Sosok Kartini Menurut Tokoh Perempuan dari Partai Perindo Kota Malang

Penulis yang menyukai Sepak Bola dan Catur, Ceo dan Founder GMN, Aktivis Sosial dan Budaya
Tulisan dari Heri Haerudin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

KOTA MALANG - Raden Ajeng Kartini menjadi sosok sekaligus ikon emansipasi wanita Indonesia. Lewat pemikirannya yang dituangkan melalui tulisan, Kartini telah membuka perspektif baru bahwa wanita pun memiliki kesempatan yang sama dalam meraih pendidikan, berkarier dan menggapai cita-cita setinggi mungkin selayaknya pria.
Beberapa dekade telah berlalu, muncullah Kartini-Kartini baru yang meneruskan perjuangannya dan ikut menginspirasi wanita untuk terus maju dan mengembangkan kualitas diri. Lewat tulisan, musik, duduk di kursi pemerintahan hingga menjadi pemimpin perusahaan besar.
RA Kartini atau Raden Ajeng Kartini. Ia lahir pada 21 April 1879 dan pada saat 17 September 1904 menginjak usia 25 tahun. Dia sangat berpengaruh dalam menjunjung harkat martabat perempuan yang tidak kita sadari pengaruhnya hingga sekarang.
Bagaimana sosok seorang Kartini, tokoh perempuan, Ketua DPD Partai PERINDO Kota Malang, Jawa Timur, Laily Fitriyah Liza Min Nelly, bahwa Kartini sebagai salah satu tokoh nasional dan penggerak pemikiran emansipasi generasi awal di Indonesia.
"RA Kartini adalah sosok perempuan Indonesia yang memiliki pemikiran terbuka di masanya," kata dia," Sabtu (21/04/2018).
Dikatakan Nelly, tak begitu kentara perjuangannya melawan penindasan dengan angkat senjata. Namun, hasrat dalam dirinya begitu besar untuk terbebas dari belenggu, terus berkobar, membara, dan mampu membangkitkan kaumnya.
“Kalau dicermati, peran Kartini tidak saja dilihat dalam pemikiran mengenai keadilan dan kesetaraan jender, tapi juga mengenai kebangsaan dan upayanya mempertanyakan adanya penjajahan." tandasnya.
Lebih jauh, Nelly menyampaikan, bahwa sebagai perempuan jawa yang secara kultural terikat dengan berbagai aturan kebudayaan. Kartini tampil dalam ranah pemikiran yang jauh melebihi jamannya khususnya di Indonesia. Sementara, gerak pemikirannya saat itu bukanlah sesuatu yang sederhana dijamannya.
Nelly juga menegaskan, dewasa kini, Indonesia membutuhkan perempuan-perempuan tangguh, mapan secara pemikiran, tegar dalam turut berjuang mewujudkan cita-cita sebagai bangsa yang merdeka.
"Sudah saatnya Perempuan Indonesia Bangkit, menunjukkan eksistensi tak hanya secara maya, namun memberikan karya wujud nyata terbaik untuk bangsa ini. Perempuan Indonesia Bisa," pungkas Nelly (Putut)
