Konten dari Pengguna

Gaji Berkecukupan In This Economy?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari HILGO HIDAYATUL ULYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cuitan kisah kasih dari mahasiswa sekaligus karyawan swasta dengan gaji yang berkecukupan (cukup untuk dua hari kedepan)

Gambar ilustrasi yang di buat dengan chatgpt
zoom-in-whitePerbesar
Gambar ilustrasi yang di buat dengan chatgpt

Dulu, saya senang mendengar kata “naik”. Naik kelas, naik gaji, naik jabatan. Kesannya selalu ada sesuatu yang patut dirayakan. Sekarang, setiap mendengar kata itu, saya ingin meminta penjelasan terlebih dahulu. Naik gimana? Siapa yang naik? Naik apaan? Apa-apa an?!

Sebab, dalam bayangan hidup yang saya susun, pendapatan seharusnya naik duluan. Kenyataannya, harga kebutuhan kadang lebih bersemangat mengejar masa depan. Saya masih menyusun rencana lima tahun, tapi kesusul sama harga bahan pokok yang "wisuda duluan".

Bayangkan adegan sederhana: saya berangkat membeli kebutuhan dapur dengan uang yang sudah dihitung. Daftarnya pendek. Kepercayaan diri masih utuh. Lalu, satu per satu harga disebutkan, dan mendadak saya merasa perlu mengadakan perundingan dengan isi dompet "sanggup ga? kalo aku sih engga".

Muncul keberanian dari pria introvert yang super ganteng namun budget Dompet-nya engga “Kalau yang ini dikurangi sedikit, bisa, Bu?”

Sebuah kalimat sopan yang terjemahan bebasnya adalah: saya ingin tetap makan enak, tetapi anggaran sedang minta pengertian.

Cabai, misalnya. Saat harganya terasa mahal, saya jadi ingin memperlakukannya dengan penuh hormat. Diambil hati-hati, dihitung, lalu dipertimbangkan masa depannya. Satu masuk sambal, satu disimpan. Saya baru sadar kalau cabai sekarang lebih pedas dari biasanya. buktinya lidah, mulut, dompet, isi hati, isi kepala semua ikut kepedesan.

Pulang belanja, kantong terasa ringan. Seharusnya itu kabar baik untuk tangan. Sayangnya, saya tahu persis mengapa ringan: beberapa barang sudah dicoret dari daftar. Efisiensi berhasil. Rencana menu sedang berkabung.

Sebagai karyawan swasta bergaji Rp3 jutaan yang masih kuliah dan ngekos, saya terbiasa membagi uang untuk banyak keperluan. Ada kos, kebutuhan kuliah, makan, transportasi, dan kuota. Semua punya alasan kuat untuk didahulukan. Saya yang menggaji mereka, saya juga yang kebagian sisanya.

Kadang saya membuka kalkulator berulang kali untuk memastikan hasilnya. Siapa tahu percobaan kedua lebih berpihak kepada saya. Ternyata kalkulator sangat profesional. Tidak bisa dibujuk dengan kondisi pribadi.

Lalu, ada pembicaraan tentang pajak. Untuk urusan ini, saya perlu mengerem sebentar. Penjelasan DJP tentang kebijakan PPN 2025 membedakan perlakuan barang mewah dan nonmewah; kenaikannya tidak bisa disamaratakan ke semua belanja. Rupanya, mengeluh pun perlu membaca sampai selesai.

Tetapi saya mengerti mengapa kata “naik” gampang membuat orang waswas. Apalagi kalau ditemani istilah “penyesuaian”. Kata itu terdengar halus sekali. Sopan, rapi, seperti datang memakai kemeja. Sementara saya di kamar kos langsung membuka catatan pengeluaran sambil menghela napas.

Dari situlah keluhan “semuanya aja naik” terasa akrab. Namanya juga orang sedang pening, kalimatnya bisa lebih luas daripada persoalannya. Sampai tekanan darah rasanya ingin ikut masuk rombongan. Saya sendiri lebih berharap yang bertambah adalah kesabaran, supaya tidak berdebat dengan label harga.

Lalu muncul saran, “Coba lebih hemat.”

Baik. Saya periksa lagi pengeluaran. Jajan bisa dikurangi. Belanja yang belum perlu bisa ditunda. Namun, biaya makan tetap datang setiap hari. Perut tidak tertarik membaca alasan bahwa minggu ini sedang ada pengeluaran lain. Jadwal kerjanya disiplin: pagi, siang, malam.

Saran mencari penghasilan tambahan juga terdengar menarik. Hanya saja, setelah pekerjaan, kuliah, dan tugas, saya perlu mencari tempat untuk menyelipkannya. Kalau waktu tidur bisa diajak rapat, mungkin ia sudah lebih dulu mengajukan keberatan.

Menurut saya, bagian paling melelahkan dari biaya hidup yang terasa berat adalah banyaknya keputusan kecil yang ikut menyusul. Mau membeli lauk harus menghitung. Mau mengganti barang yang rusak harus menimbang. Mau beristirahat sebentar malah kepikiran pekerjaan tambahan. Kepala akhirnya lebih sibuk daripada kalender.

Saya juga tidak ingin menjadikan pedagang sebagai sasaran kekesalan. Mereka punya kebutuhan dan pengeluaran sendiri. Rasanya aneh kalau dua orang yang sama-sama sedang berusaha bertahan justru saling memarahi di depan tumpukan sayur.

Yang saya harapkan sebenarnya sederhana: kebutuhan sehari-hari lebih terjangkau, penghasilan punya kesempatan bertumbuh, dan uang yang dibayarkan kepada negara terasa manfaatnya dalam layanan yang baik. Supaya bekerja dan belajar masih menyisakan ruang untuk menikmati hidup, bertemu teman, dan sesekali makan tanpa sibuk berhitung.

Saya tetap ingin naik kelas dalam hidup. Semoga suatu hari kata “naik” datang membawa kabar tentang gaji, tabungan, atau kesempatan yang lebih baik. Biar sekali-sekali saya menyambutnya tanpa harus mengecek sisa saldo.

Untuk sementara, setelah semua hitung-hitungan selesai, saya memilih naik kasur. Setidaknya, kenaikan yang satu ini masih bisa saya usahakan sendiri.