Konten dari Pengguna

Tradisi Grebeg Maulud di Jawa Tengah: Asal Usul, Prosesi, hingga Maknanya

Hendro Ari Gunawan

Hendro Ari Gunawan

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta membawa gunungan menuju Pakualaman saat Grebeg Maulud/Jimawal 1957 di kawasan Keraton Yogyakarta, Kamis (28/9). Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah Abdi Dalem Keraton Yogyakarta membawa gunungan menuju Pakualaman saat Grebeg Maulud/Jimawal 1957 di kawasan Keraton Yogyakarta, Kamis (28/9). Foto: Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam merayakan hari besar keagamaan, dan salah satu yang paling unik adalah tradisi Grebeg Maulud di Jawa Tengah. Tradisi ini merupakan perayaan memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan secara megah oleh keraton-keraton di Jawa, terutama Keraton Yogyakarta dan Keraton Surakarta (Solo). Selain bernilai religius, upacara ini juga menjadi simbol hubungan harmonis antara budaya Jawa dan ajaran Islam yang telah mengakar sejak berabad-abad lalu. Di bawah ini akan dijelaskan lebih dalam mengenai tradisi Grebeg Maulud yang ada di Jawa Tengah.

Daftar isi

Asal Usul Tradisi Grebeg Maulud di Jawa Tengah

Tradisi Grebeg Maulud merupakan perpaduan antara ajaran Islam dan budaya Jawa yang telah diwariskan sejak masa Kerajaan Demak oleh Sunan Kalijaga sebagai media dakwah. Tradisi ini kemudian dilanjutkan dan dipopulerkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta serta Pakubuwono II di Surakarta pada abad ke-18.

Saat itu, Islam sudah menjadi agama mayoritas di Jawa, namun masyarakat masih memegang tradisi kejawen. Karena itu, para raja berupaya memadukan nilai-nilai Islam dengan adat lokal agar lebih mudah diterima.

Menurut buku Sejarah Kebudayaan Jawa karya Soekmono, kata “grebeg” berasal dari “gebeg” atau “gerebeg” yang berarti keramaian besar. Awalnya, grebeg merupakan upacara kerajaan untuk memperingati peristiwa penting seperti kenaikan tahta atau hari besar Islam. Namun, Grebeg Maulud menjadi paling istimewa karena ditujukan untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam sejarahnya, Grebeg Maulud juga berfungsi sebagai media dakwah dan syiar Islam. Melalui pertunjukan gamelan, wayang kulit, dan kirab gunungan hasil bumi, tradisi ini mengajarkan nilai kebersamaan dan rasa syukur. Hingga kini, Grebeg Maulud tetap dilestarikan di Yogyakarta dan Surakarta sebagai simbol keharmonisan antara Islam dan budaya Jawa.

Prosesi dan Simbol dalam Grebeg Maulud

Prosesi Grebeg Maulud diadakan dengan penuh upacara adat dan melibatkan berbagai unsur kerajaan serta masyarakat umum. Puncak acara ini adalah arak-arakan gunungan, yaitu tumpukan hasil bumi yang disusun menyerupai gunung dan diarak keluar dari keraton menuju masjid besar untuk diserahkan kepada masyarakat.

Gunungan tersebut terdiri dari berbagai hasil bumi seperti sayuran, buah-buahan, dan makanan tradisional, yang melambangkan kemakmuran dan rasa syukur kepada Tuhan. Setelah upacara doa bersama, masyarakat akan berebut isi gunungan, karena mereka meyakini bahwa siapa yang mendapatkan bagian dari gunungan akan memperoleh berkah dan keberuntungan.

Menurut jurnal yang diterbitkan UIN Sunan Kalijaga dengan judul Kebudayaan Islam Nusantara karya Muhammad Abdul Karim, prosesi gunungan dalam Grebeg Maulud menggambarkan filosofi hubungan antara raja, rakyat, dan Tuhan. Raja bertindak sebagai pemimpin yang menjaga keseimbangan antara dunia spiritual dan dunia nyata, sedangkan rakyat sebagai penerima berkah dari kemakmuran negeri.

Peran Keraton dalam Melestarikan Grebeg Maulud

Keraton Yogyakarta dan Surakarta memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian tradisi ini. Meskipun zaman telah berubah, prosesi Grebeg Maulud masih dilakukan dengan tata cara yang hampir sama seperti ratusan tahun lalu. Setiap tahun, para abdi dalem, prajurit keraton, dan masyarakat sekitar turut serta memeriahkan acara ini dengan penuh khidmat.

