Konten dari Pengguna

Ulasan Singkat Busana Muslimah di Asia Tengah dan Asia Tenggara

Hijab Lifestyle

Hijab Lifestyle

All about hijab.

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hijab Lifestyle tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar ilustrasi. Foto: Unsplash/@muizur_syed
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi. Foto: Unsplash/@muizur_syed

Selama berabad-abad, busana wanita Muslim telah dipandu oleh ajaran Al-Quran dan norma-norma budaya. Sejak dahulu, Muslimah berusaha untuk berpakaian sopan namun tetap modis.

Seiring dengan kemajuan zaman dan teknologi, hijab tak hanya menjadi simbol bagi wanita Muslim, melainkan masuk dalam jajaran fashion modern global. Sehingga, para hijabi memiliki wadah untuk berekspresi.

Kendati demikian, warisan budaya termasuk dalam bentuk busana tidak bisa dilupakan begitu saja. Budaya kerap menjadi identitas unik di wilayah dan bagi masyarakat tertentu yang tak ditemukan di tempat lain.

Berbagai busana tradisional yang terkadang telah dimodifikasi mengikuti era memberikan nuansa klasik dan masa kini. Adapun penjelasan singkat tentang busana wanita Muslim di Asia Tengah dan Asia Tenggara.

Asia Tengah

Potret menisak yang merupakan pakaian tradisional wanita di Asia Tengah. Foto: Youtube/Lois Jett Historic Costume Collection

Geografi dan iklim selalu memainkan peran penting dalam mendefinisikan busana wanita Muslim. Pakaian wanita di Asia Tengah sengaja didesain kuat dan berdiri tegak untuk memungkinkan wanita saat menunggang kuda dan duduk bersila.

Pada abad ke-9, wanita Asia Tengah biasanya memadukan pakaian dalam, seperti tunik dan celana baggy, dengan pakaian luar seperti jubah, sehingga mereka dapat bergerak bebas sambil tetap tertutup dalam berbusana.

Jubah menisak dibuat dengan desain pinggul berbentuk lonceng yang besar. Tidak hanya diselingi oleh lipatan-lipatan di kedua sisi pinggang, munisak dibuat dengan kain sutra berwarna-warni dan bermotif mencolok.

Busana yang dibuat lebih besar di bagian punggungnya dikenakan oleh pengantin wanita pada hari pernikahan mereka dan janda selama masa berkabung. Desain tersebut memungkinkan untuk memodifikasi layering atau kain tambahan terutama selama musim dingin.

Pakaian khas Asia Tengah lainnya untuk wanita adalah paranja. Mantel panjang dan nyaman ini dikenakan dari atas kepala hingga ujung kaki dan merupakan persyaratan mutlak bagi wanita di abad ke-19 saat melangkah keluar di depan umum.

Meskipun paranja atau yang lebih dikenal dengan burqa ini sangat tertutup bagi standar busana modern, namun ini ditujukan untuk melindungi wanita dari banyak bandit dan preman di sepanjang Jalur Sutra yang berbahaya.

Asia Tenggara

Potret kebaya songket modifikasi. Foto: Youtube/Taylor Indonesia

Konsep kesopanan juga berubah menurut tempat dan waktu termasuk di wilayah Asia Tenggara. Ketika kita mencoba mengingat potret wanita zaman dahulu, mereka tak segan dibalut dengan kain yang hanya sampai di atas dada.

Wanita Muslim di dunia Melayu tidak akan secara ketat mengadopsi jilbab di masa lalu. Mereka berusaha untuk melindungi diri dari terik matahari tropis dengan memakai selendang ketika melangkah ke luar rumah.

Semenjak masuknya dan penyebaran Islam yang semakin meluas di negara-negara Melayu, seperti Indonesia dan Malaysia, ajaran Islami turut merubah tatanan kehidupan tak terkecuali gaya busana masyarakat terutama bagi wanita.

Di beberapa wilayah yang masih kental dengan hukum Islam, menutupi kepala dan tubuh merupakan syarat wajib bagi wanita ketika ke luar rumah. Selain itu, pakaian tidak boleh transparan dan tak boleh terlalu ketat.

Fashion modern

Potret fashion hijab modern. Foto: Unsplash/@fzeo

Jelas bahwa kesopanan dalam Islam bukanlah hal baru dan bahwa wanita Muslim di Asia telah lama mengembangkan gaya berbusana mereka sendiri. Meskipun di beberapa tempat di mana Islam menjadi minoritas, wanita Muslim kerap mendapat perlakuan diskriminatif.

Namun, bukan kemunduran yang kita terima. Banyak para hijaber atau Muslimah dari tokoh terkenal menyuarakan dengan lantang bahwa diskriminasi harus dihapuskan. Tren hijab justru semakin naik daun dan perlahan diterima di banyak tempat.

Mereka sekarang memilih untuk mengekspresikan diri melalui pakaian, mode, dan gaya pribadi, namun tetap menjadi rendah hati dan menutupi aurat sesuai syariat Islam yang diajarkan.

Muslimah saat ini memiliki lebih banyak pilihan mode dan gaya daripada sebelumnya. Bagi wanita Muslim yang memilih untuk menutup diri, jilbab atau kerudung telah menjadi aksesori yang tangguh serta modis, membentuk kepribadian, dan mempertahankan spiritualitas.