Konten dari Pengguna

Kenang 4 Tahun Tragedi Kanjuruhan: Momen Istimewa Timnas dan Suporter

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Herlambang Fadlan Sejati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fortis Fortuna Adiuvat (keberuntungan berpihak pada yang berani). Adagium tersebut relevan dengan keharusan Timnas Indonesia untuk bermain spartan untuk memenangkan laga penentuan grup A FIFA ASEAN CUP 2026 melawan Bangladesh. Laga akan berlangsung di depan publik sendiri, yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada 1 Oktober 2026 ini. Kemenangan margin skor besar sangat diperlukan karena selain untuk kelolosan Timnas ke babak selanjutnya, momen ini bersamaan pula dengan 4 tahun terjadinya Tragedi Kanjuruhan. Dilansir dari detik.com, pelatih kepala John Herdman ingin Timnas berikan penghormatan untuk korban Tragedi Kanjuruhan.

Masih segar ingatan tentang Tragedi Kanjuruhan 1 Oktober 2022, tanggal yang mudah diingat oleh penggemar sepakbola khususnya di Indonesia. Sebuah peristiwa kelam persepakbolaan Indonesia yang menyedot perhatian dunia hingga FIFA sebagai otoritas tertinggi sepakbola membuat Kantor Perwakilan di Indonesia. Terhitung 135 orang meninggal dunia dan ratusan orang mengalami luka-luka setelah pertandingan bertajuk Derby Jawa Timur antara Arema FC vs Persebaya dengan kemenangan oleh tim tamu. Tidak berlaku lagi istilah rivalitas hanyalah 90 menit, selebihnya saudara. Padahal kala itu tidak ada suporter tamu yang hadir ke dalam stadion, sehingga muncul pertanyaan retoris sekelam apa yang akan terjadi dan mungkinkah jumlah korban meninggal dunia mencapai ribuan orang.

Spanduk bertuliskan 'Justice For Kanjuruhan' terpasang saat suporter mendukung Timnas Indonesia dalam pertandingan Grup A Piala AFF 2022 melawan Timnas Kamboja di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (23/12/2022). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Spanduk bertuliskan 'Justice For Kanjuruhan' terpasang saat suporter mendukung Timnas Indonesia dalam pertandingan Grup A Piala AFF 2022 melawan Timnas Kamboja di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (23/12/2022). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Jangan Ulang Tragedi Kanjuruhan

Persepakbolaan Indonesia termasuk suporternya telah mengalami perkembangan naik turun pasca terjadinya Tragedi tersebut, dari Timnas yang lolos sanksi FIFA di masa awal Tragedi, harapan indah bercampur kegagalan ke Piala Dunia 2026, hingga terkini terdapat Deklarasi Damai yang dibuat oleh PSS Sleman dan PSIM Yogyakarta pertengahan September lalu, tepat sebelum Jeda Internasional (FIFA Matchday). Sebuah kesadaran kolektif yang membawa angin segar bagi lingkungan sepakbola Indonesia.

Sepakbola dekat dengan kekerasan, apalagi di Indonesia citra suporter sudah mendapat cap (labelling) buruk dari masyarakat karena seringnya terjadi kerusuhan pada pertandingan sepakbola sebagai akibat dari fanatisme yang mengedepankan pertimbangan fisik/emosi daripada berfikir rasional (Rusli Lutan dalam Satria Sakti Rumpoko, 2018). Sosiolog Richard Giulianotti menyatakan hooligan (suporter dalam arti sempit) mempunyai jiwa emosional berlebih saat bersorak bersama melawan pesaing. Adapun Psikolog UGM, Prof Koentjoro mengatakan anarkisme yang terjadi pada suporter bola karena jiwa massa, yaitu seseorang atau individu akan bersikap lebih berani saat bersama massa atau gerombolan, terlebih dengan adanya atribut yang menggambarkan seseorang itu bagian dari kelompok massa itu. Sejarah mencatat politik Devide et Impera adalah biang kegagalan Indonesia menghadapi penjajah Belanda. Konteks saat ini konflik horizontal antar suporter ikut andil dalam keterpurukan sepakbola Indonesia.

