Konten dari Pengguna

Koding-AI Masuk Kurikulum: Inovasi Pendidikan atau Ancaman Minat Baca?

Hikmah Alfiah

Hikmah Alfiah

Mahasiswi program studi pendidikan Ekonomi Di Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hikmah Alfiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.pexels.com/photo/a-man-using-a-laptop-7988089/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/photo/a-man-using-a-laptop-7988089/

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menetapkan bahwa koding dan kecerdasan buatan (AI) akan menjadi mata pelajaran pilihan mulai tahun ajaran 2025/2026. Langkah ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mengikuti arus perkembangan teknologi global dan menyiapkan generasi muda yang melek digital. Apalagi, kerja sama dengan perusahaan besar seperti Google menjadi bukti konkret bahwa pemerintah tidak main-main dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam dunia pendidikan.

Namun, inovasi ini tidak datang tanpa tantangan. Menteri Abdul Mu’ti sendiri menyampaikan kekhawatiran bahwa kehadiran AI bisa menurunkan minat baca siswa. Ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar. Dalam praktiknya, banyak siswa cenderung mengandalkan mesin pencari atau aplikasi berbasis AI untuk mendapatkan jawaban instan, tanpa benar-benar memahami konsep atau memperluas wawasan melalui bacaan yang mendalam.

Lebih dari itu, informasi dari AI belum tentu sepenuhnya akurat. Tanpa bimbingan guru, siswa bisa terjebak dalam pemahaman yang keliru. Di sinilah peran guru menjadi sangat penting, bukan hanya sebagai fasilitator pembelajaran, tetapi juga sebagai penjaga kualitas informasi dan pembentukan karakter berpikir kritis.

Kurikulum yang adaptif terhadap teknologi adalah langkah progresif. Namun, harus disadari bahwa pendidikan tidak hanya soal keterampilan teknis, melainkan juga pembentukan karakter, kebiasaan intelektual, dan nilai-nilai kebangsaan. Oleh karena itu, integrasi koding-AI ke dalam kurikulum harus dibarengi dengan upaya serius menjaga budaya literasi. Buku dan bacaan tetap harus menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi pembelajar yang utuh.

Dengan demikian, keberhasilan kurikulum baru ini bukan hanya terletak pada penguasaan teknologi, tetapi pada keseimbangan antara inovasi digital dan literasi tradisional. Jika tidak, kita mungkin akan mencetak generasi yang cepat dalam mengakses informasi, tetapi lemah dalam memahami dan mengolahnya secara mendalam.