Kumparan Logo
Konten Media Partner

Anak di Pontianak yang Disiksa Ibu Kandung Fisiknya Seperti Busung Lapar

HiPontianakverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi anak sakit. Foto: Thinkstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak sakit. Foto: Thinkstock

Hi!Pontianak - Seorang anak laki-laki berusia 6 tahun di Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi korban penganiayaan yang dilakukan ibu kandung dan ayah tirinya. Menurut ayah korban, anaknya terlihat kelaparan dan fisiknya seperti busung lapar.

Menurut penuturan dari ayah kandung korban, HS (34 tahun), ia mengetahui anaknya itu menjadi korban penganiayaan yang dilakukan mantan istrinya, pada 21 Agustus 2021. "Saat itu, anggota (polisi) menanyakan, bahwa apakah benar ini ayah dari D (putranya), benar, dan mereka meminta tolong ke kantor, ada yang mau dibicarakan, dan sesampainya di Polsek, anggota menyampaikan bahwa anak saya itu di sekap di dalam WC,” jelasnya, Rabu, 25 Agustus 2021.

Menurut HS, korban kerap dihukum dengan disekap di kamar mandi bila melakukan kesalahan. Bahkan, korban pernah diselamkan di bak mandi, dan diikat lalu digantung, dengan posisi kaki di atas dan kepala di bawah. Hal tersebut diceritakan HS atas aduan anak laki-lakinya tersebut.

kumparan post embed

Menurut HS, ia sudah bercerai dengan mantan istrinya itu, dan sudah tiga tahun tidak bertemu dengan ketiga anaknya, karena ketiga anaknya dibawa oleh istri berpindah-pindah. Ia pun tak bisa berkomunikasi dengan mantan istri itu.

Ia menambahkan, polisi mengetahui peristiwa itu dari informasi yang disampaikan masyarakat, bahwa di rumah itu terjadi KDRT dengan korban seorang anak berusia 6 tahun.

''Kemarin pada saat saya bawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, kondisi anak saya ini sangat lemah, kurus, terlihat kurang gizi juga, seperti anak busung lapar. Dan pada 21 Agustus itu, saat diamankan, anggota (polisi) cerita, anak saya begitu kelaparan. Ketika diberi roti 5 bungkus, itu langsung habis,” paparnya.

Menurit HS, anak tersebut mengatakan kepada dirinya, bahwa korban tidak ingin kembali lagi ke rumah ibunya, karena selama bersama ini ia kerap mendapat hukuman.

"Anak saya cerita, dia sering dipukul, pernah di suruh makan cabai, pernah juga kepalanya dibenamkan (diselamkan) ke bak air, lalu digantung, kakinya di atas kepalnya di bawah,” katanya.

Ayah korban telah membuat laporan atas dugaan KDRT yang dilakukan terhadap anaknya ke Polresta Pontianak. HS berharap aparat penegak hukum dapat menegakkan hukum yang berlaku dengan seadil-adilnya, dan memberikan hukuman yang setimpal kepada terlapor.

“Saya harap mereka dapat dihukum sesuai hukum yang ada, jangankanlah kita manusia, binatang saja sayang sama anaknya,” ucapnya.