Menarik membahas kedewasaan suporter Indonesia khususnya antar klub yang mempunyai tensi tinggi, yakni Derby DIY antara PSS Sleman dengan PSIM Yogyakarta. Dilansir dari instagram resmi Pemda DIY (@humasjogja), penandatanganan deklarasi damai bertempat di Mapolda DIY disaksikan oleh Walikota Yogyakarta dan Bupati Sleman dengan substansi komitmen menjaga keamanan dan kondusivitas, tidak mudah terprovokasi, serta menghindari kekerasan yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Arti komprehensifnya tidak hanya komitmen perdamaian selama 90 menit saat pertandingan berlangsung, namun di luar itu harus tetap berjalan.

Perlu digarisbawahi benih perdamaian antara PSS Sleman dengan PSIM Yogyakarta telah muncul 3 hari setelah Tragedi Kanjuruhan dengan tajuk Mataram Islah. Kala itu 4 Oktober 2022, di area parkir Stadion Mandala Krida Mataram Islah mampu menyatukan elemen suporter dari Persis Solo-PSIM Mataram-PSS Sleman. Orang bijak pernah berkata jika hal besar dimulai dari hal kecil. Perdamaian yang kelak mendukung sepakbola Indonesia semarak lagi, karena larangan suporter tim tamu untuk hadir (away) pada laga di Super League 2026/2027 telah dicabut dengan pembatasan. Sebuah langkah kemajuan daripada tidak diperbolehkan sama sekali sebagaimana pasca terjadinya Tragedi Kanjuruhan.

Upaya Menjaga Perdamaian

Deklarasi damai suporter PSS Sleman dengan PSIM Yogyakarta adalah langkah yang patut diapresiasi dan harus dijaga kesinambungannya. Pemerintah hingga level Desa/Kelurahan harus terus memberikan edukasi mengenai sportivitas dan pemikiran rasional bagi suporter. Pada pertandingan yang berintensitas tinggi seperti Derby rawan terjadi kekerasan verbal dan fisik baik secara langsung maupun media sosial. Kepolisian harus lebih aktif dalam mengendus terjadinya perpecahan yang pada era kekinian disebabkan oleh komentar negatif, cyber bullying, vandalisme, dan ancaman lain di media sosial. Imbasnya sangat terasa karena berdampak kekerasan fisik yang terjadi tidak hanya di area stadion, namun meluas hingga mengakibatkan gangguan ketertiban umum seperti bentrokan di jalan raya, sweeping plat nomor kendaraan sesuai daerah plat nomor rival di jalan raya, dan ketidaknyamanan lainnya.

Edukasi melalui penyuluhan tentang sportivitas dan informasi terjadinya perdamaian harus digaungkan sampai tingkat Desa/Kelurahan, karena tidak semua orang mengerti sudah ada Deklarasi Damai. Hukum mengenal istilah presumptio Iures de Iure, yaitu setiap orang dianggap tahu hukum. Prakteknya, tetap perlu penyebaran informasi secara masif melalui penyuluhan/media cetak maupun elektronik supaya masyarakat memahami, mematuhi, dan melaksanakannya.

Patut disyukuri adanya Timnas yang bertanding saat Peringatan Tragedi Kanjuruhan adalah momentum pemersatu masyarakat Indonesia dari berbagai latar belakang suporter klub dan suku dalam mendukung Timnas. Momen yang semakin lengkap apabila gaung perdamaian terus disuarakan dan diupayakan, sehingga saat kompetisi antar klub bergulir kembali sepakbola Indonesia mampu menjadi bahasa universal tentang perdamaian dalam perbedaan. Demikianlah implementasi penghormatan tertinggi kenang korban Tragedi Kanjuruhan.