Konten dari Pengguna

Panggilan Sumpah Pemuda untuk Digital Natives: Stop Scroll, Start Solve

Heru Nugroho

Heru Nugroho

Praktisi industri internet.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Heru Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi main handphone. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi main handphone. Foto: Shutterstock

Tanggal 28 Oktober senantiasa menjadi pengingat heroik tentang persatuan. Namun, menjelang satu abad usia Sumpah Pemuda pada 2028, kita harus jujur bertanya: apakah ikrar 'satu bangsa' dan 'satu bahasa' masih relevan bagi Generasi Z dan Generasi Alpha, yang kini hidup dalam kolonialisme bentuk baru?

Para pemuda 1928, yang usianya sebaya dengan mahasiswa hari ini, tidak hanya sekadar pintar; mereka tercerahkan. Mereka berani mendefinisikan "Indonesia" dan mengganti bahasa Belanda dengan Bahasa Indonesia sebagai senjata persatuan. Hari ini, tantangan kita bukan lagi Bahasa Belanda, melainkan hegemoni Algoritma dan Ekonomi Perhatian (Attention Economy) dari raksasa teknologi global.

Dari Penjajahan Fisik ke Penjajahan Mental

Kolonialisme kini tidak lagi berbentuk peluru, tetapi berbentuk feed tak berujung. Inilah kolonialisme modern yang dihadapi oleh Digital Native:

1. Keterjajahan Perhatian (Scroll)

Perhatian dan waktu kita dicuri oleh platform yang dirancang untuk membuat kita terus menggulir (scroll) konten. Energi yang seharusnya dipakai untuk berinovasi dan berpikir kritis justru dihabiskan untuk konsumsi pasif.

2. Keterjajahan Narasi

Algoritma yang seharusnya mempermudah hidup, justru dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan (polarisasi) dan menyebarkan hoaks—politik divide et impera di era digital.

Semangat Sumpah Pemuda menuntut kita untuk mengubah kebiasaan pasif ini menjadi tindakan aktif.

Tiga Pilar Aksi untuk Digital Natives

Semangat 1928 harus di-upgrade agar relevan bagi generasi muda yang terlahir dengan smartphone di tangan. Inilah cara Gen Z dan Alpha menjawab Panggilan Sumpah Pemuda tersebut:

1. Satu Tanah Air Kedaulatan Digital (Stop Scroll Hoaks)

Di masa lalu, pemuda berjanji mempertahankan bumi pertiwi. Hari ini, kedaulatan kita juga ada di ruang data.

  • -Aksi Nyali: Stop menggulir konten secara pasif. Mulailah menyaring dan memverifikasi informasi. Melawan hoaks yang memecah belah SARA di dunia maya adalah perwujudan paling nyata dari sumpah "bertumpah darah yang satu" di era ini. Membela Tanah Air berarti membela integritas informasi dan kerukunan bangsa.

2. Satu Bangsa: Produktivitas Kolektif (Start Solve Lokal)

Sumpah Satu Bangsa menuntut kita untuk menanggalkan ego suku demi kepentingan kolektif. Hari ini, hal itu berarti menanggalkan ego konsumtif.

  • Aksi Nyali: Ubah scroll menjadi solve. Generasi Z harus menggunakan kemampuan coding, desain, dan analisis data mereka untuk menciptakan solusi bagi masalah lokal (seperti e-commerce untuk UMKM daerah, aplikasi edukasi di daerah terpencil, atau kampanye lingkungan yang efektif). Patriotisme sejati adalah menciptakan nilai dan mengurangi ketergantungan asing.

3. Menjunjung Bahasa Persatuan: Komunikasi Kritis dan Etis

Generasi 1928 memilih Bahasa Indonesia sebagai alat perjuangan yang mempersatukan. Hari ini, alat perjuangan adalah komunikasi yang beretika dan berbasis fakta.

  • Aksi Nyali: Junjung tinggi Bahasa Indonesia melalui komunikasi yang kritis, etis, dan konstruktif di ruang publik digital. Gunakan platform untuk mendidik dan membangun diskusi rasional, bukan untuk melayangkan caci maki. Bahasa persatuan harus menjadi benteng dari toxic culture di internet.

Penutup: Mengaktifkan Semangat 1928

Sumpah Pemuda adalah bukti bahwa kesadaran kolektif adalah revolusi sejati. Menjelang satu abad, kita harus meminta Generasi Z dan Alpha untuk meniru keberanian mengambil keputusan para pendahulu mereka.

Sudah saatnya kita berhenti menjadi objek dari algoritma dan mulai menjadi subjek yang aktif membentuk masa depan bangsa. Stop scroll, dan mari kita start solve masalah Indonesia, mewujudkan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang mandiri dan berdaulat di abad digital.