Niat Beli Sabun, Pulang Bawa Setengah Minimarket

Saya, Hilgo Hidayatul Ulya, merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari HILGO HIDAYATUL ULYA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perjuangan mempertahankan daftar belanja saat berhadapan dengan rak camilan dan label promo.

Saya curiga salah satu kalimat paling optimistis dalam kehidupan sehari-hari adalah, “Ke minimarket sebentar. Cuma beli sabun.”
Dengarnya sederhana. Tujuannya jelas. Bahkan, secara teori, pekerjaan ini bisa diselesaikan tanpa keranjang. Ambil sabun, bayar, pulang. Sebuah rencana yang indah, sebelum bertemu rak camilan.
Bayangkan saya mampir setelah seharian sibuk. Sabun sudah masuk keranjang. Seharusnya perjalanan bisa langsung dilanjutkan ke kasir. Namun, tiba-tiba muncul satu kata yang sangat berbakat memperpanjang urusan: “sekalian”.
Sekalian beli minuman untuk di kos. Sekalian ambil biskuit buat menemani tugas kuliah. Sekalian beli mi instan untuk persediaan. Lalu, sekalian cokelat karena sudah capek bekerja. Dalam beberapa menit, kebutuhan mandi berhasil berkembang menjadi program kesejahteraan pribadi.
Lucunya, setiap barang punya pembelaan yang terdengar masuk akal. Biskuit untuk teman belajar. Kopi untuk menjaga semangat. Camilan untuk persediaan kalau ada tamu. Padahal, tamu yang paling mungkin datang malam itu adalah rasa lapar saya sendiri.
Setelah itu, muncul label promo. Saya membacanya dengan keseriusan yang kadang sulit saya hadirkan ketika membaca materi kuliah. Mata langsung teliti, otak mendadak menghitung, dan tangan sudah bersiap mengambil barang.
Tawaran beli dua lebih murah mulai terlihat menarik. Bonus untuk tambahan belanja ikut masuk pertimbangan. Barang yang lima menit lalu tidak ada dalam rencana sekarang terasa seperti kesempatan yang sayang dilewatkan. Saya bahkan mulai bangga karena merasa sedang berhemat.
Di sinilah kemampuan berdebat dengan diri sendiri mencapai puncaknya. “Nanti juga kepakai.” “Mumpung lagi murah.” “Daripada besok balik lagi.” Kalau kalimat pembenaran bisa ditukar poin, mungkin belanja saya sudah gratis.
Sementara itu, barang terus bertambah satu per satu. Masing-masing terlihat kecil dan tidak terlalu mengancam. Masalahnya, di kasir mereka bersatu. Solidaritas antarcamilan ternyata kuat sekali ketika harus mengurangi saldo rekening.
Bayangkan pula saat petugas kasir menawarkan barang tambahan. Saya sudah menyiapkan jawaban, “Tidak, terima kasih.” Tetapi mata sempat melirik produknya. Tiba-tiba, saya merasa perlu mendengar penjelasannya sampai selesai. Prinsip hidup yang tadi kokoh mulai meminta waktu untuk berpikir.
Struk akhirnya keluar. Panjangnya membuat saya ingin mengecek apakah tadi sekalian membiayai konsumsi satu kelas. Padahal, misi awal cuma membeli sabun. Sabunnya tetap terbeli, lengkap dengan rombongan pengantar.
Sesampainya di kos, semua barang itu bisa disusun di meja. Saya membayangkan proses pemeriksaannya: ini perlu, yang itu lumayan perlu, sementara yang sebelah sana... nanti kita cari kegunaannya. Rupanya, keputusan sudah dibuat lebih dulu. Alasannya menyusul dalam perjalanan.
Menurut saya, kelucuan belanja semacam ini terletak pada cara kita menjelaskan keinginan sendiri. Kita tahu sedang ingin camilan, tetapi rasanya lebih nyaman menyebutnya “stok”. Ingin minuman enak, lalu memberinya jabatan sebagai “penyemangat kerja”. Keranjang belanja berubah menjadi tempat berkumpulnya kebutuhan dengan nama yang sangat kreatif.
Saya bisa memahami keinginan itu. Ketika hari sudah penuh pekerjaan dan urusan kuliah, membeli sesuatu yang disukai terasa menyenangkan. Ada kepuasan kecil saat memilih rasa minuman atau camilan kesukaan. Untuk beberapa menit, kita cukup memutuskan mau rasa cokelat atau keju, setelah seharian memikirkan hal yang lebih rumit.
Namun, saya juga ingin jujur kepada diri sendiri. Kalau memang ingin membeli camilan, saya bisa mengakuinya sebagai keinginan. Tidak semuanya harus diberi alasan seolah-olah keadaan darurat. Persediaan biskuit menipis masih bisa dibicarakan tanpa membentuk tim penanggulangan krisis.
Mungkin latihan sederhananya adalah berhenti sebentar sebelum membayar. Melihat isi keranjang, mengingat tujuan awal, lalu memutuskan barang mana yang benar-benar ingin dibawa pulang. Sesekali menaruh kembali barang ke rak juga tidak memalukan. Tidak ada medali yang dibatalkan karena kita mengurungkan pembelian keripik.
Saya tetap ingin menikmati belanja kecil tanpa terlalu keras menghakimi diri sendiri. Hanya saja, saya berharap kata “sekalian” bisa mendapat pengawasan lebih ketat. Sebab, satu sabun mungkin tidak membuat anggaran berantakan. Rombongan “sekalian” di belakangnya yang perlu diajak rapat.
Lain kali masuk minimarket, barangkali saya perlu membawa dua daftar: barang yang mau dibeli dan alasan yang tidak boleh dipercaya. Terutama alasan paling meyakinkan sepanjang masa: “Tenang, ini terakhir.”
