Apakah Perempuan Memberi Dukungan pada Perempuan Lain dalam Karya Sastra?

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari humairoh azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Isu tentang perempuan merupakan salah satu topik yang telah dan terus banyak diperbincangkan oleh banyak kalangan. Pembicaraan mengenai isu tersebut telah tersebar melalui banyak media, seperti melalui media sastra. Isu tentang perempuan pun sudah merambah dengan banyak pokok bahasan. Salah satu pokok bahasan dari isu tersebut adalah mengenai dukungan perempuan terhadap perempuan lain.
Dukungan perempuan terhadap perempuan lain dianggap penting untuk dibahas karena dapat membantu memperkuat pergerakan emansipasi perempuan. Namun, hal ini tentu tidak mudah untuk dicapai, terutama pada masa awal pergerakan emansipasi perempuan. Dukungan perempuan terhadap perempuan lain dalam menuntut kesetaraan hak, masih sangat sulit untuk didapatkan. Hal ini telah direfleksikan pula di dalam beberapa karya sastra, salah satunya adalah pada novel "Belenggu" karya Armijn Pane.
Novel ini menceritakan tentang seorang dokter yang jenuh akan sikap istrinya yang dia rasa terlalu dingin dan tidak mencerminkan kelembutan seperti perempuan yang seharusnya. Sang dokter menyalahkan sikap istrinya padahal sedari dulu istrinya memang terkenal sebagai perempuan yang berjiwa bebas dan sulit ditundukkan. Karena hal ini, sang dokter akhirnya berselingkuh dengan wanita lain yang menurutnya memiliki cerminan sebagaimana perempuan yang seharusnya.
Terlepas dari alur cerita mengenai perselingkuhan yang diangkat, kita dapat pula melihat bentuk-bentuk interaksi antara setiap perempuan di dalam novel ini. Interaksi yang pada kadarnya dapat dikatakan tidak mencerminkan bentuk dukungan perempuan terhadap perempuan lainnya. Hal ini dapat terlihat dari cara para perempuan lain menyikapi sikap Tini, istri sang dokter.
Sikap Tini diapandang sebagai sesuatu yang tidak sebagaimana semestinya dan dianggap tidak baik untuk dilakukan oleh seorang perempuan. Beberapa kali Tini dinasehati agar berubah, ia tidak mendapat dukungan yang baik dari perempuan lain di sekitarnya. Hal ini dapat terlihat jelas dalam pembicaraan antara Tini dengan seorang nyonya.
"Memang Tini, kita berlainan paham........"
"Seperti langit dan bumi, Ibu!"
"Aku bukan terlalu kolot."
Tini tertawa: "Saya yang terlalu modern!"
"Memang, Tini!" Kemudia disambungnya dengan sungguh-sungguh: "Kalau di mata kami, tiada baik kalau seorang isteri banyak-banyak keluar malam, tidak ditemani suaminya!" Matanya memandang muka Tini dengan tajam.
Tini melompat berdiri sebagai disengat kalajengking: "Bukankah lakiku juga pergi sendirian? Mengapa aku tiada boleh? Apakah bedanya?" Ketika Nyonya Rusdio hendak menyela, katanya: "Dengarlah dahulu. Ibu membedakan perempuan dan laki-laki. Itulah pokok perbedaan paham kaum Ibu dan kami perempuan sekarang."
Dalam percakapan antara Tini dan Nyonya Rusdio dalam novel itu menunjukkan ketiadaan dukungan perempuan terhadap perempuan lain. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor penyebab. Jika dilihat pada konteks tahun terbitan novel tersebut, jelas apa yang dilakukan Tini benar-benar dianggap keluar dari batas-batas norma masyarakat. Hal ini menyebabkan apa yang Tini lakukan dianggap tidak patut, sehingga ia tidak mendapat dukungan atas pemikiran-pemikirannya.
Selain itu, ketiadaan dukungan juga terjadi karena perbedaan umur dan pengalaman yang cukup jauh antara Tini dan Nyonya Rusdio. Hal ini membuat Nyonya Rusdio tidak bisa menangkap jalan pikir Tini dengan sempurna. Nyonya Rusdio juga merasa bahwa sindiran yang ia berikan bukanlah untuk memojokkan Tini, melainkan untuk menasehatinya. Namun, dengan usia Tini yang lebih muda dan pemikiran yang lebih bebas, ia merasa bahwa Nyonya Rudio telah turut campur terlalu jauh dan terlalu membela suaminya.
Setidaknya itulah sedikit mengenai ketiadaan dukungan perempuan terhadap perempuan lainnya di dalam novel "Belenggu". Contoh ini tentu hanyalah satu dari banyaknya karya sastra yang mungkin juga menyinggung hal serupa. Terlepas dari hal tersebut, mungkin terdapat novel lainnya yang justru menggaungkan bagaimana bentuk-bentuk dukungan perempuan terhadap perempuan lain. Yang mana tentu saja setiap karya sastra memiliki caranya tersendiri dalam menyinggung suatu isu.
