Konten dari Pengguna

Kisah Sya'wanah Al-Ubullah, Sufi Perempuan yang Gemar Menangis karena Allah SWT

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kisah Sya'wanah Al-Ubullah. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kisah Sya'wanah Al-Ubullah. Foto: Pixabay

Dalam sejarah Islam, ada banyak sekali sufi yang terkenal dan populer, baik laki-laki maupun perempuan.

Nama Rabiatul Al-Adawiyah merupakan seorang sufi perempuan yang cukup populer karena telah memperkenalkan konsep cinta kepada Sang Pencipta. Seorang mantan budak ini, juga merupakan penyair yang terkenal pada zamannya.

Selain Rabiatul Al-Adawiyah, ada pula Sya'wanah Al-Ubullah. Meski tidak sepopuler Rabiatul Al-Adawiyah, Sya'wanah juga memiliki peran penting sebagai seorang sufi pada abad pertengahan. Konon, beliau dikagumi oleh Imam Al-Ghazali lantaran dikenal suka menangis karena Allah SWT.

Sya'wanah Al-Ubullah merupakan seorang sufi perempuan yang berasal dari persia. Diperkirakan beliau hidup sekitar abad ke-8 Masehi. Sya'wanah juga dikenal sebagai sosok yang sangat beriman kepada Allah SWT, memiliki suara yang merdu, dan bacaan Al-Qurannya yang bagus.

Sya'wanah memang perempuan yang sangat terkesan dengan keterbatasannya sendiri dalam mengabdi kepada Allah SWT. Ia juga sangat merindukan persatuan atau perjuampaan dengan-Nya, sehingga terus saja menangis. Meski begitu, kebiasaannya yang suka menangis tidak menghalangi dirinya untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.

Tangisan yang keluar dari mata Sya'wanah bukanlah tangisan yang dibuat-buat. Justru ia menangis dengan tulus, sehingga banyak pula orang yang turut menangis.

Dilansir dari berbagai sumber, awal kisah mengapa Sya'wanah sering menangis ini dimulai ketika dirinya jauh sebelum menjadi sufi.

Dulu, Sya'wanah hampir setiap hari pergi ke tempat-tempat hiburan. Pada suatu hari, ia bersama budak perempuan lainnya berjalan menyusuri salah satu jalanan di Bashrah. Hingga mereka sampai di depan pintu rumah, Sya'wanah mendengar suara teriakan.

"Subhanallah, begitu memilukan. Suara apa itu?” Sya'wanah pun segera menyuruh budak perempuannya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun, budah yang disuruh pergi tak kunjung kembali. Ia pun meminta budak lainnya untuk melihat apa yang terjadi. Sama. Budak itupun tidak kembali. Hingga untuk kesekian kalinya, ada seorang budah perempuan yang berkata, "Tuan putri, teriakan tadi bukan teriakan orang-orang yang sedang berduka karena ada yang sedang meninggal dunia, tetapi itu tangisan orang-orang yang sedang menyesali dosa-dosanya, tangisan orang yang sedih karena penuhnya catatan hidup mereka dengan goresan-goresan tinta hitam maksiat."

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Sya'wanah pun pergi ke balkon rumah tersebut dan melihat seorang pendakwah yang dikelilingi oleh banyak orang. Rupanya, pendakwah itu tengah memberikan nasihat, mengingatkan mereka akan siksaan Allah SWT sehingga mereka menangis bercucuran air mata.

Ketika Sya'wanah bergabung dengan orang-orang tersebut, sang pendakwah sedang membacakan ayat dalam QS. Al-Furqan ayat 12-13 yang artinya:

"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan."

Tanpa sadar, Sya'wanah merasakan sakit dan kepedihan yang menyayat dalam kalbunya. Ia pun berkata, "Wahai syaikh, aku adalah salah satu orang hina penghuni tempat sempit itu di neraka. Jika aku bertaubat, apakah Tuhan akan mengampuniku?"

Sang pendakwah menjawab, "Tentu, jika engkau bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya, walaupun dosamu sebanyak dosa Sya’wanah."

Kemudian Sya’wanah berkata, "Wahai Syaikh, Sya’wanah (Yang Anda sebut tadi) adalah saya, yang setelah ini tidak akan lagi berbuat dosa."

Sang pendakwah berkata, "Allah Subhanahu wa ta'ala adalah Zat Yang Maha Penyayang dari segala penyayang, tentu engkau akan diampuni jika mau bertaubat kepada-Nya dengan taubat yang sebenar-benarnya.”

Setelahnya, Sya'wanah selalu menghabiskan malam-malamnya dengan salat dan bermunajat kepada Tuhan, lalu menangis karena takut kepada Allah SWT. Dari sinilah Sya'wanah mulai sering menangis, bahkan sampai membuat orang-orang khawatir jika Sya'wanah mengalami kebutaan karena terlalu sering menangis.

Meski begitu, Sya'wanah akan merasa senang jika ia harus buta di dunia karena terlalu sering menangis karena Allah SWT. Dari pada ia buta di akhirat karena percikan api neraka.

Begitulah sedikit kisah tentang seorang sufi perempuan yang dikenal sering menangis untuk Allah Allah SWT.