Nahkoda Penjaga Rupiah di Tengah Gelombang Perang Dunia
Tulisan dari Hendy Pebrian Azano Ramadhan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Laut tak selalu tenang. Ada kalanya ombak datang menggulung lebih tinggi dari biasanya, angin bertiup lebih kencang, bahkan badai muncul tanpa aba-aba. Dalam kondisi tersebut, setiap kapal memerlukan nahkoda yang sigap menjaga arah agar tidak karam diterjang gelombang. Begitu pula dengan perekonomian Indonesia.

Perang di Timur Tengah kembali mengajarkan satu hal penting: dunia modern ternyata tetap rapuh terhadap konflik geopolitik. Penutupan Strait of Hormuz memantik lonjakan harga minyak dunia signifikan, rantai pasok global terganggu, dan ketidakpastian menyebar ke pasar keuangan internasional. Bank-bank sentral dunia pun mulai memperketat kebijakan moneternya. Dolar AS semakin perkasa, sementara arus modal berbondong-bondong meninggalkan negara berkembang menuju aset safe haven.
Bak efek domino, tekanan tersebut ikut menghantam nilai tukar berbagai mata uang dunia, termasuk Rupiah. Imbal hasil US Treasury melonjak, inflasi global meningkat, dan prospek pertumbuhan ekonomi dunia diprakirakan melambat menjadi hanya 3,0% pada tahun 2026.
Di tengah gelombang besar itu, Indonesia tentu tidak bisa sekadar menjadi penonton. Diperlukan respons cepat, terukur, sekaligus penuh kehati-hatian agar kapal perekonomian nasional tetap mampu berlayar stabil di tengah badai global.
Nahkoda Penjaga Rupiah
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026 memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Suku bunga Deposit Facility juga dinaikkan menjadi 4,25%, sementara Lending Facility menjadi 6,00%.
Sekilas, kenaikan suku bunga kerap dipandang sebagai langkah yang “tidak nyaman”. Namun sejatinya, keputusan ini ibarat menarik kemudi kapal agar tidak keluar jalur saat ombak mulai menggila. Tujuannya satu: menjaga stabilitas!
Bank Indonesia memahami bahwa pelemahan Rupiah akibat gejolak global tidak boleh dibiarkan terlalu dalam. Stabilitas nilai tukar menjadi fondasi penting dalam menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, sekaligus mempertahankan kepercayaan investor terhadap perekonomian nasional.
Untuk itu, Bank Indonesia memperkuat berbagai instrumen stabilisasi Rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Langkah tersebut diperkuat dengan peningkatan suku bunga instrumen moneter agar aset keuangan domestik tetap menarik bagi investor asing. Harapannya, aliran modal masuk kembali deras mengalir ke Indonesia sehingga tekanan terhadap Rupiah dapat mereda.
Pengalaman adalah guru terbaik. Krisis moneter 1998 dan pandemi Covid-19 telah memberikan pelajaran mahal bahwa stabilitas ekonomi tidak boleh dijaga dengan sikap lengah. Sedikit kelengahan dapat berubah menjadi badai besar yang menghantam seluruh lapisan masyarakat.
Mesin Pertumbuhan Tetap Dinyalakan
Menariknya, di tengah fokus menjaga stabilitas, Bank Indonesia tidak lantas mematikan mesin pertumbuhan ekonomi. Di sinilah uniknya bauran kebijakan Bank Indonesia: moneter diarahkan “pro-stability”, sementara makroprudensial dan sistem pembayaran tetap “pro-growth”.
Ibarat kapal yang sedang diterpa badai, kemudi memang harus diperkuat, tetapi mesin kapal juga tidak boleh dimatikan. Jika mesin berhenti total, kapal justru akan kehilangan daya dorong dan mudah terombang-ambing.
Karena itu, kebijakan makroprudensial longgar terus diperkuat untuk mendorong kredit dan pembiayaan ke sektor riil. Bank Indonesia melonggarkan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM), meningkatkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM), serta memperkuat Program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI).
Langkah ini menjadi penting karena sektor perbankan merupakan jantung intermediasi ekonomi nasional. Ketika kredit tetap mengalir kepada dunia usaha, UMKM, sektor pertanian, industri, hingga ekonomi kreatif, maka denyut pertumbuhan ekonomi akan tetap hidup.
Hasilnya mulai terlihat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia meningkat dari 5,39% menjadi 5,61% (yoy) pada triwulan I 2026. Kredit perbankan pun tumbuh hampir 10%, sementara ketahanan perbankan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 25,09%.
Artinya, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia masih memiliki mesin ekonomi yang cukup tangguh untuk terus bergerak maju.
Digitalisasi: Layar Baru Perekonomian
Tak hanya menjaga stabilitas dan pertumbuhan, Bank Indonesia juga tengah membangun “layar baru” bagi masa depan ekonomi Indonesia melalui digitalisasi sistem pembayaran.
Pesatnya transaksi digital menunjukkan bahwa perilaku masyarakat telah berubah. Kini, aktivitas ekonomi bergerak semakin cepat, praktis, dan terkoneksi lintas batas negara.
QRIS menjadi salah satu simbol transformasi tersebut. Transaksi QRIS tumbuh lebih dari 108% secara tahunan pada April 2026. Bahkan, konektivitas QRIS kini telah diperluas ke berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok.
Ini bukan sekadar soal metode pembayaran. Lebih dari itu, digitalisasi sistem pembayaran adalah tentang memperluas inklusi keuangan, membuka peluang usaha baru, sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi nasional di era digital.
Melalui BSPI 2030, Bank Indonesia juga terus memperkuat BI-FAST, memperluas akseptasi QRIS hingga target 47 juta merchant, serta membangun ekosistem inovasi digital melalui PIDI: Digdaya dan berbagai program hackathon.
Setali tiga uang. Stabilitas dan inovasi harus berjalan beriringan. Sebab dunia yang terus berubah membutuhkan sistem keuangan yang bukan hanya kuat menghadapi badai, tetapi juga lincah membaca arah masa depan.
Pada akhirnya, menjaga stabilitas ekonomi ibarat menjaga kapal besar bernama Indonesia agar tetap berlayar di tengah samudra global yang penuh ketidakpastian. Ada kalanya ombak datang menghantam lebih keras, angin bertiup lebih tajam, dan langit mendadak gelap gulita.
Namun selama nahkoda tetap sigap, mesin pertumbuhan tetap menyala, dan seluruh awak kapal bergerak dalam harmoni, kapal ini akan terus melaju menuju tujuan.
Sebab stabilitas bukan sekadar tentang bertahan dari badai, melainkan memastikan seluruh penumpang tetap tenang melanjutkan perjalanan menuju masa depan!

