Tsunami Non Tektonik: Pengertian, Penyebab, dan Perbedaannya dengan Tektonik

Penulis yang percaya setiap kata punya kekuatan. Spesialis di bidang teknologi, personal finance, dan otomotif.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Hendro Ari Gunawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tsunami non tektonik adalah tsunami yang muncul akibat longsor bawah laut, letusan gunung berapi, runtuhnya es gletser, atau tumbukan meteorit. Walaupun kejadiannya cukup jarang, tsunami jenis ini bisa sangat berbahaya. Pasalnya, tsunami non tektonik umumnya terjadi dengan sangat cepat, sehingga sulit untuk memberikan peringatan dini bagi masyarakat di dekat lokasi kejadian. Karena proses terjadinya berbeda dari tsunami akibat gempa, simak terus uraian ini untuk mendapatkan pemahaman tentang tsunami non tektonik lebih lanjut.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Longsor Bawah Laut sebagai Pemicu Tsunami Non Tektonik
Salah satu penyebab utama tsunami non tektonik adalah longsor bawah laut. Menurut United States Geological Survey (USGS), tsunami bisa terbentuk ketika massa tanah atau sedimen bergerak cepat dan mendorong air laut secara tiba-tiba.
Tsunami akibat longsor bawah laut umumnya dipengaruhi oleh jenis longsoran dan volumenya. Contohnya, tsunami Papua Nugini tahun 1998 yang dipicu longsor tipe slump menghasilkan gelombang setinggi 15 meter. Sementara itu, longsor translasi Storegga di lepas pantai Norwegia memicu tsunami setinggi 20 hingga 30 meter di Kepulauan Shetland.
Pacific Tsunami Museum menambahkan bahwa pergerakan sedimen di dasar laut mengganggu keseimbangan air, lalu gaya gravitasi menyebarkan gelombang ke sekitarnya. Tsunami jenis ini jarang terjadi dan sulit diprediksi karena sering berkaitan dengan gempa kecil atau longsor tiba-tiba.
Letusan Gunung Berapi dan Kolapsnya Kaldera Terhadap Tsunami Non Tektonik
Letusan gunung berapi juga dapat memicu tsunami non tektonik melalui berbagai cara. International Tsunami Information Center menyebutkan bahwa ledakan vulkanik besar dapat memindahkan air laut secara mendadak dan menghasilkan gelombang tinggi di sekitar sumber.
Tsunami vulkanik ini bisa disebabkan oleh ledakan, aliran piroklastik, lahar yang masuk ke laut, runtuhnya lereng gunung, hingga kolaps kaldera. Pacific Tsunami Museum mencatat peristiwa letusan Krakatoa tahun 1883 sebagai salah satu tsunami vulkanik paling mematikan.
Ledakan dan runtuhan gunung tersebut menghasilkan gelombang hingga 135 kaki dan menewaskan lebih dari 36 ribu orang di pesisir Jawa dan Sumatra.
Tsunami Non Tektonik Akibat Runtuhnya Massa Es dan Tumbukan Meteorit
Selain gempa bumi, tsunami non tektonik juga bisa terjadi akibat runtuhnya bongkahan es berukuran sangat besar ke laut. Menurut United States Geological Survey (USGS), ketika puing atau massa besar jatuh ke air, volume air laut dapat terdorong secara tiba-tiba sehingga menimbulkan gelombang besar yang menyebar ke sekitarnya.
Di daerah kutub, patahnya gletser juga dapat memicu gelombang laut berbahaya, terutama di wilayah pesisir yang dekat dengan lokasi runtuhan es. Selain itu, meski jarang terjadi, tsunami juga bisa disebabkan oleh tumbukan meteorit.
Pacific Tsunami Museum menjelaskan bahwa sebuah meteorit raksasa yang menghantam Semenanjung Yucatan sekitar 65 juta tahun lalu diyakini menimbulkan tsunami sangat besar, dengan jejak dampaknya masih dapat ditemukan di pesisir Teluk Meksiko dan Amerika Serikat hingga kini.
Perbedaan Tsunami Non Tektonik dengan Tsunami Tektonik
Menurut Pacific Tsunami Museum, tsunami non tektonik umumnya tidak bertahan lama karena energinya cepat melemah, sehingga jarang sampai ke pantai yang letaknya jauh dari sumber kejadian.
UNDRR juga menjelaskan bahwa jenis tsunami ini memiliki panjang gelombang yang lebih pendek, sehingga kekuatannya lebih cepat habis. Akibatnya, tsunami non tektonik memang sangat berbahaya bagi wilayah yang berada dekat dengan sumbernya, tetapi berbeda dengan tsunami tektonik yang mampu menyeberangi samudra dan menimbulkan dampak di area yang sangat luas.
Baca juga: Hak-Hak Korban Tsunami Aceh 2004 dan Upaya Perlindungan Anak
(NDA)
