Kisah Nabi Muhammad SAW Membelah Bulan

All about hijab.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena langka astronomi gerhana bulan merah darah atau Super Blood Moon menghiasi langit pada Rabu (26/5). Berdasarkan laporan yang diterima oleh kumparan (27/5), gerhana bulan tersebut hanya terjadi setiap 195 tahun sekali. Proses gerhana dapat dinikmati di langit Indonesia sekitar lima jam lima menit.
Pada zaman Nabi, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad SAW mampu membelah bulan yang menjadi salah satu mukjizat Nabi dan tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Dengan izin Allah SWT, mukjizat ini dilakukan pada malam bulan purnama di Mekkah ketika Nabi ditantang oleh orang-orang kafir untuk membuktikan kenabiannya.
"Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, '(Ini adalah) sihir yang terus menerus.' Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya." (Surat Al-Qamar ayat 1-3)
Dilansir dari situs alhuda.sg dan questionsonislam.com, pada suatu malam bulan purnama yang baru saja terbit, bulan terlihat menggantung di atas langit Gunung Hira, seorang kafir mendekat kepada Nabi dan memintanya untuk membalah bulan menjadi dua sebagai bukti bahwa Rasulullah SAW adalah benar Utusan Tuhan.
"Jika kamu benar-benar seorang Nabi yang telah diangkat oleh Allah, maka belahlah bulan menjadi dua. Biarlah sedemikian rupa sehingga separuh akan muncul di atas Gunung Abu Qubais dan separuh lainnya akan terlihat di atas Gunung Quayqian," kata kaum musyrik Quraisy.
"Jika aku melakukannya, apakah kamu akan menjadi Muslim?," Nabi Muhammad SAW bertanya.
"Ya, kami akan melakukannya," jawab orang musyrik tersebut.
Pada malam itu, banyak orang yang hadir, di antara mereka adalah orang yang percaya dan sebagian lainnya ragu-ragu. Semua mata tertuju pada Nabi Muhammad SAW. Mereka lalu keheranan melihat bulan benar-benar terbagi menjadi dua bagian yang menjauh satu sama lain. Bahkan, setengah bulan menyinari Gunung Abu Qubais, dan setengah lainnya di atas Gunung Quayqian.
"Jadilah saksi," kata Rasulullah SAW. Namun, orang-orang kafir yang tak percaya tetap mengatakan bahwa mukjizat Nabi atas izin Allah SWT tersebut dianggap sebagai sihir belaka. Sementara itu, orang-orang beriman bersukacita dan beberapa dari mereka yang sebelumnya ragu memutuskan untuk memeluk Islam.
Mukjizat yang dilakukan oleh Nabi manapun di masa lalu sebenarnya tidak perlu dibuktikan secara ilmiah atau dengan cara lain. Namun, seiring berjalannya waktu beberapa di antaranya mungkin terbukti benar setelah dilakukan penelitian dan studi ilmiah.
Mengenai bukti ilmiah dari keajaiban membelah bulan, pertama kali diperhatikan oleh seseorang yang menonton sebuah program di televisi. Dalam program tersebut, para ilmuwan Amerika membahas tentang perjalanan paling mahal ke bulan. Mereka juga mengungkapkan keterkejutannya saat menemukan 'Belt of Rocks' atau "Sabuk Berbatu" di bulan.
Para ahli geologi berpendapat bahwa fenomena itu tidak mungkin terjadi, kecuali bulan pernah terbelah dan bersatu kembali. Mereka melanjutkan dengan menjelaskan bahwa bebatuan di sabuk bisa jadi adalah hasil dari benturan pada dua bagian bulan yang pada akhirnya menyatu kembali.
