Di-tag di Grup Kantor, Hati Berdebar Kencang: Apakah Ini Cinta?

Saya, Hilgo Hidayatul Ulya, merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari HILGO HIDAYATUL ULYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kamu tau AADC (Ada Apa Dengan Cinta)? kalau AADC-G (Ada Apa Dengan Chat Grup) sudah tau belum?

Aku mulai curiga ada hubungan khusus antara grup kantor dan jantungku.
Notifikasi dari grup lain bisa kubiarkan. Grup keluarga mengirim ucapan selamat pagi? Nanti kubaca. Grup teman membahas rencana kumpul yang belum tentu terlaksana? Bisa menyusul.
Tetapi begitu namaku di-tag di grup kantor, tanganku langsung bergerak mengambil ponsel.
Duduk membaik. Mata membesar. Gorengan yang tadinya terasa nikmat mendadak membutuhkan konsentrasi lebih untuk ditelan.
Padahal pesannya belum kubaca.
Katanya, kalau seseorang membuat kita berdebar hanya lewat notifikasi, mungkin kita sedang jatuh cinta.
Namun, rasanya aneh juga kalau orang itu atasan sendiri.
Satu Nama, Banyak Dugaan
Bagian paling menegangkan adalah ketika pesan yang masuk hanya berupa panggilan.
“@Hilgo.”
Sudah. Begitu saja.
Aku menatap layar, berharap ada kalimat berikutnya. Setidaknya beri petunjuk. Ini mau tanya laporan, minta bantuan, atau aku baru saja mengirim sesuatu ke grup yang salah?
Sambil menunggu, otakku mulai membuka arsip.
Tadi sudah kirim file, kan? Angkanya benar? Jangan-jangan ada chat yang belum kubalas. Atau kemarin waktu mengetik “siap”, ternyata terkirim “siapa”?
Dalam hitungan detik, aku sanggup mengevaluasi perjalanan karier secara mandiri.
Lalu pesan lanjutannya muncul.
“Tolong kirim ulang file yang kemarin ya.”
Oh.
Cuma itu.
Aku menarik napas lega, lalu membalas, “Baik, Pak.”
Tidak perlu beliau tahu bahwa sebelum pesan kedua masuk, aku sempat mengadakan sidang internal dengan diriku sendiri.
“Baik, Pak” Menyimpan Banyak Perasaan
Menurutku, salah satu keterampilan yang berkembang selama bekerja adalah kemampuan merangkum berbagai perasaan menjadi dua kata.
“Baik, Pak.”
Di baliknya bisa ada kesiapan. Bisa juga kebingungan, rasa mengantuk, atau usaha memahami file mana yang dimaksud karena kemarin aku mengirim beberapa versi.
Ada kalanya aku mengetik balasan, menghapusnya, lalu mengetik lagi.
“Siap, Pak.”
Terlalu singkat, tidak, ya?
“Baik, Pak. Segera saya kirim.”
Nah, ini bagus.
Tetapi sebelum dikirim, aku memastikan dulu filenya benar-benar ada. Jangan sampai kata “segera” menjadi janji yang terlalu berani.
Lucunya, balasan sesederhana itu bisa kupikirkan lebih lama daripada memilih makan siang. Untuk makan, aku bisa langsung menunjuk lauk. Untuk chat kantor, tanda titik saja kadang ikut dipertimbangkan.
Kalau di Grup, Penontonnya Banyak
Sebenarnya, ditanya pekerjaan itu biasa. Namanya juga bekerja.
Yang membuat tag di grup terasa berbeda adalah jumlah orang yang bisa menyaksikan.
Kalau lewat chat pribadi, aku tinggal menjawab. Kalau di grup, rasanya seperti mendapat giliran maju ke depan kelas, sementara seluruh rekan kerja duduk membawa ponsel.
Apalagi kalau pertanyaannya, “Untuk yang ini sudah sampai mana?”
Aku langsung membuka pekerjaan tersebut, memastikan perkembangannya, lalu menyusun jawaban sejelas mungkin.
Tentu saja sambil berharap tidak ada yang ikut menambahkan, “Sekalian yang kemarin juga ya.”
Karena satu tag saja sudah cukup membuatku duduk tegak. Tidak perlu dibuat berseri.
Padahal, boleh jadi rekan-rekan lain tidak terlalu memperhatikan. Mungkin mereka sedang sibuk dengan pekerjaan sendiri. Mungkin sedang makan. Mungkin juga bersyukur karena kali ini bukan nama mereka.
Aku memahami perasaan yang terakhir.
Kadang yang Bikin Ramai Justru Kepalaku
Setelah pesan dibaca sampai selesai, sering kali urusannya sederhana. Ada yang membutuhkan dokumen, memastikan informasi, atau meminta bantuan yang memang menjadi bagianku.
Sesekali bahkan hanya ucapan terima kasih.
Aku yang sudah menyiapkan penjelasan panjang akhirnya cukup membalas, “Sama-sama, Pak.”
Rasanya seperti datang membawa payung besar, ternyata cuma ada orang menyiram tanaman.
Dari situ aku mulai menyadari bahwa tidak semua panggilan berarti ada kesalahan. Kadang namaku disebut karena orang lain tahu aku bisa membantu.
Meski begitu, aku tetap menyukai pesan yang langsung menjelaskan keperluannya. “Hilgo, boleh kirim file kemarin?” terasa jauh lebih ramah bagi pikiranku dibanding namaku yang dibiarkan sendirian di layar.
Kalau memanggil rekan kerja, aku juga berusaha begitu. Kasihan kalau dia sedang menikmati gorengan.
Jadi, Apakah Ini Cinta?
Sejauh ini, aku belum berani menyebutnya cinta.
Memang ada tanda-tandanya: cepat membalas, memperhatikan setiap kata, dan sulit bersikap santai ketika namanya muncul di layar.
Tetapi aku juga tidak menunggu atasan mengirim pesan, “Sudah makan?”
Aku lebih menyukai, “Sudah cukup, lanjut besok saja.”
Kalimat itu punya kehangatan tersendiri.
Sekarang, setiap namaku di-tag, aku mencoba membaca pesannya sampai selesai sebelum membayangkan macam-macam. Kalau belum jelas, tinggal bertanya. Kalau ada yang perlu diperbaiki, ya dikerjakan.
Latihannya masih berlangsung. Jantungku kadang tetap lebih cepat merespons daripada tanganku.
Namun, setidaknya aku mulai belajar tenang.
Kecuali pesan lanjutannya berbunyi, “Bisa telepon sebentar?”
Sebentar, Pak. Gorengannya saya taruh dulu.
