Ketika Seseorang Tidak Sadar Bahwa Sikapnya Telah Melukai Orang Lain

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hilda Amalia Akhmad tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu hal yang terkadang lebih sulit diterima daripada sebuah perkataan yang menyakitkan, yakni ketika orang yang mengucapkannya bahkan tidak menyadari bahwa perkataannya telah melukai kita.
Bagi dia, mungkin semuanya biasa saja.

Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Tidak ada yang perlu disesali. Bahkan, ketika kita mulai menjauh atau menunjukkan bahwa kita terluka, dia mungkin justru bertanya-tanya, “Memangnya aku salah?”
Sebab, menyakiti seseorang tidak selalu dilakukan melalui tindakan besar. Kadang, luka justru muncul dari hal-hal kecil yang terus berulang, ucapan yang meremehkan, sikap yang mengabaikan perasaan, candaan yang melewati batas, atau keputusan yang hanya mempertimbangkan kepentingan diri sendiri.
Ketika Perasaan Orang Lain Tidak Masuk dalam Pertimbangan
Dalam sebuah hubungan, kita tentu tidak bisa berharap orang lain selalu memahami perasaan kita dengan sempurna.
Setiap orang memiliki pengalaman, cara berpikir, dan batas toleransi yang berbeda. Sesuatu yang dianggap biasa oleh seseorang bisa saja terasa menyakitkan bagi orang lain.
Namun, ada perbedaan antara tidak sengaja menyakiti dan tidak peduli setelah mengetahui bahwa seseorang telah terluka.
Orang bisa saja melakukan kesalahan karena tidak mengetahui bahwa tindakannya akan berdampak buruk. Tetapi ketika sudah diberi tahu dan tetap menganggap perasaan orang lain tidak penting, persoalannya menjadi berbeda.
Ada persoalan tentang bagaimana seseorang memandang perasaan manusia lain.
Luka Tidak Selalu Terlihat dari Reaksi Seseorang
Tidak semua orang yang terluka akan langsung marah.
Ada yang memilih diam. Ada yang menangis. Ada yang mulai menjaga jarak. Ada pula yang tetap bersikap seperti biasa meskipun sebenarnya sedang berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Karena itu, tidak adanya protes bukan berarti tidak adanya luka.
Terkadang seseorang memilih diam bukan karena tidak merasa sakit, melainkan karena sudah terlalu lelah untuk menjelaskan.
Ia mungkin pernah mencoba mengatakan bahwa suatu perkataan membuatnya tidak nyaman. Namun, jika respons yang diterima justru berupa kalimat seperti “Kamu terlalu sensitif” atau “Aku kan cuma bercanda”, lama-kelamaan ia bisa memilih berhenti bercerita. Bahkan ada yang tidak menerima sebuah ucapan dari seseorang yang telah tersakiti itu.
Empati Bukan Berarti Harus Selalu Setuju
Empati juga tidak berarti kita harus selalu membenarkan perasaan orang lain.
Kita tetap boleh berbeda pendapat. Kita boleh menolak permintaan seseorang. Kita bahkan boleh mengambil keputusan yang tidak disukai orang lain.
Namun, empati membuat kita mampu mempertimbangkan bagaimana keputusan tersebut mungkin dirasakan oleh orang lain.
Sederhananya, sebelum berbicara atau bertindak, ada kesadaran bahwa orang lain juga memiliki perasaan.
Kesadaran inilah yang terkadang hilang dalam sebuah hubungan.
Seseorang mungkin terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin ia katakan, apa yang ia inginkan, dan apa yang menurutnya benar, sampai lupa bahwa di hadapannya ada manusia lain yang juga bisa kecewa dan terluka.
Yang Menyakitkan Bukan Hanya Perbuatannya
Ada luka yang muncul bukan hanya karena seseorang melakukan sesuatu kepada kita.
Luka itu bisa menjadi lebih dalam ketika setelah semuanya terjadi, orang tersebut tidak berusaha memahami mengapa kita terluka.
Kita mungkin tidak selalu membutuhkan permintaan maaf yang panjang.
Kadang, kita hanya ingin didengar.
Ingin seseorang mengatakan, “Aku baru sadar kalau sikapku membuat kamu terluka.”
Kalimat sederhana seperti itu menunjukkan adanya kesadaran bahwa perasaan orang lain juga memiliki tempat.
Sebaliknya, ketika setiap keluhan selalu dianggap berlebihan, setiap reaksi dianggap drama, dan setiap luka dianggap sebagai masalah orang yang terluka, hubungan perlahan kehilangan ruang untuk saling memahami.
Jangan Sampai Kita Menjadi Orang yang Sama
Membicarakan orang yang tidak peka terhadap perasaan orang lain memang mudah.
Kita bisa menunjuk siapa saja yang pernah membuat kita kecewa. Kita bisa mengingat orang yang pernah meremehkan perasaan kita atau membuat kita merasa tidak cukup penting untuk dipahami.
Tetapi ada pertanyaan yang juga layak diberikan kepada diri sendiri.
Pernahkah kita melakukan hal yang sama kepada orang lain?
Sebab, empati bukan hanya sesuatu yang kita tuntut dari orang lain.
Tidak Semua Luka Membutuhkan Penjelasan Panjang
Pada akhirnya, kita tidak selalu bisa membuat semua orang memahami dampak dari perbuatannya.
Ada orang yang akan mengerti setelah dijelaskan. Ada pula yang tetap merasa bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apa pun.
Dalam situasi seperti itu, kita tidak harus terus-menerus menghabiskan energi untuk meyakinkan seseorang bahwa luka kita benar-benar ada.
Perasaan kita tidak menjadi tidak valid hanya karena orang lain tidak mampu memahaminya.
Yang bisa kita lakukan adalah belajar mengenali batas.
Sebab pada akhirnya, kita memang tidak bisa mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kita.
Tetapi kita masih bisa memilih bagaimana memperlakukan diri sendiri setelah terluka.
Dan mungkin, bentuk empati yang paling sederhana adalah berhenti sejenak sebelum bertindak dan bertanya kepada diri sendiri,
Kalau aku berada di posisi dia, kira-kira bagaimana rasanya?
Pertanyaan itu mungkin sederhana.
Namun, bisa jadi dari sanalah kita belajar kembali melihat orang lain bukan sekadar sebagai bagian dari hidup kita, melainkan sebagai manusia yang juga punya hati.