Keraton juga bekerja sama dengan pemerintah daerah dan lembaga kebudayaan untuk menjadikan Grebeg Maulud sebagai bagian dari agenda wisata budaya tahunan. Tradisi ini menjadi daya tarik wisata religi dan budaya yang membawa banyak pengunjung lokal maupun mancanegara.

Makna Filosofis dalam Grebeg Maulud

Lebih dari sekadar perayaan, Grebeg Maulud mengandung makna filosofis yang dalam. Upacara ini mencerminkan rasa syukur, persaudaraan, dan gotong royong. Hasil bumi yang disusun menjadi gunungan mencerminkan harapan akan kesuburan dan kesejahteraan, sementara pembagian gunungan kepada rakyat menegaskan nilai kedermawanan dan keadilan sosial.

Dalam perspektif Islam, perayaan ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW dan pengingat bagi umat Islam untuk meneladani akhlaknya. Seperti dijelaskan oleh Hidayat dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Islam bertajuk Tradisi Grebeg Maulud sebagai Bentuk Dakwah Islam di Jawa Tengah, Grebeg Maulud adalah simbol bahwa dakwah Islam dapat berjalan berdampingan dengan budaya lokal tanpa menghilangkan esensi keislaman.

Rangkaian Acara Grebeg Maulud 2025 (Keraton Yogyakarta)

Pada tahun 2025, Garebeg Maulud jatuh pada Jumat 5 September 2025 atau bertepatan dengan 12 Mulud 1959 dalam kalender Jawa. Berikut rangkaian acara lengkapnya yang dikutip dari akun Instagram resmi Keraton Jogja @kratonjogja.

  • Miyos Gangsa: Jumat 29 Agustus 2025 pukul 19.30-00.00 di Bangsal Pancaniti (Kamandungan Lor) Masjid Gedhe. Diawali penyebaran udhik-udhik oleh utusan Dalem.

  • Gladhi Resik Prajurit: Minggu 31 Agustus 2025 pukul 06.30 di Kamandungan Kidul – Keben – Pagelaran – Masjid Gedhe.

  • Kajian Maulid Nabi Muhammad SAW: Sabtu 30 Agustus hingga Rabu 3 September 2025 di Kagungan Dalem Masjid Gedhe, usai Ashar dan Isya.

  • Numplak Wajik: Selasa 2 September 2025 pukul 15.30 di Panti Pareden, Kompleks Magangan Keraton.

  • Kondur Gangsa: Kamis 4 September 2025 pukul 19.00-00.00 di Pagongan dan Halaman Masjid Gedhe, diawali penyebaran udhik-udhik oleh Ngarsa Dalem.

  • Mbethak: Kamis 4 September 2025 pukul 19.00 hingga Jumat 5 September 2025 pukul 05.00 di Bangsal Sekar Kedhaton (tertutup umum).

  • Garebeg Mulud (puncak acara): Jumat 5 September 2025 pukul 09.00 di Pagelaran Keraton Jogja – Masjid Gedhe (terbuka umum).

  • Pisowanan Garebeg Mulud Dal: Jumat 5 September 2025 pukul 11.00 di Kagungan Dalem Bangsal Kencana (tertutup umum).

  • Ringgitan Bedhol Songsong: Jumat 5 September 2025 pukul 19.30 di Tratag Gedhong Probayeksa, disiarkan live YouTube Kraton Jogja.

Grebeg Maulud sebagai Warisan Budaya Takbenda

Pada tahun 2015, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Grebeg Maulud sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Nasional. Penetapan ini menegaskan pentingnya upacara tersebut sebagai simbol identitas budaya dan warisan leluhur yang perlu dijaga keberlanjutannya.

Kini, Grebeg Maulud tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga sarana edukasi bagi generasi muda untuk mengenal nilai-nilai luhur budaya Jawa. Upacara ini terus dilestarikan, bukan hanya karena nilai spiritualnya, tetapi juga karena mampu memperkuat persatuan masyarakat lintas generasi.

Baca juga: Sejarah Pelabuhan Semarang pada Abad ke-19: Perkembangan dan Pengaruhnya

(NDA)