Konten dari Pengguna

Satelit NEO-1 Buatan Indonesia Ditargetkan Meluncur Januari 2027

How To Tekno

How To Tekno

How to tekno

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari How To Tekno tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi satelit NEO-1. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi satelit NEO-1. Foto: Unsplash.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menargetkan peluncuran satelit Nusantara Earth Observation (NEO-1) pada Januari 2027 sebagai satelit observasi bumi pertama yang dikembangkan melalui penguasaan teknologi satelit nasional.

Satelit ini menjadi tonggak penting bagi Indonesia dalam memperkuat kemandirian teknologi antariksa dan mengurangi ketergantungan terhadap teknologi satelit dari luar negeri.

Target tersebut disampaikan Kepala BRIN, Arif Satria, pada peringatan 50 Tahun Satelit Indonesia di Jakarta. Satelit NEO-1 merupakan hasil kerja sama dengan Indian Space Research Organisation yang telah berlangsung di Biak, Papua. Simak informasi selengkapnya berikut ini!

Satelit NEO-1 Bagian dari Konstelasi Nusantara Earth Observation

Satelit NEO-1. Foto: BRIN.

Mengutip dari laman resmi BRIN, satelit NEO-1 merupakan bagian dari konstelasi satelit pertama bernama Nusantara Earth Observation yang terdiri dari dua satelit resolusi sangat tinggi, empat satelit resolusi tinggi, serta dua satelit Synthetic Aperture Radar. Satelit ini menjadi seri pertama yang beresolusi tinggi dan tergolong satelit generasi keempat atau dikenal dengan nama A4.

Spesifikasi Satelit NEO-1

Satelit NEO-1 membawa misi utama observasi bumi dengan sejumlah muatan sebagai berikut:

  • Kamera multispektral resolusi tinggi 5 meter dengan lebar sapuan 33 kilometer serta resolusi menengah 16 meter dengan lebar sapuan 230 kilometer.

  • Automatic Identification System Receiver untuk mendukung misi pemantauan maritim serta pengawasan lalu lintas dan aktivitas kapal di wilayah perairan.

  • Magnetometer untuk mengukur medan magnet bumi, yang datanya digunakan periset memantau tanda awal kejadian gempa melalui perubahan medan magnet.

  • Kamera inframerah milik Hokkaido University, Jepang, yang datanya digunakan untuk kepentingan riset.

  • Muatan telekomunikasi low-datarate dari perusahaan startup Indonesia, PT Netra.

Satelit ini diperkirakan mengorbit selama lima tahun dan dirancang untuk mendukung penyediaan data citra satelit nasional yang dimanfaatkan dalam pemetaan wilayah, pemantauan pertanian, kehutanan, kelautan, mitigasi bencana, dan pemantauan lingkungan.

Kemandirian Teknologi Antariksa Indonesia

Ilustrasi satelit NEO-1. Foto: Unsplash.

Dikutip dari laman resmi BRIN, Arif Satria menegaskan bahwa kemandirian satelit tidak lagi dimaknai sekadar memiliki satelit, melainkan kemampuan bangsa merancang, membangun, mengintegrasikan, menguji, meluncurkan, serta mengoperasikan satelit secara mandiri. Kemampuan tersebut diharapkan memberikan manfaat ekonomi dan memperkuat kedaulatan digital Indonesia.

Indonesia memiliki modal strategis berupa letak geografis di kawasan ekuator yang memberikan efisiensi tinggi untuk peluncuran satelit.

Keunggulan tersebut perlu ditransformasikan menjadi keunggulan teknologi, ekonomi, dan geopolitik melalui penguatan riset, inovasi, sumber daya manusia, serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Selain pengembangan satelit NEO-1, Indonesia juga berkolaborasi dengan India untuk membangun bandar antariksa. Salah satu calon lokasi yang dipertimbangkan untuk fasilitas tersebut adalah Biak, Papua.

Rencana pembangunan bandar antariksa ini turut dibahas dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi di Istana Kepresidenan. Kedua kepala negara sepakat menindaklanjuti kerja sama proyek tersebut agar Indonesia dapat meluncurkan satelit sendiri.

(FHK)

Baca juga: 7 Kulkas Mini Terbaik 2026 untuk Anak Kos, Kantor, hingga Kamar Pribadi