Kumparan Logo
Konten Media Partner

Lemang, Sajian Khas Pontianak yang Diburu Warga untuk Berbuka Puasa

HiPontianakverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lemang, makanan khas Pontianak yang kerap muncul di bulan Ramadan sebagai takjil. Foto: Teri Purna
zoom-in-whitePerbesar
Lemang, makanan khas Pontianak yang kerap muncul di bulan Ramadan sebagai takjil. Foto: Teri Purna

Hi!Pontianak - Berburu makanan untuk berbuka puasa adalah suatu tradisi yang dilakukan oleh umat muslim saat di bulan Ramadan. Berbagai macam makanan dari makanan tradisional, hingga modern, hadir di setiap tatanan jajanan pasar. Salah satunya adalah lemang.

Lemang merupakan salah satu makanan khas tradisional di Kota Pontianak yang kerap muncul hanya di bulan Ramadan. Lemang sendiri merupakan kombinasi antara ketan putih yang siram dengan santan kelapa, dan dicampur dengan kacang merah. Campuran itu dimasukkan ke bambu yang sudah dipotong, dan dibakar hingga matang.

Lemang berbahan dasar ketan dimasak dengan santan, menghasilkan rasa yang gurih dan lezat. Foto: Teri Purna

Makanan tradisional suku Dayak dan Melayu ini, masih menjadi makanan favorit bagi masyarakat Pontianak saat Ramadan. Cara menyantapnya pun beraneka ragam, mulai dari dimakan dengan kuah rendang, disantap dengan tapai hitam, atau dibaur dengan selai manis. Cita rasa dari Lemang adalah manis dan gurih, karena dilengkapi dengan kacang merah.

Proses memasang lemang tidak mudah, membutuhkan waktu setidaknya 12 jam sejak proses pencucian ketan hingga lemang siap disajikan. Foto: Teri Purna

Yang menjadi menarik dari lemang ini, yakni proses pembuatannya yang cukup lama, bisa seharian penuh. Menurut Ali, seorang pembuat lemang, proses pembuatan lemang sudah dilakukan sejak malam, dengan membersihkan beras ketan, membuat santan, lemang diproduksi mulai dari malam hari, dimulai dengan membersihkan beras ketan, membuat santan, memotong serta membersihkan bambu yang akan digunakan untuk proses pembakaran. Proses tersebut dilakukan pada malam hari.

Setelah bambu kering, bambu tersebut diisi dengan daun pisang, sesuai dengan bentuk, untuk diisi bahan-bahan dari lemang tersebut. Pada subuh menjelang pagi, lemang siap dibakar di atas bara api. Pembakaran tersebut memakan waktu kurang lebih selama 5 jam, hingga menuju siang hari.

Proses pembuatannya yang tidak mudah, mengakibatkan tak banyak produsen yang membuat lemang. Foto: Teri Purna

Usaha turun temurun ini selalu dilakukan Ali setiap bulan Ramadan tiba. Ali yang bekerja dibantu oleh anak-anaknya ini, mengaku kini ia kesulitan mencari bambu untuk proses membakar lemang, karena bambu pembakaran tersebut digunakan hanya satu kali pembakaran dan langsung dibuang.

Ali mengatakan sehari biasanya memproduksi lemang berkisar 50 hingga 100 kilogram beras ketan. Harga dari sebatang bambu lemang pun beragam, tergantung dari ukuran bambu lemang yang diproduksi, mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 60 ribu rupiah. Namun, di pasaran, biasanya lemang yang sudah dipotong sepanjang 10 sentimeter, dibandrol dengan harga Rp 10 ribu.

Makanan ini ternyata menjadi makanan incaran bagi masyarakat Pontianak untuk santapan berbuka puasa. Selain harganya yang murah, cita rasa dari lemang yang begitu nikmat dan gurih, bisa disantap dengan saus apapun, sesuai dengan selera masing-masing setiap orang. (hp8)