Sumur Tanpa Dasar: Potret Manusia yang Tenggelam dalam Hasrat

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari humairoh azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jakarta, [12 Mei 2026] - “Kata orang saya bahagia, tapi saya tidak tahu. Saya kira tidak seorangpun yang tahu persis bahwa dirinya bahagia. Dan saya kira juga mereka umumnya tidak mau tahu. Tapi, saya ingin tahu. Ini celakanya!”
Demikian sepenggal kegelisahan yang hadir dalam pementasan teater Sumur Tanpa Dasar, karya Arifin C. Noer yang menghadirkan refleksi tentang manusia, kekuasaan, kemiskinan, keserakahan, dan kehampaan hidup.
Pementasan ini membawa penonton masuk ke dalam dunia yang penuh absurditas dan pergulatan batin manusia. Melalui tokoh-tokohnya, Sumur Tanpa Dasar menghadirkan potret masyarakat yang hidup dalam tekanan kebutuhan, ambisi, dan ketakutan, namun perlahan kehilangan arah serta makna hidupnya sendiri.
Kisah dalam pementasan bergerak di antara kenyataan dan simbol-simbol kehidupan yang penuh kegelisahan. Sumur menjadi metafora utama dalam pementasan ini: sebuah ruang gelap tempat manusia terus berharap menemukan jawaban, kekayaan, keselamatan, atau kebahagiaan, tetapi justru semakin tenggelam dalam kehampaan.
Tokoh-tokoh yang hadir dalam pementasan menjadi gambaran berbagai sisi manusia. Ada mereka yang terus mengejar kekuasaan, ada yang bertahan hidup dalam kemiskinan, ada pula yang mencoba mempertahankan nurani di tengah dunia yang perlahan kehilangan kemanusiaannya. Pergulatan antar tokoh menghadirkan suasana getir, ironis, sekaligus reflektif.
Sebagaimana karya-karya lain dari Arifin C. Noer, pementasan ini memadukan kritik sosial dengan bahasa puitik yang kuat. Dialog-dialog yang tajam dan simbolik menghadirkan pertanyaan tentang apa yang sebenarnya dicari manusia dalam hidupnya, dan apakah semua pencarian itu benar-benar akan berakhir pada kebahagiaan.
Secara artistik, pementasan menghadirkan suasana muram dan penuh tekanan melalui tata cahaya yang kontras, permainan bunyi yang repetitif, serta komposisi gerak para pemain yang menggambarkan kegelisahan dan keterasingan manusia. Elemen-elemen panggung dibangun sederhana namun simbolik, menciptakan ruang yang terasa sempit, gelap, dan menyesakkan seperti sumur yang tak berujung.
Pementasan ini tidak hanya menjadi cerita tentang individu, tetapi juga tentang masyarakat yang hidup dalam lingkaran ketimpangan, kerakusan, dan ketidakpastian. Di tengah kehidupan modern yang semakin kompetitif, Sumur Tanpa Dasar mengajak penonton untuk mempertanyakan kembali arah hidup, nilai kemanusiaan, dan batas antara kebutuhan dengan keserakahan.
Sebagai salah satu karya penting dalam perkembangan teater modern Indonesia, Sumur Tanpa Dasar tetap relevan untuk dipentaskan hingga hari ini. Kritik sosial dan kegelisahan eksistensial yang dihadirkan dalam karya ini masih terasa dekat dengan realitas kehidupan masyarakat masa kini.
Melalui pementasan ini, para pemain dan tim produksi berupaya menghadirkan teater sebagai ruang refleksi dan renungan bersama. Teater dihadirkan bukan sekadar sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk membaca ulang kehidupan manusia yang terus berusaha mencari makna di tengah dunia yang penuh ketidakpastian.
Pestarama PBSI UIN Jakarta
Pementasan Sumur Tanpa Dasar dipersembahkan dalam rangkaian kegiatan Pestarama PBSI UIN Jakarta, sebuah ruang apresiasi sastra dan drama yang menjadi wadah pertemuan berbagai ekspresi budaya, sastra, dan pementasan. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi mahasiswa PBSI untuk menghadirkan karya yang tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memiliki nilai reflektif dan edukatif.
Melalui Pestarama, para peserta diajak membangun ruang dialog kreatif yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan keberanian berekspresi dalam medium seni pementasan. Semangat kolektif dalam proses produksi menjadi bagian penting dari perjalanan pementasan ini, mulai dari eksplorasi naskah yang penuh metafora, latihan keaktoran yang intens, penggarapan artistik, hingga penciptaan atmosfer panggung yang mendukung perjalanan eksistensial manusia mencari makna hidup.
Kehadiran Sumur Tanpa Dasar dalam Pestarama PBSI UIN Jakarta diharapkan mampu menjadi ruang perenungan bersama mengenai kegelisahan batin dan pencarian makna hidup yang tak pernah usai di tengah dunia modern yang sering kali terasa hampa dan absurd. Tokoh Jumena Martawangsa dihadirkan bukan sekadar sebagai karakter, melainkan cermin dari ketakutan, kesepian, dan tragedi manusia yang terjebak dalam dunia materialistis.
Melalui pementasan ini, para pemain dan tim produksi berupaya menghadirkan pengalaman teater yang tidak hanya menjadi tontonan visual, tetapi juga ruang kontemplasi yang mendalam. Teater dihadirkan sebagai medium dialog antara manusia dengan kegelapan di dalam dirinya sendiri, serta dengan realitas sosial di sekitarnya.
Melalui pementasan ini pula, kami mengajak rekan-rekan media, penulis, pegiat seni, dan masyarakat umum untuk turut menyebarluaskan pementasan ini sebagai bagian dari upaya merawat ruang-ruang kebudayaan dan refleksi di tengah arus zaman yang semakin kompleks.
