok dengan gejala kulit pucat, dingin, nadi cepat, mual, muntah, hingga pupil membesar. Menurut laman First Aid Training Cooperative, pertolongan pertama yang perlu dilakukan adalah:

  • Periksa jalan napas dan pastikan korban bernapas. Jika tidak, segera hubungi bantuan medis dan lakukan CPR.

  • Periksa kemungkinan cedera tulang belakang atau leher. Catat kelainan tersebut, lalu informasikan pada paramedis.

  • Rawat luka bakar dengan air mengalir selama 20 menit dan tutup perban steril untuk mencegah infeksi.

  • Periksa mata dan telinga karena bisa rusak akibat sambaran petir yang bisa menimbulkan kebutaan atau tuli sementara.

  • Jika korban kebingungan, mual, atau hilang ingatan, jaga mereka tetap tenang dan berikan mereka banyak dukungan.

  • Jika korban mengalami syok, baringkan korban telentang dengan kaki terangkat setidaknya 15 cm, atau baringkan dalam posisi miring jika tidak sadar untuk mencegah penyumbatan oleh lidah atau muntahan.

Baca Juga: 8 Tips Aman Menghadapi Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan

(SA)