Konten dari Pengguna

Kisah Pengkhianatan Hatib bin Balta'ah Saat Fathu Mekah

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pengkhianatan. Foto: Unsplash.com/dre0316
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengkhianatan. Foto: Unsplash.com/dre0316

Dulu, Mekah bukanlah kota yang dipenuhi oleh orang-orang Muslim seperti sekarang. Di sana, banyak sekali orang-orang yang hatinya dipenuhi oleh kesyirikan dan kezaliman. Namun, kota itu berubah menjadi kota yang bernafaskan Islam karena Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat dan kaum-kaum yang berjuang bersamanya berhasil merebut Mekah dalam suatu peristiwa yang dinamakan Fathu Mekah.

Peristiwa Fathu Mekah terjadi pada 8 hijriah di mana Allah SWT mengubah kota tersebut menjadi lambang keimanan dan kepasrahan kepada-Nya.

Peristiwa tersebut diawali dari perjanjian damai antara kaum Muslimin Madinah dengan orang musyrikin Quraisy yang ditandatangai dalam nota kesepakatan Hudaibiyah pada 6 hijriah. Singkat cerita, dalam perjanjian tersebut terjadi pengkhianatan yang mengharuskan adanya perbaharuan dalam isi perjanjian tersebut. Namun, gagal karena karena Nabi Muhammad SAW menganggap bahwa ini adalah bentuk pengkhianatan.

Dari penghkhianatan ini, Nabi Muhammad SAW meminta kepada para sahabatnya untuk menyiapkan senjata dan perlengkapan perang untuk menyerang Mekah.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, "Ya Allah, buatlah Quraisy tidak melihat dan tidak mendengar kabar hingga aku tiba di sana secara tiba-tiba.”

Sebenarnya, kaum Muslimin boleh saja membatalkan perjanjian damai dengan orang-orang kafir tersebut. Namun, pembatalan ini harus dilakukan secara seimbang yang artinya tidak boleh sepihak, tetapi semua pihak harus sama-sama tahu.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anfal ayat 58 yang artinya:

“Jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan sama-sama tahu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”

Nah, dalam misi menyerang Mekah, Nabi Muhammad SAW tidak menginginkan pihak lawan tahu. Tapi, salah satu sahabat Nabi Muhammad yang ikut berhijrah bersama nabi ke Madinah yang bernama Hatib bin Balta'ah berkhianat dengan memberitahu bahwa Nabi Muhammad SAW akan menyerang Mekah. Berita ini disampaikannya melalui surat uanh dibawa oleh seorang wanita untuk disampaikan kepada orang-orang kafir Quraisy.

Hingga pada akhirnya, Nabi Muhammad SAW pun mengetahui kabar ini dan segera mengirim sahabatnya yang lain untuk menyusuh wanita yang disuruh Hatib tersebut. Dilansir dari beberapa sumber, sahabat Nabi Muhammad SAW yang diutus untuk mengejar wanita tersebut, yakni Ali bin Abi Thalib, Umar bin al-Khattab, Ammar bin Yassir, dan Thalhah. Betapa kagetnya mereka semua setelah melihat isi surat tersebut. Hatib telah berkhianat dengan memberitahu kaum kafir Quraisy Mekah bahwa Nabi Muhammad SAW akan menyerang Mekah.

Bukan hanya Nabi Muhammad SAW, sahabat yang lainnya pun merasa dikhianati oleh Hatib.

Nabi Muhammad SAW langsung menemui Hatib dan menanyakan kenapa ia melakukan itu. Namun, rupanya niat Hatib baik karena ingin melindungi keluarganya yang ada di tengah-tengah kaum Quraisy Mekah. Setelah menjelaskan hal, Nabi Muhammad SAW memaafkan perbuatan Hatib dengan alasan baiknya karena ingin melindungi keluarga di sana. Tapi, sepertinya para sahabat yang lain merasa geram karena Hatib telah berkhianat, mereka pun menyarankan untuk memenggal Hatib. Sayang, hal itu dilarang tegas oleh Nabi Muhammad SAW karena Hatib juga telah sama-sama berjuang bersama dalam Perang Badar.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mumtahanah ayat 1 yang artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan musuhKu dan musuhmu sebagai teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang, padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah…."

Dari kisah tersebut, ada pelajaran penting yang bisa kalian petik, yaitu tidak menghukum orang ketika sedang emosi, jangan melupakan banyak kebaikan seseorang hanya karena satu kesalahan, memaafkan penuh lapang dada, dan sikap memberikan loyalitas kepada kaum kafir hingga menyebabkan bahaya terhadap Islam tanpa menyebabkan kecintaan kepada agama mereka, maka sesuai dengan ayat di atas, orang-orang inilah yang dipanggil sebagai "Hai orang-orang yang beriman...."