Kritik Sosial dan Refleksi Kesalehan Ritual Lewat Pementasan Robohnya Surau Kami

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari humairoh azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, [13 Mei 2026] - “Bagaimana ini? Bukankah kita disuruh-Nya taat beribadah, teguh beriman? Dan itu semua telah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kita kini dimasukan ke dalam neraka.”
Demikian sepenggal kegelisahan yang hadir dalam pementasan teater Robohnya Surau Kami, adaptasi dari cerpen monumental karya A. A. Navis. Naskah yang disadur oleh Hermana HMT ini dipentaskan dalam rangkaian acara Pestarama #10+1. pementasan ini menghadirkan refleksi tajam mengenai hubungan manusia dengan agama, kemiskinan, tanggung jawab sosial, dan makna pengabdian dalam kehidupan.
Berlatar di sebuah surau tua yang nyaris roboh, kisah ini berpusat pada sosok Kakek penjaga surau yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri untuk beribadah. Dalam kesederhanaannya, ia percaya bahwa seluruh hidupnya telah dipersembahkan untuk Tuhan. Namun, sebuah kisah tentang Haji Saleh yang dihukum di akhirat mengguncang keyakinannya dan memunculkan pertanyaan besar: apakah ibadah semata cukup jika manusia mengabaikan penderitaan dan kehidupan di sekitarnya?
Melalui dialog-dialog yang sederhana namun penuh ironi, Robohnya Surau Kami menghadirkan kritik sosial yang tetap relevan hingga hari ini. pementasan ini menyoroti bagaimana manusia sering kali terjebak dalam bentuk kesalehan yang hanya berpusat pada diri sendiri, sementara realitas kemiskinan, ketidakadilan, dan tanggung jawab sosial dibiarkan begitu saja.
Tokoh-tokoh dalam pementasan menjadi representasi berbagai sikap manusia dalam menjalani kehidupan. Kakek menghadirkan sosok pengabdi yang tulus namun terasing dari realitas dunia. Haji Saleh menghadirkan kegelisahan manusia yang merasa telah berbuat baik, tetapi dipaksa mempertanyakan kembali arti pengabdian yang sesungguhnya. Sementara surau yang perlahan roboh menjadi simbol runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan dan kepedulian sosial.
Secara artistik, pementasan menghadirkan suasana surau tua yang sunyi dan rapuh melalui tata panggung sederhana, permainan cahaya redup, suara azan dan lantunan doa, serta komposisi gerak para pemain yang membangun atmosfer kontemplatif. Kesunyian dalam pementasan menjadi ruang bagi penonton untuk mendengar kegelisahan para tokohnya sekaligus kegelisahan dalam dirinya sendiri.
Pementasan ini tidak hanya menghadirkan cerita tentang agama, tetapi juga tentang manusia yang terus mencari makna hidup di tengah kenyataan hidup yang keras. Pertanyaan-pertanyaan tentang keikhlasan, tanggung jawab, kemiskinan, dan hubungan manusia dengan sesamanya menjadi benang merah yang mengikat keseluruhan pementasan.
Sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang penting, Robohnya Surau Kami memiliki daya hidup yang kuat. Kritik sosial dan nilai kemanusiaan yang terkandung di dalamnya menjadikan karya ini relevan untuk terus dibicarakan dalam berbagai konteks kehidupan masyarakat hari ini.
Melalui pementasan ini, para pemain dan tim produksi berupaya menghadirkan teater sebagai ruang refleksi bersama. Teater tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga medium untuk mempertanyakan kembali bagaimana manusia memaknai ibadah, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitarnya.
Pestarama PBSI UIN Jakarta
Pementasan Robohnya Surau Kami dipersembahkan dalam rangkaian kegiatan Pestarama PBSI UIN Jakarta, sebuah ruang apresiasi sastra dan drama yang menjadi wadah pertemuan berbagai ekspresi budaya, sastra, dan pementasan. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa PBSI untuk menghadirkan karya yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memiliki nilai reflektif dan edukatif.
Melalui Pestarama, para peserta diajak membangun ruang dialog kreatif yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan keberanian berekspresi dalam medium seni pementasan. Semangat kolektif dalam proses produksi menjadi bagian penting dari perjalanan pementasan ini, mulai dari eksplorasi naskah, latihan keaktoran, penggarapan artistik yang kental dengan nuansa lokalitas, hingga penciptaan atmosfer panggung yang mendukung perdebatan batin antara kelalaian duniawi dan kesalehan ritual.
Kehadiran Robohnya Surau Kami dalam Pestarama PBSI UIN Jakarta diharapkan mampu menjadi ruang perenungan bersama mengenai hakikat keimanan, tanggung jawab sosial, dan bahaya dari keangkuhan spiritual di tengah kehidupan modern yang semakin kompleks. Kisah ini merupakan sebuah tamparan halus mengenai bagaimana manusia sering kali keliru dalam menerjemahkan ibadah dan hubungannya dengan sesama.
Melalui pementasan ini, para pemain dan tim produksi berupaya menghadirkan pengalaman teater yang tidak hanya menjadi tontonan yang menghibur, tetapi juga ruang kontemplasi yang menggugah kesadaran. Teater dihadirkan sebagai medium dialog antara manusia dengan agamanya, dengan realitas kemiskinan di sekitarnya, dan dengan ego di dalam dirinya sendiri.
Melalui pementasan ini pula, kami mengajak rekan-rekan media, penulis, pegiat seni, dan masyarakat umum untuk turut menyebarluaskan pementasan ini sebagai bagian dari upaya merawat ruang-ruang kebudayaan dan menjaga nalar kritis-reflektif di tengah masyarakat hari ini.
